INDOZONE.ID - Teori wormhole sering kali dipandang sebagai kunci untuk melintasi alam semesta yang diisi oleh triliunan galaksi dan miliaran bintang.
Luasnya ruang angkasa ini menyimpan miliaran planet potensial yang bisa menjadi destinasi migrasi manusia jika Bumi hancur.
Kehancuran tersebut bisa datang dari alam, seperti jatuhnya meteor besar, atau dipicu oleh tangan manusia melalui peperangan.
Di tengah ketidakpastian masa depan Bumi, planet-planet di kejauhan sana menjadi harapan bagi keberlangsungan spesies kita.
Pencarian planet baru yang bisa dihuni manusia hanya terhambat oleh kerja sama global dan masalah teknis transportasi.
Baca juga: Mars Bisa Picu Zaman Es di Bumi, Ini Penjelasan Ilmiahnya
Masalah fundamental dalam penjelajahan antarbintang adalah jarak tempuh. Gliese 581 d, salah satu planet paling potensial, terletak sejauh 20 tahun cahaya.
Mengingat kecepatan cahaya adalah batas tertinggi di alam semesta, dan teknologi manusia saat ini belum mampu mendekati kecepatan tersebut, maka mengunjungi tetangga terdekat kita di luar angkasa masih menjadi impian yang sulit dijangkau secara fisik.
Harapan muncul dari prinsip dasar alam semesta. Berdasarkan teori relativitas umum, para ilmuwan memprediksi adanya entitas yang berperan sebagai jalur lintas galaksi, yang dikenal dengan istilah lubang cacing (wormhole).
Meski penyebutannya terdengar unik, fenomena ini bukanlah lubang fisik maupun terkait dengan makhluk hidup. Secara teoritis, lubang cacing adalah distorsi dalam struktur ruang-waktu yang mampu menjembatani dua titik ekstrem yang saling berjauhan di kosmos.
Melalui 'jalan pintas' ini, perjalanan antarbintang yang seharusnya memerlukan waktu ribuan tahun cahaya dapat dipangkas secara signifikan.
Baca juga: 6 Arti Mimpi Melihat Lubang Hitam Menurut Primbon Jawa, Ini Maknanya
Jangan menyamakan lubang cacing dengan lubang hitam yang mematikan. Lubang hitam ibarat jalan buntu yang menghisap segala sesuatu tanpa pernah mengembalikannya ke ruang angkasa.
Di sana, materi akan tercabik-cabik hingga partikel terkecil dan terserap ke dalam pusat gravitasinya yang padat. Namun, lubang cacing menawarkan konsep yang berbeda.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Scientificamerican.com