INDOZONE.ID - Manusia modern adalah keturunan terbaru dari genus Homo, meski sejarah anggota awalnya belum banyak terungkap.
Keadaan ini berubah sejak ditemukannya kerangka Homo habilis yang paling komplet, yang menyingkap fakta bahwa nenek moyang kuno kita masih berpenampilan sangat mirip dengan kera.
Penemuan ini menjadi kunci penting dalam memahami masa lalu garis keturunan manusia.
Homo habilis, yang kerap kali dianggap sebagai spesies manusia sejati pertama, pertama kali muncul sekitar 2 juta tahun yang lalu di Afrika.
Baca juga: Kerangka Pemuda di Biara Budapest Ternyata Bangsawan, Ini Fakta Mengejutkannya
Data arkeologis sebelumnya yang mencakup gigi, tengkorak, dan artefak batu telah memberikan indikasi bahwa Homo habilis memiliki kapasitas kognitif dan ukuran otak yang lebih maju dibandingkan genus Australopithecus maupun Paranthropus.
Namun, ketiadaan sisa post-kranial (bagian tubuh selain tengkorak) membuat rekonstruksi proporsi tubuh asli mereka mustahil dilakukan. Baru sekaranglah kita bisa benar-benar memahami anatomi fisik mereka secara menyeluruh.
Melalui laporan temuan kerangka yang kondisinya masih sangat terjaga di Turkana Timur, Kenya, para ahli mengungkapkan sebuah fakta kontras, meskipun spesies purba ini memiliki kecerdasan setara manusia, struktur fisiknya ternyata masih sangat primitif di luar dugaan.
Fosil yang diperkirakan berusia 2,02 hingga 2,06 juta tahun tersebut mencakup sepasang tulang selangka, tulang lengan atas dan bawah yang lengkap, fragmen panggul, hingga bagian sakrum, tulang berbentuk segitiga pada dasar tulang belakang.
Secara fisik, Homo habilis memiliki lengan bawah yang sangat panjang layaknya gorila, sebuah ciri yang tidak ditemukan pada spesies manusia setelahnya seperti H. erectus.
Karakteristik ini justru lebih mirip dengan Australopithecus afarensis (keluarga Lucy) yang hidup jauh sebelumnya.
Kemiripan anatomi ini mengindikasikan bahwa H. habilis kemungkinan besar masih menjalani gaya hidup arboreal atau banyak menghabiskan waktu di pepohonan, sama seperti Lucy.
Di sisi lain, para peneliti mengamati bahwa struktur panggulnya memberikan indikasi bahwa Homo habilis kemungkinan sudah mampu berjalan tegak.
Namun, ketiadaan bukti berupa tulang kaki membuat asumsi mengenai kemampuan bipedal ini belum bisa divalidasi secara pasti.
Karena adanya kesenjangan informasi tersebut, tim peneliti masih bersikap hati-hati dan belum berani menarik kesimpulan final mengenai pola pergerakan maupun gaya hidup spesies ini.
"Lengan depan H. habilis yang relatif panjang mungkin memungkinkan tingkat pergerakan arboreal yang lebih besar pada spesies ini daripada pada H. erectus , tetapi apakah arborealitas memang dipraktikkan oleh H. habilis masih menjadi bahan spekulasi," tulis mereka.
Baca juga: Apa yang Membuat Fosil Dinosaurus Bisa Ditemukan dan Kerangka Manusia Hancur? Ini Jawabannya
Satu hal yang pasti, dengan estimasi tinggi sekitar 160 cm dan bobot hanya sedikit melampaui 30 kg, Homo habilis tidak memiliki struktur tubuh yang jangkung dan ramping layaknya Homo erectus atau spesies manusia modern lainnya.
Perbedaan anatomi yang kontras ini memberikan indikasi kuat bahwa Homo habilis kemungkinan besar bukanlah leluhur langsung dari Homo erectus, sebuah fakta yang mematahkan teori evolusi yang selama ini diyakini.
Meskipun begitu, bagaimana tepatnya proses transformasi dari sesosok makhluk cerdas berlengan panjang yang menyerupai kera menjadi manusia jangkung dengan kaki panjang seperti kita saat ini, masih terkunci dalam misteri antropologi yang besar.
Hingga kini, celah transisi tersebut tetap menjadi salah satu tanda tanya paling mendalam dalam sejarah evolusi kita.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: IFL SCIENCE