INDOZONE.ID - Si burung hitam yang dikaitkan dengan misterius dan mistis atau dikenal sebagai Gagak ternyata memiliki karakter dan tingkah laku yang unik. Banyak yang menyebutkan gagak adalah penyelidik TKP atau detektif pembunuhan di dunia perburungan.
Meski burung sering dianggap “kurang cerdas”, gagak dan anggota keluarga corvid lainnya—termasuk burung raven dan magpie—sebenarnya sangat pintar. Mereka telah menunjukkan kemampuan memahami hubungan sebab-akibat sederhana, menggunakan alat untuk mendapatkan makanan, serta mengenali wajah individu tertentu.
Kini, penelitian menunjukkan bahwa gagak bahkan bisa “menyelidiki” kematian sesamanya, sebagai bagian dari naluri biologis untuk mengidentifikasi ancaman di masa depan, seperti yang dikutip dari situs Quartz, atau qz.com.
Saat seekor gagak mati, gagak lainnya melakukan penyelidikan
Ketika seekor gagak mati, sesamanya akan berkumpul bukan semata-mata untuk berduka, melainkan untuk menyelidiki lokasi kejadian guna mengidentifikasi dan mempelajari potensi ancaman. Perilaku ini terkadang disebut sebagai “thanatologi gagak” (crow thanatology).
Baca juga: 5 Arti Mimpi Melihat Burung Gagak menurut Primbon Jawa, Pertanda Buruk?
Menurut sebuah studi dari University of Washington di Seattle yang dipublikasikan dalam jurnal Animal Behavior tahun 2021 silam, ketika gagak lain melihat seseorang memegang bangkai gagak, mereka akan mengeluarkan panggilan peringatan yang disebut scolding.
Untuk melakukan eksperimen ini, para peneliti—dipimpin oleh mahasiswa pascasarjana Kaeli Swift—meletakkan makanan di tanah untuk menarik perhatian gagak.
Setelah lokasi tersebut sering didatangi, mereka kemudian membawa seekor gagak mati (yang diawetkan) ke dekat makanan tersebut. Semua relawan mengenakan topeng lateks untuk menyamarkan identitas mereka.
Sebagai perbandingan, para peneliti juga berdiri di dekat area pemberian makan sambil membawa burung elang ekor merah yang diawetkan (pemangsa alami gagak), seekor merpati yang diawetkan, atau tanpa membawa apa pun.
Bisa memarahi atau menyerang 'pelaku'
Ketika peneliti berdiri di dekat makanan sambil membawa gagak mati atau elang, gagak-gagak di sekitar akan “memarahi” dengan suara keras di hadapan gagak lain; bahkan terkadang mereka menyerang relawan bertopeng tersebut.
Menariknya, ketika peneliti kembali beberapa kali setelahnya tanpa membawa bangkai burung apa pun, gagak-gagak itu tetap mengulangi seruan peringatan mereka, yang menunjukkan bahwa mereka mengingat potensi ancaman tersebut.
Baca juga: 12 Fakta Unik Burung Gagak, Si Cerdas yang Sering Disalahpahami
Sebaliknya, gagak tidak bereaksi terhadap kehadiran merpati yang diawetkan—kemungkinan karena mereka memang biasa memakan bangkai merpati.
Ketika para peneliti melakukan eksperimen serupa dengan hanya melibatkan merpati (seekor merpati hidup melihat relawan memegang merpati mati), burung merpati tidak menunjukkan reaksi apa pun. Hal ini mengindikasikan bahwa gagak mungkin unik dalam kesediaannya memperingatkan anggota spesiesnya tentang ancaman.
Meski terdengar aneh, kemampuan gagak untuk mengingat orang-orang yang mereka asosiasikan dengan kematian sangat penting dalam cara mereka berinteraksi dengan manusia.
“Bagi seekor gagak, ada orang yang akan membunuhmu, dan ada juga yang akan memberimu makan,” ujar John Marzluff, ahli biologi dari University of Washington sekaligus penulis pendamping penelitian tersebut.
Kelangsungan hidup gagak bergantung pada kemampuan mereka membedakan mana kawan dan mana lawan.
Baca juga: Misteri Pesugihan Sate Gagak: Ritual yang Mempertaruhkan Nyali dan Nyawa
Perilaku Gagak: Investigasi Alami
Mencari informasi untuk kepentingan kelompoknya
Berkumpulnya gagak di sekitar bangkai gagak berfungsi sebagai sesi berbagi informasi yang krusial bagi kelompoknya. Mereka menganalisis situasi untuk memahami penyebab kematian dan mengidentifikasi bahaya, seperti munculnya predator baru, lokasi berisiko, atau bahkan wajah manusia tertentu.
Ingatan jangka panjang untuk sosok manusia yang membunuh gagak lainnya
Gagak menggunakan kejadian ini untuk membentuk ingatan jangka panjang yang sangat kuat. Penelitian menunjukkan bahwa mereka dapat mengaitkan sosok manusia tertentu—misalnya seseorang yang mengenakan topeng khusus—yang berada di dekat gagak mati sebagai ancaman.
Mereka akan memarahi, menghindari orang tersebut selama bertahun-tahun, bahkan mengajarkan anak-anaknya untuk melakukan hal yang sama.
Pembelajaran sosial untuk waspada
Pengetahuan ini disebarkan ke seluruh kelompok melalui panggilan keras (mobbing) dan bahasa tubuh. Proses pembelajaran sosial ini membantu seluruh komunitas menghindari kesalahan fatal yang sama, menjadikannya strategi bertahan hidup yang sangat efektif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Qz.com