Rabu, 17 DESEMBER 2025 • 17:11 WIB

Payung, Penemuan Jenius Perajin Tiongkok Kuno, Ketika Eropa Masih Percaya Hujan Kutukan Dewa

Author

Ilustrasi payung (Pexels)

INDOZONE.ID - Hari ini, setiap kali kita membuka payung saat hujan turun, sebenarnya kita sedang melanjutkan warisan ribuan tahun lalu yang dimulai dari kecerdikan perajin Tiongkok Kuno.

Inovasi yang lahir dari satu peradaban, pada akhirnya, menjadi milik bersama umat manusia.

Mengutip artikel di situs Heddels dengan judul Taking Cover: The Long History of the Umbrella, sejarah payung dimulai sebagai pelindung matahari bukan untuk melindungi diri dari hujan. 

Kata “umbrella” sendiri berasal dari bahasa Latin umbra yang berarti “bayangan”. 

Namun, lompatan besar terjadi di Tiongkok sekitar abad ke-4 SM. Bentuk awal payung untuk menapis hujan berupa daun atau bulu yang diikat pada tongkat. 

Baca juga: La Doncella, Mumi Berusia Lebih 500 Tahun untuk Ritual Pengorbanan di Pegunungan Andes

Di sinilah para perajin kuno tidak hanya membuat payung lipat dengan desain modern, tetapi juga melakukan terobosan jenius melapisi kertas dengan minyak untuk menciptakan kanopi yang tahan air.

Payung atau kertas yang diolesi minyak ini adalah simbol kemewahan sekaligus teknologi canggih pada masanya. 

Ia melambangkan status sosial elite, sekaligus menjadi solusi praktis yang mengubah hubungan manusia dengan alam. 

Sementara di Eropa, orang pasrah basah kuyup atau berteduh, di Tiongkok, manusia sudah bisa “membawa atap” ke mana pun mereka pergi.

Perbedaan ini bukan sekadar soal teknologi, tetapi cara pandang terhadap alam dan kemajuan. 

Baca juga: Krim Wajah Zaman Romawi Kuno Ditemukan, Masih Menyimpan Jejak Jari Penggunanya

Dalam banyak budaya Eropa kuno dari Yunani hingga Romawi, hujan sering dikaitkan dengan kehendak dewa-dewa seperti Zeus atau Jupiter. 

Menggunakan alat untuk "menolak" hujan bisa dianggap melawan kehendak langit. 

Kalaupun payung sampai ke Eropa (melalui Jalur Sutra), ia hanya dianggap aksesori mode eksotis bagi perempuan terkemuka, bukan alat pelindung hujan yang praktis.

Faktanya, sampai tahun 1708, Kamus Inggris Kersey’s Dictionary masih mendefinisikan payung sebagai “screen commonly used by women to keep off rain”. 

Pria yang memakainya dianggap tidak maskulin. Saat itu, payung di Inggris masih dianggap sebagai aksesori wanita yang tidak pantas bagi pria. 

Baca juga: Benarkah Ada Kota Rahasia di Bawah Piramida Giza? Ini Penjelasan Para Ahli

Maka, di suatu hari ketika hujan membasahi kota London tahun 1750, orang-orang mengolok-olok Jonas Hanway yang berjalan menembus hujan dengan payung. 

Pandangan mereka sinis. Hanway butuh 30 tahun keteguhan untuk mengubah pandangan itu.

Ironisnya, dua ribu tahun sebelum peristiwa itu, di seberang benua, para bangsawan Tiongkok kuno sudah dengan anggun berlindung di bawah payung dari kertas berminyak yang tahan hujan. 

Revolusi payung di Barat baru benar-benar dimulai pada abad ke-19 dengan inovasi material. 

Pada 1850-an, Samuel Fox memperkenalkan rangka baja yang membuat payung lebih ringan dan kuat. 

Lalu pada 1928, Hans Haupt, seorang veteran perang, menciptakan payung saku lipat yang bisa dibawa ke mana saja. 

Baca juga: Transformasi Agama Hindu dari Masa ke Masa

Payung akhirnya menjadi barang sehari-hari yang demokratis, jauh dari citra awalnya sebagai simbol kemewahan di Tiongkok kuno atau aksesori feminin di Eropa.

Kisah sederhana payung ini ialah cermin perbedaan mendasar dua peradaban. 

Satu melihat masalah (hujan) sebagai tantangan teknis yang bisa dipecahkan dengan kecerdasan manusia. 

Satu lagi, untuk waktu yang sangat lama, memandangnya sebagai takdir yang harus diterima.

Saat Eropa masih memandang hujan sebagai takdir atau bahkan kutukan dewa, Tiongkok telah menyelesaikan "masalah" hujan dengan teknologi sederhana yang revolusioner.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Heddels.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU