Sabtu, 10 JANUARI 2026 • 17:03 WIB

Mengenal Ambopteryx Longibrachium: Spesies Dinosaurus Kecil Bersayap Kelalawar yang Ditemukan di China

Author

Spesies dinosaurus bersaya kelelawar. (cordis.europa.eu)

INDOZONE.ID - Dunia arkeologi dihebohkan dengan dhitemukan fosil dari spesies dinosaurus di China.  Fosil berusia 163 juta tahun bernama Ambopteryx longibrachium memiliki struktur sayap yang lebih mirip kelelawar. 

Ia tidak memiliki sayap berbulu seperti burung yang menghasilkan daya angkat. Temuan ini menantang anggapan bahwa sayap berbulu merupakan syarat mutlak bagi dinosaurus yang mampu melayang. 

Para ilmuwan memperkirakan Ambopteryx memiliki panjang sekitar 32 cm dan berat sekitar 306 gram. Fosil ini berkerabat dengan Yi qi, dinosaurus lain bersayap membran yang dideskripsikan pada 2015 dan hidup 2–3 juta tahun setelahnya 

Baca juga: Penemuan Telur Dinosaurus Berusia 70 Juta Tahun Berisi Kristal Berkilau, Bikin Ilmuwan Terkejut

Yi qi ditemukan sekitar 80 km dari lokasi Ambopteryx. Keduanya termasuk dalam keluarga kecil dinosaurus bernama scansoriopterygidae.
Kelompok ini merupakan salah satu fosil paling awal dari pemanjat pohon dengan tangan dan jari yang sangat panjang. Penelitian menunjukkan Ambopteryx menghabiskan sebagian besar waktunya di pepohonan 

Tulang-tulang di dalam perut fosil mengungkap bahwa ia kemungkinan memangsa hewan lain. Hal ini mendukung dugaan bahwa ia adalah predator kecil di lingkungan arboreal. 

“Ia sama sekali tidak seperti burung, juga tidak seperti dinosaurus,” kata penulis utama dan paleontolog Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok, Min Wang. 

“Sebagian orang tidak yakin dengan Yi qi karena jaringan lunak jarang terawetkan dalam catatan fosil.” 

Jaringan lunak pada fosil ini memberikan bukti tambahan tentang kemampuan terbang mirip kelelawar. Namun, karena ukurannya yang kecil, Ambopteryx kemungkinan tidak mampu mengepakkan sayap seperti burung. 

Baca juga: Dinosaurus Berduri Ini Diduga Berlayar dari Inggris untuk Menarik Pasangan

“Saya cenderung menyebutnya terbang melayang,” ujar Wang. “Ciri terpentingnya adalah tidak adanya otot terbang—tulang dada (sternum)—yang memungkinkan kepakan sayap.” 

Kaitan langsung antara dinosaurus dan burung
Ambopteryx hidup pada periode Jura di wilayah yang kini menjadi Tiongkok timur laut. Ia hidup pada waktu dan tempat yang hampir sama dengan dinosaurus bersayap berbulu. 

Pada masa itu, terdapat delapan hingga sepuluh spesies dinosaurus yang memiliki sayap berbulu. Namun, hanya Ambopteryx dan Yi qi yang memiliki sayap bermembran. 

Jenis sayap khas ini ternyata tidak bertahan lama dalam evolusi dinosaurus. “Sejauh ini, semua scansoriopterygidae yang diketahui berasal dari Jura Akhir—struktur sayap bermembran yang unik ini tidak bertahan hingga periode Kapur,” kata Dr. Wang. 

Dinosaurus terbang yang muncul kemudian semuanya memiliki sayap berbulu. “Saya berharap kita dapat menemukan lebih banyak dinosaurus seperti ini untuk memahami transisi dinosaurus ke burung dan evolusi penerbangan,” tambahnya. 

“Penemuan Ambopteryx dan Yi qi sepenuhnya mengubah pandangan kita tentang asal-usul penerbangan burung,” ujar Wang kepada Reuters. 

 “Selama ini kita mengira sayap berbulu adalah satu-satunya alat terbang.” 

Namun, temuan baru ini menunjukkan bahwa sayap bermembran juga berevolusi pada beberapa dinosaurus yang berkerabat dekat dengan burung. 

 Secara keseluruhan, keragaman dan luasnya eksperimen evolusi penerbangan jauh lebih besar daripada yang sebelumnya diperkirakan, dan mungkin baru sebagian kecil yang terungkap.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Cordis.europa.eu

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU