INDOZONE.ID - Sebagai negara yang berada di wilayah Lingkaran Api Pasifik (Ring of Fire), Indonesia dikenal rawan mengalami bencana alam yang berkaitan dengan aktivitas lempeng, salah satunya letusan gunung api.
Berdasarkan data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Indonesia tercatat memiliki 127 gunung aktif yang tersebar di berbagai wilayah.
Dengan jumlah tersebut, Indonesia cukup rawan mengalami erupsi gunung api yang mengeluarkan abu vulkanik dan kerap kali membawa dampak negatif bagi kesehatan.
Namun seperti kata pepatah, 'semua hal di dunia ini pasti memiliki kelebihan dan kekurangan.'
Baca juga: Cultured Meat: Daging "Buatan" yang Bisa Jadi Solusi Ketahanan Pangan Masa Depan
Abu vulkanik juga memiliki dampak positif, khususnya bagi tanah.
Abu vulkanik yang keluar dari erupsi gunung api akan mengendap di dalam tanah dan mengalami pelapukan.
Pelapukan tersebut dalam jangka waktu tertentu akan mengeluarkan berbagai unsur hara yang dibutuhkan tanaman, sehingga tanah pun menjadi lebih subur dan dapat mendorong pertumbuhan tanaman.
Pernyataan tersebut telah dibuktikan penelitian sekelompok peneliti asal Italia dan Jerman.
Mereka membandingkan pertumbuhan umbi kentang menggunakan tanah biasa dan tanah yang dicampur abu vulkanik dari erupsi Gunung Papandayan, Garut, Jawa Barat.
Baca juga: 7 Meteorit Terbesar yang Pernah Jatuh ke Permukaan Bumi, Beratnya Mencapai Puluhan Ton
Melalui publikasinya berjudul Volcanic ash as multi-nutrient mineral fertilize: Science and early applications yang dilansir dari situs Wiley Online Library, mereka menunjukkan perbedaan konsentrasi unsur hara dalam tanah dan abu vulkanik seperti berikut.
Perbandingan Kandungan Unsur Hara Tanah dan Abu Vulkanik
Tanah
- Silika (Si) 45,68%
- Alumunium (Al) 16,67%
- Kalium (K) 1,85%
- Natrium (Na) 2,79%
- Besi (Fe) 10,65%
- Fosfor (P) 0,34%
- Magnesium (Mg) 0,45%
- Kalsium (Ca) 0,33%
- Titanium (Ti) 0,49%
Baca juga: Apa Itu Hunter's Moon? Fenomena Supermoon yang Terjadi 7 Oktober 2025
Abu Vulkanik
- Silika (Si) 48,00%
- Alumunium (Al) 14,00%
- Kalium (K) 12,45%
- Natrium (Na) 3,24%
- Besi (Fe) 9,05%
- Fosfor (P) 0,13%
- Magnesium (Mg) 1,13%
- Kalsium (Ca) 1,50%
- Titanium (Ti) 0,63%
- Secara umum, komponen utama tanah dan abu vulkanik ialah silika (Si) dan alumunium (Al).
Baca juga: Hewan-Hewan Kanibal di Alam Liar yang Jarang Diketahui
Namun, mineral yang dibutuhkan tanah dan tanaman untuk kesuburan yakni berupa kalsium (Ca), natrium (Na), kalium (K), dan magnesium (Mg), di mana komposisi mineral tersebut paling tinggi berada di abu vulkanik.
Dalam penelitian tersebut, dikatakan pula bahwa komposisi tiap abu vulkanik berbeda-beda, sebab banyak faktor yang memengaruhinya.
Hal tersebut didukung pula oleh Guru Besar Fakultas Pertanian dari Universitas Padjajaran, Prof. Dr. Mahfud Arifin, Ir, M.S. yang menjelaskan bahwa gunung api di Indonesia berbeda-beda, baik magma maupun bahan baku material vulkanik.
Uniknya, semakin ke timur keberadaan gunung, maka semakin kaya pula kandungan unsur haranya.
Baca juga: Ilmuwan Jepang Temukan Cara Menghapus Memori Manusia, Menggunakan 'Cahaya Biru'
Hal ini didorong oleh sifat bahan vulkanik di wilayah timur cenderung basaltik (basa), berbeda dengan wilayah barat yang bersifat andesit (asam).
Tak hanya faktor wilayah, ketinggian juga memengaruhi tingkat kekayaan unsur hara abu vulkanik.
Prof. Mahfud menjabarkan bahwa daerah yang berada diketinggian lebih dari 1.000 mdpl mengalami proses pelapukan material vulkanik lebih lambat.
Hal tersebut berkaitan dengan suhu daerah yang rendah, sehingga tanahnya berwarna lebih hitam dan banyak nutrisi akibat pelapukan yang lambat.
Sebaliknya, daerah dengan suhu yang panas akan mengalami pelapukan yang lebih cepat, namun nutrisi tanahnya lebih rendah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Onlinelibrary.wiley.com, Unpad.ac.id