Minggu, 08 FEBRUARI 2026 • 20:00 WIB

Kesurupan, Penampakan, hingga Ketindihan: Ini Penjelasan Ilmiah di Balik Fenomena yang Sering Dianggap Mistis

Author

Ilustrasi ketindihan. (pixabay)

INDOZONE.ID - Fenomena kesurupan, melihat penampakan, atau mengalami ketindihan masih sering bikin merinding banyak orang.

Di masyarakat kita, kejadian-kejadian seperti ini hampir selalu langsung dikaitkan dengan hal gaib, mulai dari kerasukan makhluk halus sampai gangguan jin.

Padahal, menurut penjelasan ilmiah yang disampaikan Cania Citta di kanal YouTube @MALAKA, banyak dari peristiwa tersebut justru bisa dijelaskan secara medis dan psikologis.

Menariknya, pendekatan ilmiah ini bukan untuk menertawakan kepercayaan yang sudah lama hidup di masyarakat, melainkan untuk membuka cara pandang yang lebih luas.

Dengan memahami sisi sainsnya, kita justru bisa memberi respons yang lebih tepat dan manusiawi ketika menghadapi fenomena-fenomena ekstrem seperti ini.

Baca juga: Kisah Mistis Akibat Kencing Sembarangan Berujung Petaka di Hutan Ngadiroso

Logika Mistika dan Cara Berpikir Masyarakat

Cania Citta mengawali penjelasannya dengan mengutip pemikiran Tan Malaka dalam buku Madilog.

Di sana dijelaskan tentang logika mistika, yaitu cara berpikir yang menjadikan kekuatan gaib sebagai satu-satunya jawaban atas kejadian yang tidak dipahami.

Contoh logika mistika ini masih sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Uang hilang langsung dituduh diambil tuyul. Usaha ramai dibilang pakai penglaris. Orang kejang-kejang disebut kerasukan.

Masalahnya bukan pada kemungkinan mistisnya, tapi ketika penjelasan itu dianggap final dan tidak boleh diuji lagi dengan pendekatan lain.

Saat logika mistika dijadikan jawaban tunggal, orang berhenti mencari solusi nyata. Padahal, bisa jadi ada penyebab medis atau psikologis yang kalau ditangani dengan benar, justru menyelamatkan nyawa seseorang.

Kesurupan yang Ternyata Masalah Medis

Salah satu fenomena paling sering disalahartikan adalah kesurupan. Banyak orang menganggap tubuh yang kaku, melengkung, atau kejang sebagai tanda dirasuki makhluk halus. Padahal, dalam dunia medis, kondisi seperti itu punya penjelasan yang sangat jelas.

Salah satunya adalah tetanus. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani yang menyerang sistem saraf dan memicu kejang otot ekstrem.

Posisi tubuh penderita tetanus bahkan sering melengkung ke belakang, mirip sekali dengan gambaran orang yang dianggap kesurupan.

Dulu, ketika manusia belum mengenal mikroorganisme, wajar jika kondisi ini dikaitkan dengan kekuatan gaib.

Selain tetanus, ada juga epilepsi. Kejang-kejang hebat yang terjadi pada penderita epilepsi sering disalahpahami sebagai kerasukan setan.

Padahal, secara ilmiah, epilepsi terjadi karena aktivitas listrik di otak yang tidak normal. Jika ditangani secara medis, penderita epilepsi bisa hidup normal tanpa perlu ritual mistis yang justru berbahaya.

Ada pula Dissociative Trance Disorder atau DTD. Ini adalah gangguan psikologis di mana seseorang kehilangan kesadaran diri dan berperilaku seolah menjadi sosok lain.

Faktor pemicunya beragam, mulai dari trauma masa lalu, tekanan ekonomi, hingga faktor genetik.

Dalam kondisi ini, orang bisa berbicara dengan suara berbeda, bertingkah aneh, bahkan tidak ingat apa yang terjadi setelahnya. Tanpa pemahaman psikologi, kondisi ini sangat mudah dianggap sebagai kerasukan.

Penampakan dan Cara Kerja Otak Manusia

Bagaimana dengan melihat hantu atau penampakan? Cania menjelaskan bahwa fenomena ini juga punya penjelasan ilmiah yang menarik.

