INDOZONE.ID - Raja Tutankhamun, si Firaun muda yang berkuasa saat masih anak-anak (sekitar 9 tahun) diduga menggunakan narkoba pada masanya.
Peneliti Yale menemukan residu opium di guci Mesir kuno. Temuan ini menguatkan dugaan bahwa narkoba sudah digunakan pada era Firaun, termasuk masa Raja Tutankhamun.
Opium diduga bukan sekadar obat, tapi bagian dari ritual dan kehidupan spiritual masyarakat Mesir kuno.
Studi yang diterbitkan dalam Journal of Eastern Mediterranean Archaeology and Heritage Studies ini berfokus pada analisis residu dalam sebuah guci pualam Mesir kuno.
Para peneliti menemukan sisa material aromatik berwarna cokelat tua. Ternyata sisa tersebut menyimpan petunjuk penting tentang praktik konsumsi zat tertentu di masa Firaun.
“Temuan kami, dikombinasikan dengan penelitian sebelumnya, menunjukkan bahwa penggunaan opium lebih dari sekadar kebetulan atau sporadis dalam budaya Mesir kuno,” kata Andrew J. Koh, penulis utama studi tersebut dikutip dari Science Daily, Rabu (7/1/2026).
Baca juga: Mengenal Hatshepsut, Firaun Perempuan yang Terlupakan dari Peradaban Mesir Kuno
Menurut Koh, opium tampaknya sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di Mesir dan wilayah sekitarnya.
Guci Pualam Langka dan Kandungan Narkoba
Artefak yang dianalisis berupa vas pualam setinggi 22 sentimeter. Bejana ini diukir dalam empat bahasa kuno. Akkadia, Elam, Persia, dan Mesir.
Guci tersebut dipersembahkan kepada Xerxes I, penguasa Kekaisaran Akhemenid yang wilayahnya mencakup Mesir hingga Asia Tengah.
Spesimen utuh seperti ini sangat langka. Diperkirakan hanya kurang dari 10 artefak serupa yang masih ada di museum dunia, termasuk koleksi Museum Yale Peabody sejak 1911.
Untuk memastikan isinya, para ilmuwan menggunakan metode analisis residu organik yang dikembangkan Program Farmakologi Kuno Yale.
Hasilnya mereka menemukan senyawa seperti morphine, thebaine, papaverine, hingga oscapine, penanda biologis khas opium.
Temuan ini juga sejalan dengan bukti lain dari bejana Mesir dan kendi kuno Siprus, yang ditemukan di makam seorang pedagang di Sedment, Mesir.
Apakah Raja Tutankhamun Menggunakan Narkoba?
Meski guci yang dianalisis berasal dari periode berbeda, para peneliti melihat pola yang konsisten lintas zaman dan kelas sosial.
Kedua temuan tersebut terpaut lebih dari seribu tahun, namun sama-sama mengandung residu opium.
“Kami pikir ada kemungkinan, jika bukan kepastian, bahwa guci-guci pualam di makam Raja Tutankhamun berisi opium,” ujar Koh.
Ia menambahkan, bejana semacam ini mungkin berfungsi sebagai penanda budaya, mirip bagaimana hookah diasosiasikan dengan shisha saat ini.
Hanya saja penggunaan opium di era Firaun tidak melulu soal pengobatan.
Koh menyebut ada indikasi kuat bahwa zat ini digunakan dalam konteks spiritual dan ritual keagamaan.
Artefak di Kreta menyebut “dewi poppy” dalam ritual suci. Tanaman poppy juga muncul dalam teks kuno seperti Papirus Ebers hingga catatan Hippocrates.
Mereka mengarah pada satu kesimpulan, yakni narkoba di masa Mesir kuno punya makna simbolik dan religius yang jauh lebih dalam.
Beberapa wadah dari makam Raja Tutankhamun diketahui pernah berisi material gelap dan lengket. Namun, isinya luput dari analisis ilmiah sejak 1930-an.
Material tersebut bahkan diyakini sempat diambil perampok makam, mengisyaratkan nilai tinggi dari isinya.
Koh percaya, analisis lanjutan pada artefak dari makam Raja Tutankhamun bisa membuka pemahaman baru tentang peran opium dalam peradaban kuno.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Science Daily