INDOZONE.ID - Lukisan tertua berusia 67.800 tahun, teridentifikasi di Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.
Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Nature dan dipaparkan langsung oleh Prof. Maxime Aubert, arkeolog dan geokimiawan dari Griffith University dan Southern Cross University, dalam konferensi pers di Jakarta.
“Ini bukan sekadar seni prasejarah, tapi bukti kuat kehadiran manusia modern awal di wilayah ini,” kata Maxime dikutip dari laman BRIN, Selasa (27/1/2026).
Lalagu bagaimana cara menentukan usia lukisan tertua?
Tim peneliti menggunakan metode laser-ablation uranium-series (LA–U-series), teknik mutakhir yang sangat presisi.
Penghitungan dimulai lewat air hujan yang meresap ke batu kapur gua, membawa unsur uranium, lalu membentuk lapisan kalsit tipis di atas atau bawah lukisan.
“Air hujan melarutkan sedikit kalsium dan uranium. Saat mengendap di permukaan seni cadas, ia membentuk lapisan tipis,” jelas Maxime.
Baca juga: Lukisan Gua Tertua di Dunia Ternyata Ada di Indonesia, Ini Fakta Menakjubkannya
Lapisan kalsit ini mengandung uranium yang perlahan meluruh menjadi thorium.
Dengan membandingkan rasio uranium dan thorium, ilmuwan bisa menghitung kapan lapisan itu terbentuk.
“Jika lapisan itu berada di atas lukisan, maka itu memberi usia minimum. Artinya lukisan setidaknya setua lapisan tersebut,” ujar Maxime.
Baca juga: Lukisan Tertua Dunia Ditemukan di Pulau Muna Sulawesi Tenggara, Usianya 67.800 Tahun
Dalam kasus Leang Metanduno, usia lapisan terdekat dengan pigmen mencapai sekitar 71,6 ribu tahun, dengan batas minimum lukisan di angka 67.800 tahun.
Dulu, penanggalan uranium harus dilakukan di laboratorium dengan proses kimia rumit. Kini, teknologi laser membuat prosesnya jauh lebih detail.
“Kami hanya mengambil inti sampel sekitar lima milimeter, lalu laser memetakan uranium dan thorium di banyak titik,” kata Maxime.
Hasilnya, peneliti bisa melihat gradasi usia dari permukaan hingga bagian yang paling dekat dengan pigmen lukisan.
Mengapa Lukisan Tertua Ini Penting?
Menurut Peneliti BRIN, Adhi Agus Octavian, temuan lukisan tertua ini sangat krusial untuk memahami migrasi manusia modern awal.
“Indonesia berada di koridor utama pergerakan manusia puluhan ribu tahun lalu,” ujarnya.
Selama ini, bukti fisik manusia modern awal di Indonesia sangat terbatas.
Seni cadas seperti ini menjadi petunjuk penting yang melengkapi kekosongan data paleoantropologi.
Bukti Jalur Migrasi Manusia Modern
Temuan ini juga memperkuat teori jalur migrasi utara menuju Australia.
Pada masa itu, permukaan laut masih rendah dan Papua terhubung langsung dengan Australia.
“Dengan temuan ini, kita tahu manusia menggunakan jalur utara. Semua seni cadas kuno di Indonesia juga berada di jalur tersebut,” kata Maxime.
Nusantara oun dianggap bukan sekadar wilayah singgah, tapi ruang hidup penting dalam sejarah awal manusia modern.
Bukan Sekadar Cap Tangan Prasejarah
Lukisan tertua ini bukan cap tangan biasa. Maxime menyebutnya sebagai stensil jari sempit, gaya visual khas Sulawesi.
“Ini jenis stensil yang hanya ditemukan di Sulawesi. Jarinya tampak runcing dan memanjang,” jelasnya.
Cara pembuatannya masih misterius. Bisa jadi tangan dimodifikasi, atau jari digerakkan saat pigmen disemprotkan.
Gaya stensil serupa juga ditemukan pada lukisan berusia sekitar 20 ribu tahun di Sulawesi. Hal inilah yang menunjukkan tradisi visual yang bertahan sangat lama.
Bagi ilmuwan, ini menandakan bahwa manusia purba sudah punya konsep simbolik dan estetika yang kompleks sejak puluhan ribu tahun lalu.
“Ini menunjukkan pemikiran yang lebih maju, bukan ekspresi visual sembarangan,” ujar Maxime.
Di Leang Metanduno, seni cadas tidak hanya berupa cap tangan. Ada narasi tentang manusia, hewan, perburuan, pelayaran, hingga domestikasi.
“Ini bukan cuma gambar, tapi arsip sosial manusia purba,” kata Adhi.
Temuan lukisan tertua ini menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pusat penting dalam sejarah seni dan migrasi manusia modern di dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BRIN