Jumat, 30 JANUARI 2026 • 12:30 WIB

Apa itu Megatsunami Greenland? Kronologi, Pemicu, dan Penjelasan Ilmiah di Baliknya

Author

Greenland (Freepik)

INDOZONE.ID - Fenomena megatsunami Greenland menjadi perhatian dunia setelah para ilmuwan mengungkap bahwa sebuah peristiwa alam ekstrem di kawasan Arktik mampu membuat seluruh Bumi bergetar selama sembilan hari.

Kejadian langka ini bukan hanya mengejutkan dari sisi geologi, tetapi juga memperlihatkan dampak nyata perubahan iklim dalam skala planet.

Peristiwa tersebut terjadi pada 16 September 2023 di wilayah Greenland timur, tepatnya di sebuah fjord terpencil bernama Dickson Fjord.

Baca juga: London Beer Flood: Kelalaian di Balik Petaka Tsunami Bir yang Menelan Korban Jiwa

Melansir laman The Guardian, awalnya para peneliti di berbagai negara mendeteksi sinyal seismik aneh melalui sensor gempa di seluruh dunia. Getaran ini tidak menyerupai gempa bumi biasa karena berlangsung jauh lebih lama dan hanya memiliki satu pola osilasi. Selama berhari-hari, penyebabnya menjadi misteri.

Kronologi Terjadinya Megatsunami Greenland

Setelah dilakukan investigasi mendalam, terungkap bahwa megatsunami Greenland dipicu oleh runtuhnya puncak gunung setinggi sekitar 1.200 meter ke dalam fjord.

Runtuhan ini terjadi karena gletser yang selama ini menopang dinding batu tersebut mencair akibat peningkatan suhu ekstrem di wilayah Arktik. Ketika penopang alaminya hilang, tebing batu akhirnya longsor secara masif.

Baca juga: Mengenang Longsor Tenjolaya, Bencana yang Menimbun 1 Pabrik Teh hingga 50 Rumah Bedeng

Tanah longsor tersebut menghantam fjord dengan kekuatan luar biasa, memicu gelombang awal yang diperkirakan mencapai ketinggian hingga 200 meter.

Gelombang ini kemudian terperangkap di dalam fjord yang berkelok dan berdinding curam, sehingga menciptakan gerakan air bolak-balik seperti resonansi. Inilah yang menyebabkan getaran seismik terus menjalar ke seluruh dunia selama lebih dari seminggu.

Faktor Pemicu dan Peran Perubahan Iklim

Para ilmuwan menegaskan bahwa krisis iklim memainkan peran besar dalam terjadinya megatsunami Greenland. Wilayah Arktik diketahui mengalami pemanasan paling cepat dibandingkan kawasan lain di Bumi. Pencairan gletser secara masif membuat lereng-lereng gunung yang sebelumnya stabil menjadi rentan runtuh.

Baca juga: Kekeringan Jadi Alasan Bangsa Viking Tinggalkan Greenland pada Abad ke-15, Ini Buktinya

Fenomena serupa sebenarnya pernah terjadi di wilayah lain seperti Alaska, Kanada, Norwegia, dan Chili. Namun, peristiwa di Greenland timur ini menjadi yang pertama tercatat dengan skala sebesar itu, sekaligus menjadi peringatan bahwa wilayah yang dulu dianggap aman kini menghadapi risiko baru akibat perubahan iklim.

Penjelasan Ilmiah di Balik Getaran Global

Berdasarkan analisis yang dipublikasikan dalam jurnal Science, sekitar 25 juta meter kubik batuan dan es meluncur ke dalam fjord dan bergerak sejauh lebih dari dua kilometer.

Bentuk fjord yang sempit, dinding curam, serta tikungan tajam membuat energi gelombang tidak cepat keluar, melainkan terperangkap dan beresonansi.

Baca juga: Misteri di Balik Karnaval Satanic Brasil, Konon ‘Undang’ Bencana Banjir

Model komputer beresolusi tinggi menunjukkan bahwa osilasi air memiliki periode sekitar 90 detik, persis seperti sinyal seismik yang terekam di seluruh dunia.

Meski tinggi gelombang menurun drastis dalam hitungan menit, guncangan massa air tetap cukup kuat untuk mengirimkan getaran ke berbagai penjuru planet.

Dampak dan Pelajaran dari Megatsunami Greenland

Beruntung, kawasan terdampak tidak berpenghuni. Namun, beberapa situs bersejarah suku Inuit dan stasiun penelitian mengalami kerusakan parah.

Baca juga: Vetiver, Solusi Alami Cegah Tanah Longsor

Para ilmuwan menilai kejadian megatsunami Greenland sebagai peringatan serius bahwa perubahan iklim tidak hanya berdampak lokal, tetapi dapat memicu peristiwa ekstrem dengan efek global.

Ke depan, para peneliti memperkirakan kejadian serupa bisa menjadi lebih sering jika suhu Bumi terus meningkat. Fenomena ini sekaligus membuka babak baru dalam pemahaman ilmiah tentang hubungan antara iklim, geologi, dan stabilitas planet kita.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Theguardian.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU