INDOZONE.ID - Lo pernah nggak sih ngerasa dagu lo kurang tegas atau malah terlalu maju?
Tenang, ternyata keberadaan dagu itu sendiri adalah sebuah misteri evolusi yang baru aja dipecahkan.
Dalam studi terbaru yang dipublikasi di jurnal PLOS One, antropolog Noreen von Cramon-Taubadel dan timnya berargumen kalau dagu manusia kemungkinan besar berevolusi secara "tidak sengaja".
Basically, ini bukan hasil seleksi alam, melainkan byproduct dari perubahan struktur wajah kita.
Baca juga: Gerak Semu Tahunan Matahari: Fenomena Langit yang Diam-Diam Atur Musim di Bumi
Manusia Satu-Satunya Primata dengan Dagu Sejati
Fakta menarik: manusia adalah satu-satunya primata yang punya dagu sejati.
Bahkan nenek moyang evolusi kita kayak Neanderthal dan Denisovans, atau kerabat terdekat kita seperti kera besar, nggak punya tonjolan tulang di rahang bawah ini.
Keunikan ini bikin para ilmuwan selama ini bertanya-tanya: "Ada fungsi spesifik apa di balik dagu manusia?"
Apakah buat ngebantu ngomong, ngunyah, atau jadi canvas buat lesung pipi yang imut? Ternyata, jawabannya nggak seekstrim itu.
Bukan Adaptasi, Tapi "Spandrel"
Tim peneliti menyebut dagu sebagai "spandrel"—istilah dalam biologi evolusi yang artinya sifat yang muncul sebagai efek samping dari perubahan struktural lain, bukan hasil seleksi alam langsung.
Gini ceritanya: saat otak manusia purba berevolusi jadi lebih besar, bentuk tengkorak kita ikut berubah.
Di saat yang sama, wajah bagian bawah kita menyusut dan gigi-geligi kita juga mengecil.
Nah, dagu muncul sebagai konsekuensi geometris dari semua penyesuaian mikro itu.
Ibaratnya, ada ruang kosong yang tercipta di rahang karena wajah mengecil, dan tulang mengisi ruang itu—jadilah tonjolan yang kita kenal sebagai dagu.
Untuk menguji hipotesis ini, para peneliti memeriksa fitur-fitur spesifik dagu dan menemukan sedikit bukti kalau bentuknya dipilih secara langsung oleh alam.
Artinya, dagu nggak berevolusi buat nahan tekanan kunyahan atau fungsi khusus lainnya.
Baca juga: Kenapa Sapi Sering Menghadap Utara–Selatan saat Makan? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Ia cuma byproduct dari tengkorak kita yang "diperas dan dipelintir" oleh evolusi, sebuah tonjolan sisa yang bisa bikin kita keliatan aneh kalau kebanyakan atau kekurangan.
Jadi, kalau ada yang ngejek bentuk dagu lo, lo bisa balas: "Ini mah cuma kecelakaan evolusi, bro!"
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Vice.com