Rabu, 17 DESEMBER 2025 • 10:20 WIB

Benarkah Ada Kota Rahasia di Bawah Piramida Giza? Ini Penjelasan Para Ahli

Author

Ilustrasi Piramida Giza Agung. (Wikimedia)

INDOZONE.ID - Piramida Giza menjulang sebagai lambang keagungan peradaban Mesir kuno. Di balik pesonanya, tersimpan berbagai spekulasi mengenai misteri yang diyakini berada di bawah struktur tersebut. 

Sejumlah teori modern yang ramai beredar di dunia maya, termasuk dugaan adanya kota bawah tanah, terus memicu rasa ingin tahu publik. 

Terbaru, pernyataan dua peneliti asal Italia kembali menarik perhatian. Lalu, apakah benar terdapat kota tersembunyi di bawah piramida Mesir kuno?

Baca juga: Transformasi Agama Hindu dari Masa ke Masa

Penemuan Struktur Raksasa di Bawah Piramida Khafre

Dua peneliti Italia, Dr. Corrado Malanga, ahli kimia organik yang kini pensiun dan Dr. Filippo Biondi, mantan akademisi sekaligus pakar penginderaan jauh, menyatakan bahwa mereka telah menemukan struktur raksasa berusia 38.000 tahun jauh di bawah Piramida Khafre.

Klaim tersebut, yang sekilas terdengar seperti kisah mitologis atau fiksi ilmiah, langsung memicu perdebatan luas di kalangan arkeolog. 

Dalam sebuah konferensi pers yang digelar di Italia baru-baru ini, kedua ilmuwan itu menyatakan bahwa metode baru hasil paten mereka untuk menganalisis sinyal Synthetic Aperture Radar (SAR) mampu mengidentifikasi keberadaan struktur hingga dua kilometer di bawah permukaan tanah.

Menurut mereka, citra tersebut menampilkan delapan terowongan yang dikelilingi jalur spiral, terhubung ke dua struktur kubus setinggi 90 meter. Di atasnya, terdapat lima struktur lain yang saling terhubung melalui lorong-lorong.

Rekonstruksi berbasis teknologi AI tersebut diklaim merepresentasikan sebuah kota kuno yang melegenda, bahkan ada yang menafsirkannya sebagai “pembangkit energi” dari masa prasejarah. 

Wacana mengenai keberadaan ruang tersembunyi di bawah dataran tinggi Giza sejatinya telah lama berkembang. Sejarawan Yunani kuno, Herodotus, pernah menyinggung hal ini.

Pada masa Abad Pertengahan hingga era Renaisans, isu tersebut kembali mencuat dan semakin menguat pada abad ke-20 ketika cenayang Edgar Cayce menyebarluaskan mitos "Hall of Records", yakni ruang arsip kuno yang diyakini tersembunyi di bawah piramida.

Di era modern, teori-teori ini kerap bercampur dengan klaim pseudosains, termasuk pandangan bahwa piramida adalah teknologi alien.

Salah satu faktor yang membuat klaim terbaru ini cepat menyebar luas adalah rekam jejak akademik kedua peneliti tersebut. Malanga dan Biondi sebelumnya telah mempublikasikan karya ilmiah yang melalui proses penelaahan sejawat terkait struktur internal Piramida Khafre.

Oleh sebab itu, bagi sebagian kalangan, temuan terbaru ini dinilai memiliki tingkat kredibilitas yang lebih tinggi dibandingkan teori konspirasi tentang piramida yang selama ini beredar. 

Narasi tersebut kemudian diperkuat oleh sorotan sejumlah figur publik, seperti Joe Rogan dan Piers Morgan, sehingga gaungnya kian meluas.

Namun, para arkeolog segera menyuarakan keraguan mereka. Dr. Flint Dibble, yang pernah memimpin proyek pemetaan digital tiga dimensi di Abydos, menilai bahwa masyarakat mudah terpengaruh karena klaim tersebut memadukan kredensial akademik dengan istilah teknologi yang terdengar canggih.

Di sisi lain, para ahli menegaskan bahwa teknik penafsiran SAR yang diklaim digunakan belum pernah teruji maupun diverifikasi, serta tidak memiliki kemampuan menembus kedalaman sebagaimana yang disebutkan. 

Dalam praktik umum, teknologi SAR hanya mampu mendeteksi objek hingga sekitar dua meter di bawah permukaan tanah.

"Saya bisa membuat citra satelit apa pun terlihat seperti yang saya inginkan dengan manipulasi yang cukup,” kata Dr. Sarah Parcak, pakar arkeologi satelit. 

Ia menjelaskan bahwa data SAR tidak dapat menembus batuan, sehingga mustahil digunakan untuk memetakan struktur dua kilometer di bawah tanah.

Kecaman serupa turut disampaikan oleh Dr. Zahi Hawass, mantan Menteri Purbakala Mesir. Ia menilai klaim tersebut tidak memiliki dasar yang kuat dan menegaskan bahwa tidak pernah ada izin resmi untuk pelaksanaan penelitian semacam itu di Piramida Khafre. 

Adapun ahli radar penembus tanah, Profesor Lawrence B. Conyers, juga menganggap klaim mengenai kota bawah tanah tersebut sebagai sesuatu yang sangat berlebihan. Masalah utama dari hipotesis kota misterius ini adalah mengabaikan dua abad penelitian arkeologi Giza. 

Berbagai metode, seperti geokimia, refraksi seismik, pemindaian muon, radar penembus tanah, dan penggalian langsung, telah memberikan gambaran jelas tentang apa yang ada di bawah piramida.

Semua penelitian ini saling mendukung bahwa struktur bawah tanah sedalam 2.000 meter tidak mungkin ada, terutama karena muka air tanah di Giza hanya beberapa puluh meter di bawah permukaan.

Baca juga: Temuan Peneliti Mengenai Fosil di New Mexico Ungkap Kerabat Muskox di Zaman Es

Jika benar ada megastruktur di kedalaman itu, maka akan berada di lingkungan bawah air, seperti kota fiksi Atlantis di film Aquaman, bukan kota kering dengan terowongan dan lorong. Pemahaman saat ini tentang Giza menunjukkan bahwa air memiliki peran penting dalam sejarah piramida.

Pada saat piramida dibangun, sebuah cabang Sungai Nil mengalir dekat dataran tinggi Giza, sehingga memudahkan pengangkutan batu.

Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan piramida dapat dijelaskan oleh kecerdasan manusia dan kondisi lingkungan, bukan oleh teknologi asing atau peradaban kuno yang hilang.

Jadi, misteri "kota rahasia" di bawah piramida lebih tepat dianggap sebagai hasil interpretasi data yang salah atau terlalu berlebihan, bukan penemuan arkeologis yang sebenarnya. Seperti banyak teori spektakuler sebelumnya, klaim ini kemungkinan besar akan tetap menjadi mitos, bukan sejarah.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: National Geographic

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU