Ilustrasi mudik dan sejarahnya (Gemini AI)
INDOZONE.ID - Apa itu mudik? Istilah ini kerap terdengar menjelang Hari Raya Idulfitri. Namun, tidak semua orang memahami arti dan asal-usulnya. Lalu, sebenarnya apa itu mudik dan bagaimana tradisi ini berkembang di Indonesia?
Mudik adalah tradisi pulang ke kampung halaman yang biasa dilakukan masyarakat Indonesia, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri.
Fenomena ini identik dengan momen Lebaran, ketika jutaan perantau kembali ke daerah asal untuk berkumpul bersama keluarga.
Baca juga: Roy Kiyoshi Ramal Ada Kecelakaan Telan Ribuan Nyawa di Mudik Lebaran, Ingatkan Waspada!
Fenomena ini identik dengan momen Lebaran, ketika jutaan perantau meninggalkan kota tempat mereka bekerja untuk kembali ke desa atau daerah asal demi berkumpul bersama keluarga.
Di Indonesia, mudik bukan sekadar perjalanan biasa. Mudik telah menjadi peristiwa sosial tahunan berskala besar yang melibatkan pergerakan manusia dalam jumlah masif, bahkan disebut sebagai salah satu arus migrasi musiman terbesar di dunia.
Secara umum, mudik berarti pulang ke kampung halaman. Namun, asal-usul nama mudik memiliki beberapa versi.
Salah satu versi menyebutkan bahwa kata “mudik” berasal dari bahasa Jawa, yakni “mulih dhisik” yang berarti “pulang dulu”.
Istilah ini mulai dikenal sejak masa kolonial Belanda untuk menggambarkan kebiasaan para pekerja yang merantau ke kota dan kembali ke desa saat waktu libur, terutama saat Lebaran.
Baca juga: Mudik Lewat Jalur Pantai Selatan, Pasangan Ini Ngaku Diikuti Kuntilanak Sampai Rumah
Antropolog Universitas Gadjah Mada, Prof. Heddy Shri Ahimsa-Putra, menjelaskan bahwa istilah mudik berasal dari kata “udik” dalam bahasa Melayu yang berarti hulu atau ujung.
Pada masa lampau, masyarakat Melayu yang tinggal di hulu sungai kerap pergi ke hilir untuk berdagang atau mengurus keperluan tertentu.
Setelah selesai, mereka kembali ke hulu atau kembali ke kampung halaman. Dari konteks inilah istilah mudik berkembang.
Lebih lanjut, Prof. Heddy Shri Ahimsa-Putra, menjelaskan bahwa istilah mudik mulai populer pada era 1970-an. Saat itu, pembangunan besar-besaran di kota seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan mendorong urbanisasi. Banyak orang desa merantau untuk mencari pekerjaan, lalu kembali ke kampung saat momen penting seperti Idulfitri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ugm.ac.id, Unair.ac.id