Kamis, 27 MARET 2025 • 13:40 WIB

Tragedi Teror Woo Bum Kon, Pembantaian Polisi yang Menewaskan 57 Orang di Korea Selatan

Author

Tragedi Teror Woo Bum Kon, Polisi yang Menewaskan 57 Orang di Korea Selatan.

INDOZONE.ID - Kisah ini adalah salah satu tragedi paling mengerikan dalam sejarah modern Korea Selatan.

Sebuah peristiwa yang dimulai dari amarah pribadi, berkembang menjadi aksi pembantaian yang menewaskan puluhan orang dalam satu malam.

Ini bukan hanya sekadar kisah kejahatan, tetapi juga pengingat tentang betapa pentingnya stabilitas mental, pengawasan ketat terhadap aparat bersenjata, dan sistem yang mampu mencegah tragedi serupa terjadi lagi.

Woo Bum Kon, pria yang lahir pada 24 Februari 1955, awalnya adalah seorang polisi yang bertugas di Korea Selatan.

Namun, namanya justru tercatat dalam sejarah sebagai salah satu pelaku pembunuhan massal terbesar di era modern.

Dalam tragedi yang mengguncang Gyeongsangnam-do, Korea Selatan, aksi brutalnya menewaskan 57 orang, termasuk dirinya sendiri dan melukai 35 orang lainnya.

Diketahui, Woo pernah bertugas di Marinir Korea Selatan hingga tahun 1978. Pada bulan Desember 1980, ia dipekerjakan oleh Kepolisian Nasional di Pusan ​​dan menetap di desa Torongni pada bulan Desember 1981, setelah dipindahkan ke kantor polisi setempat di Kungyu.

Tragedi Pembantaian

Ilustrasi pembunuh masal.

Kejadian ini bermula saat Woo bertengkar dengan pacarnya yang tinggal serumah, Chun Mal-soon, pada sore hari tanggal 26 April 1982, setelah Chun membangunkannya dengan menepuk lalat di dadanya.

Setelah kejadi itu, Woo marah dan meninggalkan rumah untuk pergi ke kantor polisi, di mana ia melapor untuk bertugas pada pukul 4 sore dengan mulai meminum minuman dalam jumlah yang banyak.

Sekitar pukul 7:30 malam, Woo kembali ke rumah untuk melakukan aksi kekerasan seperti memukul dan menendang pacarnya, hingga menghancurkan perabotan, sebelum akhirnya berjalan menuju gudang senjata.

Baca Juga: Terungkap Misteri Hilangnya Feni Ere, Sales Mobil yang Dibunuh Secara Tragis

Ketika petugas lainnya sedang melakukan rapat, ia berhasil mengumpulkan persenjataan, yang terdiri dari dua karabin M2, 180 butir amunisi, dan tujuh granat tangan tanpa diketahui.

Lalu, sekitar pukul 9:30 malam, Woo mulai menembaki orang-orang yang lewat di desa Torongni dan juga melukai Chun Mal-soon, yang pergi untuk menyelidiki, setelah mendengar tembakan di desa tersebut.

Perhentian berikutnya adalah kantor pos di desa Kungryu, di mana ia membunuh tiga operator telepon dan memutus saluran untuk mencegah orang lain menghubungi layanan darurat.

Sejak saat itu ia melanjutkan perjalanan dari desa ke desa, memanfaatkan posisinya sebagai petugas polisi untuk memasuki rumah-rumah dan menembak penduduknya.

Dengan cara itu, Woo membunuh 18 orang di desa Ungye, dan 24 lainnya di desa Pyongchon.

Pada satu titik, ia memerintahkan seorang anak laki-laki berusia 16 tahun untuk mengambilkannya minuman ringan dari toko kelontong.

Setelah mendapatkan apa yang dimintanya, Woo menembak anak laki-laki itu dan keluarganya.

Woo menembak sebagian besar korbannya, tapi dalam satu kejadian, ia melakukan sesuatu yang lebih kejam dengan menghabisi satu keluarga menggunakan granat.

Polisi baru mendapat laporan sekitar satu jam setelah pembantaian dimulai.

Entah bagaimana, Woo berhasil terus bergerak, menghindari penangkapan, dan melanjutkan aksinya selama delapan jam tanpa henti.

Ilustrasi pembunuhan dengan granat.

Pada dini hari tanggal 27 April, setelah meneror lima desa di Uiryeong, dia mengambil dua granat terakhir dan mengikat ke tubuhnya.

Woo lalu bersembunyi di rumah pria 68 tahun bernama Suh In-Su, menyandera dia dan keluarganya.

Ketika polisi akhirnya mengepung, ia mengambil langkah terakhir dengan menyalakan granat yang meledakkan dirinya bersama tiga sanderanya. Beruntungnya Suh selamat, meski dengan luka yang cukup parah.

Secara keseluruhan, amukan Woo Bum Kon menorehkan sejarah kelam sebagai pembunuhan massal dengan korban terbanyak di era modern, yang menewaskan 57 orang dan 35 lainnya luka-luka.

Setelah tragedi ini, pacarnya, Chun Mal-soon, mengungkapkan bahwa Woo sering merasa rendah diri dan terganggu dengan komentar orang-orang di desa tentang hubungan mereka yang belum menikah.

Baca Juga: Tragedi Taruna AL yang Tubuhnya Disetrika 90 Kali hingga Berakhir Tak Bernyawa

Tragedi ini juga membawa dampak besar di tingkat pemerintahan. Kepala polisi provinsi dicopot dari jabatannya dan empat petugas lainnya ditangkap, karena dianggap lalai dalam menjalankan tugas mereka.

Menteri Dalam Negeri Korea Selatan, Suh Chung-hwa dan kepala polisi nasional, An Eung-mo, juga mengajukan pengunduran diri sebagai bentuk penebusan atas amukan Woo.

Suh Chung-hwa mengundurkan diri dari jabatannya pada tanggal 29 April, dan Roh Tae-woo diangkat menjadi Menteri Dalam Negeri untuk menggantikannya.

Tim khusus parlemen akhirnya dibentuk, terdiri dari 19 anggota dan dipimpin oleh Ketua Komite Urusan Dalam Negeri Kim Chong-hoh, bertujuan untuk menyelidiki penembakan tersebut dan penanganan yang buruk oleh polisi.

Selanjutnya, Kabinet Korea Selatan memutuskan untuk membayar kompensasi kepada para korban dan keluarga mereka.

Tragedi pembantaian besar ini meninggalkan luka mendalam bagi banyak orang dan memaksa pemerintah untuk mengevaluasi sistem keamanan mereka.

Peristiwa ini memberikan kita pelajaran bahwa kekuatan yang diberikan kepada seseorang harus diiringi dengan tanggung jawab, serta pentingnya deteksi dini terhadap tanda-tanda bahaya sebelum semuanya terlambat.

Sejarah memang mencatat peristiwa kelam, tetapi dari setiap tragedi, ada pelajaran yang bisa dipetik. Semoga kejadian serupa tidak terjadi lagi dibelahan dunia mana pun.

Penulis: Eliani Kusnedi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Murderpedia.org

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU