Kisah Ita Martadinata, Penyintas Kerusuhan Mei 98 yang Dibunuh Sebelum Bersaksi di Sidang PBB
INDOZONE.ID - Bulan Mei tentu mengingatkan kepada kejadian tragis 27 tahun lalu dimana terjadi kerusuhan Mei 98 yang penuh intimidasi kekerasan kepada etnis Tionghoa, mulai dari penjarahan, kebakarn hingga pemerkosaan kepada wanita etnis Tionghoa. Salah satunya terjadi kepada Ita Martadinata.
Ita yang bangkit untuk bersuara secara internasional, ternyata ditemukan meninggal dunia karena pembunuhan yang penuh kejanggalan. Apakah ini adalah kasus kejahatan murni atau ada hubungan dengan rencana kesaksian Ita?
Berikut ini beberapa fakta yang dirangkum dari akun detectives_id di Intsagram.
Korban-korban kerusuhan Mei 98
Menurut data Tim Gabungan Pencari Fakta yang dikutip dari laporan Komnas Perempuan (1999), tercatat ada168 korban kekerasan seksual massal yang melapor (setidaknya sampai Juli 1998) akibat Kerusuhan Mei 1998. Ita Martadinata adalah salah satunya yang saat itu berusia 18 tahun.
Ita Martadinata Haryono, seorang siswi kelas III SMA Paskalis kelahiran 21 Maret 1980, adalah satu-satunya korban pemerkosaan yang berani bersuara, memberi konseling untuk sesama korban, dan menyatakan siap bertestimoni.
Rencana Ita Martadinata untuk bersuara
Ita dan ibunya, Wiwin Haryono, berencana akan segera berangkat ke USA dengan 4 korban Kerusuhan Mei 1998 lainnya sebagai bagian dari Tim Relawan untuk Kemanusiaan, untuk memberikan kesaksian di Sidang PBB di hadapan Kongres Amerika Serikat
Sebelumnya, beberapa orang dari anggota Tim Relawan Untuk Kemanusiaan, yang mendukung Ita untuk bersaksi di Internasional, telah menerima surat ancaman akan dibunuh apabila mereka tidak segera menghentikan bantuan mereka terhadap investigasi internasional atas perkosaan, pembunuhan, dan pembakaran atas sejumlah perempuan Tionghoa dalam Kerusuhan Mei 1998.
Terbunuhnya Ita Martadinata
Tiga hari setelah menjelaskan ke media akan pengancaman, atau tepatnya 9 Oktober 1998, Ita Mardinata ditemukan tewas di rumahnya di Jakarta Pusat. Perut, dada dan lengan kanannya ditikam berkali-kali, sayatan di leher dan alat kela*in yang rusak.
Polisi menyebutkan bila Ita tewas dibunuh pecandu yang merampok rumahnya. Padahal seminggu lagi Ita akan ke USA, sehingga banyak yang merasa janggal namun tak bisa bersuara.
Baca Juga: Misteri Kematian Lambang Babar Purnomo: Arkeolog Pemberani yang Menguak Mafia Koleksi Museum
Pelaku pembunuhan dan tanggapan polisi dan media massa saat itu
Pihak berwajib mengumumkan kematian Ita hanyalah suatu kejahatan biasa, yang dilakukan oleh Suryadi alias Otong, seorang pecandu obat bius yang ingin merampok rumah Ita, namun tertangkap basah, sehingga membunuh gadis itu.
Sementera itu, pemberitaan media massa saat itu membingkai pembunuhan Ita Martadina sebagai peristiwa insidental dan mengorek kehidupan personalnya, alih-alih membuat hubungan dengan fakta rencana Ita untuk bersaksi di Amerika.
Pembunuhan anggota tim relawan teman Ita Martadinata
Pada November 1998, jelang Sidang MPR pasca lengsernya Soeharto, anggota Tim Relawan yang dekat dengan Ita Martadinata juga tewas. Benardinus Realino Norma Irmawan, atau Wawan tewas ditembus peluru di depan kampusnya Atmajaya.
Berdasarkan kisah dari sang ibu, Wawan ditembak dari arah depan saat hendak menolong rekannya yang juga tertembak. Ia langsung rebah ke tanah, dengan timah panas bersarang di jantung.
Penghormatan untuk Ita Martadinata
Pada 13 Mei 2021, perkumpulan sosial Boen Hiang Tong di kawasan pecinan Semarang mendedikasikan sebuah sinci (papan arwah) untuk Ita Martadinata, untuk mengenang hidup dan perjuangannya. Tentunya sambil berharap kasus kematiannya yang janggal bisa kembali dikuak kembali.
Baca Juga: Peristiwa Tanjung Priok, Kerusuhan yang Dipicu oleh Pria Berpakaian Militer Palsu
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram