INDOZONE.ID - Bintang Methuselah, yang dikatalogkan sebagai HD 140283, dikenal sebagai salah satu bintang tertua di alam semesta.
Fenomena ini menjadi sorotan karena usianya yang diperkirakan hampir menyamai usia alam semesta itu sendiri, menimbulkan pertanyaan menarik bagi para ilmuwan kosmologi.
Baca juga: Fenomena 31/ATLAS, Objek Bintang Langka yang Memicu Spekulasi dan Ramalan Sejarah
Penemuan dan Pengukuran Usia Methuselah
Melansir dari laman NASA, tim astronom menggunakan Teleskop Luar Angkasa Hubble untuk meneliti Methuselah secara detail.
Bintang ini diyakini berusia sekitar 14,5 miliar tahun, dengan ketidakpastian kurang lebih 0,8 miliar tahun. Angka ini cukup mengejutkan karena sedikit lebih tua daripada usia alam semesta yang diperkirakan 13,8 miliar tahun.
Sebelumnya, pengamatan menggunakan satelit Hipparcos milik Badan Antariksa Eropa memperkirakan usia Methuselah hingga 16 miliar tahun, angka yang jelas menimbulkan dilema ilmiah.
Baca juga: Astronom Temukan Micronova, Ledakan Bintang Paling Kuat di Alam Semesta
“Mungkin kosmologinya salah, fisika bintangnya salah, atau jarak bintangnya salah,” kata Howard Bond dari Pennsylvania State University, dilansir dari laman NASA (06/02/2026).
Keunikan Methuselah
Methuselah bukan hanya tua, tetapi juga berbeda dari bintang-bintang lain di sekitar Bima Sakti. Bintang ini bergerak sangat cepat, menunjukkan bahwa ia hanyalah “pengunjung” dari halo galaksi, wilayah bintang kuno yang mengelilingi galaksi kita.
Kandungan unsur berat Methuselah hanya 1/250 dari Matahari, menandakan bahwa ia terbentuk pada masa awal alam semesta, jauh sebelum unsur berat banyak tercipta di bintang-bintang lain melalui nukleosintesis.
Saat ini Methuselah berada pada tahap awal mengembang menjadi raksasa merah dan dapat diamati dengan teropong di konstelasi Libra dengan magnitudo 7.
Hubble berhasil mengukur jaraknya hingga 190,1 tahun cahaya menggunakan metode paralaks trigonometri, yang memungkinkan ilmuwan menghitung kecerahan intrinsik dan usia bintang dengan lebih akurat.
Baca juga: Menjelajahi Misteri Black Hole: Gerbang Menuju Alam Semesta Paralel?
Teori dan Penyesuaian Usia
Mengutip laman Space, tim Bond menyempurnakan estimasi usia Methuselah dengan mempertimbangkan beberapa faktor, seperti laju pembakaran bintang, kelimpahan kimia, dan struktur internalnya.
Salah satu temuan penting adalah difusi helium ke inti bintang, yang mempercepat pembakaran hidrogen dan menurunkan usia Methuselah dibanding perkiraan sebelumnya.
Selain itu, rasio oksigen-besi yang lebih tinggi dari perkiraan juga menurunkan usia bintang tersebut. Dengan berbagai penyesuaian ini, Methuselah kini dipahami sebagai bintang yang sedikit lebih muda dari alam semesta, sehingga dilema “lebih tua dari alam semesta” berhasil diminimalkan.
Baca juga: Tampak Kelap-Kelip, Ternyata Cahaya Bintang Tidak Langsung Terpancar ke Bumi!
Perjalanan Hidup yang Panjang
Methuselah diyakini lahir di galaksi kerdil purba yang kemudian hancur dan tersedot ke Bima Sakti lebih dari 12 miliar tahun lalu.
Orbitnya yang memanjang membuat bintang ini melintas dengan kecepatan sangat tinggi di langit sekitar 800.000 mil per jam, sehingga hanya butuh 1.500 tahun untuk menempuh lebar sudut sebesar bulan purnama.
Bintang Methuselah menjadi bukti kosmik tentang usia awal alam semesta dan sejarah terbentuknya galaksi. Methuselah bukan hanya objek ilmiah, tetapi juga simbol perjalanan waktu dan misteri kosmik yang masih dipelajari para astronom.
Meskipun kontroversi terkait usianya pernah muncul, pengukuran terbaru menunjukkan bahwa bintang ini secara presisi sesuai dengan usia alam semesta, menjadikannya salah satu bintang tertua yang dapat diamati secara akurat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: NASA, Space