Salah satunya adalah skizofrenia, gangguan psikologis yang dapat memicu halusinasi visual dan auditori. Penderita bisa melihat sosok yang tidak ada atau mendengar suara-suara yang terasa sangat nyata.

Selain gangguan psikologis, faktor lingkungan dan sugesti juga punya peran besar. Otak manusia sangat mudah dipengaruhi oleh kondisi sekitar.

Suhu dingin, udara lembap, dan minim cahaya adalah kombinasi sempurna untuk memicu delusi atau halusinasi.

Itulah sebabnya cerita penampakan sering muncul di gunung, hutan, atau tempat gelap, bukan di pantai yang terang dan panas.

Otak manusia bekerja dengan memori. Ketika berada dalam kondisi ekstrem, otak akan mengambil potongan-potongan visual yang sudah dikenal sebelumnya.

Sosok hantu yang “terlihat” sebenarnya adalah hasil campuran memori, budaya, dan sugesti yang muncul tanpa disadari.

Baca juga: Kisah Mistis Penjual Garam Kasar di Pemakaman Angker, Jalan Pintas Kekayaan yang Berujung Nyawa

Ilustrasi Ketindihan. (Freepik)

Ketindihan Bukan Diganggu Makhluk Halus

Ketindihan atau yang sering disebut “ditindih setan” juga punya penjelasan ilmiah yang cukup jelas. Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai sleep paralysis.

Saat tidur, manusia melewati fase REM atau Rapid Eye Movement. Di fase ini, otot-otot tubuh sengaja dilumpuhkan oleh otak agar kita tidak bergerak mengikuti mimpi.

Ketindihan terjadi ketika otak terbangun lebih cepat, sementara tubuh masih berada dalam fase REM.

Akibatnya, seseorang sadar sepenuhnya tapi tidak bisa bergerak, berbicara, atau berteriak.

Karena otak berada di perbatasan antara mimpi dan sadar, sering muncul halusinasi berupa sosok gelap, bayangan, atau perasaan tertekan di dada. 

Sensasinya sangat nyata dan menakutkan, sehingga mudah dikaitkan dengan gangguan gaib.

Padahal, ini adalah mekanisme biologis yang bisa dipicu oleh kurang tidur, stres, atau jadwal tidur yang berantakan.

Kenapa Penjelasan Ilmiah Penting?

Cania menegaskan bahwa mengedepankan penjelasan ilmiah bukan berarti menolak kemungkinan lain secara mentah-mentah. Tujuannya adalah agar kita tidak salah langkah dalam merespons suatu kejadian.

Jika seseorang kejang karena epilepsi lalu dibawa ke “orang pintar” tanpa penanganan medis, risikonya bisa fatal.

Jika penderita gangguan psikologis malah diisolasi atau dihakimi sebagai kerasukan, kondisi mentalnya bisa makin parah.

Pendekatan natural-empiris justru membantu kita menemukan solusi nyata. Sains mengajarkan untuk menguji, mengamati, dan terus memperbaiki kesimpulan berdasarkan bukti.

Ini berbeda dengan logika mistika yang sering berhenti pada satu jawaban tanpa ruang koreksi.

Baca juga: Kisah Mistis Rumah Terkutuk, Tempat Perantauan yang Berujung Petaka

Ilustrasi ketindihan. (pixabay)

Fenomena kesurupan, penampakan, dan ketindihan memang sudah lama hidup dalam budaya masyarakat.

Namun, penjelasan ilmiah yang disampaikan Cania Citta membuka mata bahwa banyak dari kejadian tersebut berkaitan erat dengan kondisi medis, psikologis, dan cara kerja otak manusia.

Berpikir ilmiah bukan berarti kehilangan iman atau menafikan keyakinan, tetapi memberi kita alat untuk bersikap lebih bijak dan manusiawi.

Saat menghadapi kejadian ekstrem, mungkin sudah saatnya kita bertanya, “Apa penjelasan alaminya?” sebelum langsung menyimpulkan dengan logika mistika.

Dengan cara berpikir seperti ini, kita tidak hanya lebih rasional, tapi juga lebih peduli pada keselamatan dan kesehatan sesama.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: YouTube

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU