Jumat, 12 DESEMBER 2025 • 13:44 WIB

Jamdani Muslin, Kain Tenun Warisan Budaya Bengal Kuno yang Sempat Hilang di Era Industri

Author

Jamdani Muslin (youtube @aranyacraftslimited7427). 

INDOZONE.ID - Jamdani muslin adalah kain tenun halus khas Bengal yang berasal dari Dhaka dan Narayanganj di Bangladesh modern sejak abad pertama. 

Dalam catatan kuno, kain ini disebutkan sebagai "dukul" atau kain halus yang diekspor ke berbagai tempat. 

Pada era Kerajaan Mughal (abad ke-16 dan 17), kain ini menjadi kesukaan Sultan Jalaludin Akbar karena motif bunga dan geometris dibuat dengan benang perak, emas, dan putih pada dasar katun muslin transparan. 

Karena diminati dan disukai oleh banyak orang, akhirnya kain ini diekspor ke Eropa, Persia, dan Armenia melalui pelabuhan Bengal dengan pusat produksi di Sonargaon, Dhamrai, dan Jangalbari.

Baca juga: Era Risiko Baru: Prasasti Ungkap Pentingnya Mitigasi Berbasis Sains dan Tata Kelola Ruang

Jamdani muslin menjadi salah satu barang mewah yang di jual di pasar Internasional pada masa itu dan hanya digunakan oleh para bangsawan saja. 

Kain ini juga di juluki Aab-e- Rawan yang artinya air mengalir karena kehalusannya.

Selain menjadi kain, jamdani muslin merupakan representasi identitas Bengal yang tercermin dalam seni, karya sastra, dan praktik sosial. 

Perempuan bangsawan Mughal sering memakai sari atau oodhni dalam pernikahan dan festival Pohela Boishakh. 

Motif terkenalnya, seperti tercha yang memiliki arti delapan bintang, jalar yang yang memiliki arti pohon kehidupan meliuk, paisley yang memiliki arti butiran buah mangga Persia, dan phulwar yang memiliki arti rangkaian bunga liar, melambangkan alam, kesuburan, dan harmoni kosmis.

Baca juga: Seperti Apa Isi Otak Ted Bundy? Jadi Barang Langka yang Diincar Para Peneliti

Penyebab Hilangnya Di Era Industri

Pada akhir abad ke-18, produksi jamdani muslin mengalami penurunan karena British East India Company menguasai Bengal pada Tahun 1765. 

Mereka menekan para penenun lokal untuk menjualnya dengan harga murah dan memanipulasi perdagangan demi keuntungan pribadi.

Selain itu, saat revolusi Inggris pasar Bengal di penuhi oleh tekstil katun mesin murah yang membuat kain ini menjadi 100 kali lipat tidak kompetitif. 

Pada tahun 1830 ekspor Dhaka Muslin juga menjadi anjlok dari 13 juta meter jadi nol sehingga banyak penenun yang bunuh diri atau pindah profesi karena kehilangan mata pencaharian.

Upaya Revitalisasi Modern

Jamdani muslin diakui sebagai Warisan Budaya Dunia pada 1970 oleh pemerintah Bangladesh dan UNESCO. 

Sejak itu, jamdani muslin kembali dibuat di Rupganj dan Narayanganj menggunakan benang impor dari China untuk perbaikan kualitas dan diekspor sebagai sari mewah, meskipun kurangnya penenun muda karena tantangan modern seperti urbanisasi.

Baca juga: Siklon Tropis Senyar Tunjukkan Pentingnya Informasi yang Cepat dan Selaras

Teknik Pembuatan

Proses tenun jamdani sangat memakan waktu dan tenaga. 

Setiap motif ditambahkan secara manual menggunakan tongkat bambu halus dan spool benang individual, menciptakan efek motif yang "mengambang" di permukaan kain muslin tipis. 

Kata Jamdani berasal dari Bahasa Persia yakni "jamdani" berasal dari kata "jam" yang berarti "bunga" dan "dani" berarti "vas." 

Ini mencerminkan pola floral atau tanaman merambat yang kompleks. 

Jenis muslin terbaik digunakan dalam kain ini, yang sering dikombinasikan dengan benang emas untuk tampilan yang lebih mewah.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU