Rabu, 18 FEBRUARI 2026 • 16:14 WIB

Perusahaan Rusia Ubah Burung Merpati Jadi Drone Cyborg, Bisa Terbang Sesuai Perintah

Author

Perusahaan Rusia ubah burung merpati menjadi drone cyborg. (Dok. Neiry)

INDOZONE.ID - Sebuah perusahaan rintisan atau startup di Rusia mengembangkan teknologi yang mengubah burung merpati menjadi drone hidup berbasis implan saraf.

Proyek ini menggabungkan konsep cyborg, antarmuka otak-komputer, dan sistem kendali jarak jauh.

Hasilnya diklaim bisa membuat burung biasa bisa diarahkan seperti drone mekanis.

Perusahaan neuroteknologi bernama Neiry, berbasis di Moskow, mengklaim telah sukses melakukan uji terbang.

Mereka menanamkan elektroda di otak burung merpati, lalu menghubungkannya ke stimulator listrik kecil yang terpasang di kepala. 

Hasilnya burung bisa “diarahkan” saat terbang.

Bagaimana Burung Merpati Jadi Drone Cyborg?

Neiry pada dasarnya memperlakukan otak burung merpati sebagai sistem navigasi biologis.

Elektroda kecil dimasukkan melalui tengkorak, lalu dihubungkan ke perangkat stimulasi.

Perusahaan Rusia ubah burung merpati menjadi drone cyborg. (Dok. Neiry)

Baca juga: Bukan Sekadar Terowongan Cahaya, Penelitian Baru Ungkap Realita Pengalaman Jelang Kematian

Baca juga: Wahana Antariksa yang Pernah DIbuat Manusia: Dari yang Berawak hingga Robotik

Menurut perusahaan, sistem ini memberi “stimulasi ringan” ke area tertentu di otak sehingga burung merasakan “motivasi” untuk berbelok ke kiri atau kanan.

Secara visual, burung itu tampak terbang normal. Tidak ada gerakan kaku seperti robot.

Namun ketika sinyal dikirim, ia mengikuti jalur yang sudah diprogram, mirip drone DJI yang bergerak berdasarkan waypoint GPS.

Neiry menegaskan prosedurnya aman. Mereka menyebut risiko terhadap kelangsungan hidup burung rendah, dan saat tidak bertugas, hewan tersebut tetap menjalani rutinitas biasa.

Keunggulan Dibanding Drone Biasa

Berbeda dengan drone quadcopter yang baterainya cepat habis, burung merpati bisa terbang hingga 300 mil atau sekitar 483 kilometer per hari.

“Baterai”-nya, ya cuma makanan.

Burung merpati juga mampu menavigasi medan kompleks, masuk ke ruang sempit, dan tetap terbang dalam kondisi cuaca yang mungkin membuat drone plastik jatuh.

Secara biologis, mereka sudah dirancang untuk itu.

Perusahaan Rusia ubah burung merpati menjadi drone cyborg. (Dok. Neiry)

Teknologi Siluman dari Rusia

CEO Neiry, Alexander Panov, mengatakan kepada Bloomberg bahwa bio-drone ini cocok untuk “pengawasan, inspeksi infrastruktur atau lingkungan, dan mendukung operasi pencarian dan penyelamatan.”

James Giordano, profesor emeritus neurologi dari Universitas Georgetown, menyebut keunggulan taktisnya jelas.

“Lebih mungkin orang memperhatikan drone logam daripada satu lagi merpati di kabel listrik,” ujarnya dikutip dari ZMEScience.

Meski Neiry bersikeras proyeknya untuk penggunaan sipil, potensi penggunaan ganda sulit diabaikan.

Seekor burung yang membawa kamera, secara teori, bisa membawa sesuatu yang lebih berbahaya.

Neiry mengklaim sudah berkonsultasi dengan ahli bioetika internal dan tidak menemukan pelanggaran serius.

Mereka menyamakan prosedur ini dengan menunggang kuda, mengatakan implan hanya “sebagian membatasi kebebasan bertindak.”

Namun Nita Farahany, ahli bioetika dari Universitas Duke, punya pandangan berbeda.

“Setiap kali kita menggunakan implan saraf untuk mencoba mengendalikan dan mengatur spesies apa pun, rasanya menjijikkan,” katanya kepada Bloomberg.

Menurutnya, ada garis etis yang terlewati ketika hewan diperlakukan seperti produk, bukan makhluk hidup dengan kesadaran.

Ambisi Neiry ternyata lebih besar dari sekadar burung merpati.

Alexander Panov secara terbuka menyebut tujuan jangka panjangnya adalah menciptakan “Homo superior”, tahap berikutnya setelah Homo sapiens.

Perusahaan ini juga bekerja sama dengan NeuroFarming untuk memasang perangkat di otak sapi guna meningkatkan produksi susu. Program itu disebut sudah melibatkan 30 hingga 50 ekor sapi.

Mereka bahkan membayangkan penggunaan pada burung gagak untuk fasilitas pesisir atau albatros untuk pengawasan laut lepas.

Pendanaan sekitar 50 juta dolar AS telah dikumpulkan, termasuk dari National Technology Initiative Foundation yang terafiliasi dengan pemerintah Rusia.

Meski demikian, juru bicara perusahaan mengatakan kepada The Telegraph bahwa mereka berupaya semaksimal mungkin untuk memastikan bahwa bio-drone digunakan secara eksklusif.

“Untuk tujuan sipil, tanpa penggunaan tersembunyi atau sekunder,” katanya.

Garis Kabur antara Organisme dan Mesin

Sejarah mencatat manusia pernah menggunakan hewan untuk perang. CIA bahkan pernah bereksperimen dengan implan pada anjing saat Perang Dingin.

Namun, kemajuan antarmuka otak-komputer membuat proyek Rusia ini berada di level berbeda.

Menurut pernyataan resmi mereka, teknologi ini siap digunakan di sektor utilitas, logistik, pertanian, hingga tanggap darurat. Mereka juga berencana memperluas pasar ke Dubai dan India.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Zme Science

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU