INDOZONE.ID - Platipus merupakan hewan unik yang sejak awal penemuannya sudah membingungkan para ilmuwan.
Bentuk tubuhnya yang tidak biasa bahkan sempat membuatnya dianggap sebagai tipuan atau hoax karena terlihat seperti gabungan beberapa hewan sekaligus.
Berdasarkan laporan dari Discover Magazine, Kamis (16/04/2026) pada akhir 1790-an, naturalis Inggris George Shaw menerima spesimen hewan dari Australia yang membuatnya ragu.
Makhluk tersebut memiliki paruh seperti bebek, tubuh menyerupai berang-berang, serta bulu mirip tikus tanah. Karena keanehannya, Shaw bahkan mencoba memeriksa platipus yang ia anggap merupakan hasil rekayasa atau jahitan dari beberapa hewan berbeda.
Baca juga: Biawak Makan Apa? Simak 4 Daftar Makanan Reptil Ini
Kecurigaan itu wajar, karena pada masa tersebut banyak penipuan ilmiah yang beredar. Namun, seiring penelitian berkembang, platipus akhirnya terbukti sebagai hewan nyata yang benar-benar ada.
Keunikan platipus tidak berhenti pada bentuk fisiknya. Mengutip Discover Magazine, hewan ini memiliki kombinasi karakteristik yang jarang ditemukan dalam satu spesies.
Platipus bertelur seperti burung atau reptil, tetapi setelah menetas, anaknya disusui seperti mamalia. Hal ini menjadikannya bagian dari kelompok monotremata, yaitu mamalia bertelur yang sangat langka.
Berdasarkan laman Cool Green Science, platipus memiliki cara menyusui yang tidak biasa. Mereka tidak memiliki puting susu seperti mamalia lain.
Sebaliknya, susu dikeluarkan melalui kelenjar di kulit dan mengalir di permukaan tubuh induk. Anak platipus kemudian menghisap susu tersebut langsung dari kulit.
Baca juga: Urutan Zaman Prasejarah Berdasarkan Geologi Lengkap
Keunikan lainnya adalah platipus jantan memiliki taji beracun di kaki belakangnya. Mengutip Cool Green Science, racun ini digunakan saat musim kawin untuk melawan pesaing.
Meski tidak mematikan bagi manusia, efeknya bisa menyebabkan rasa sakit yang sangat hebat.
Menariknya, penelitian menunjukkan bahwa racun ini mengandung hormon yang berpotensi membantu pengobatan diabetes di masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Cool Green Science, Discover Magazine