Minggu, 23 JUNI 2024 • 17:00 WIB

Misteri Kematian Roberto Calvi, Manajer Bank yang Tewas Tergantung di Jembatan Kota London Diduga Terkait Freemason dan Mafia

Author

Ilustrasi

INDOZONE.ID - Pada 18 Juni 1982 pukul 07:30 waktu setempat, seorang tukang pos dikejutkan dengan penemuan mayat seorang pria yang tergantung di atas sebuah perancah atau scaffolding dekat Jembatan Blackfriars, London, Inggris.

Mayat pria itu mengantongi 5 buah batu bata di dalam saku pakaiannya dan membawa uang senilai $45.600 yang dibagi ke dalam 3 mata uang yang berbeda.

Dari hasil investigasi Polisi, korban diketahui bernama Roberto Calvi, seorang manajer bank asal Milan, Italia, yang sempat menjadi pusat perhatian di Italia beberapa tahun sebelumnya.

Pada tahap awal hasil autopsi, Roberto diduga mati bunuh diri. Namun di pengadilan yang digelar pada bulan Juli 1983, para hakim menilai kalau penyebab kematian Roberto masih abu-abu.

Menanggapi keputusan sidang yang dinilai kurang memuaskan, pihak keluarga Roberto menyewa jasa seorang detektif dan dokter forensik bernama Jeff Katz dan Angela Gallop untuk melanjutkan proses autopsi di tahun 1991. Dan hasilnya cukup mengejutkan.

Mereka tidak menemukan bekas karatan besi dan cat di sepatu Roberto. Itu berarti, Roberto tidak mungkin berjalan di atas perancah untuk menghabisi nyawanya sendiri.

Di tahun 2002, tim forensik asal Jerman ikut membantu proses autopsi pada mayat Roberto.

Dari temuan mereka, tidak ditemukan bekas sidik jari Roberto pada batu bata yang ditemukan di saku pakaiannya.

Mereka juga berteori soal bagaimana mayat Roberto bisa tergantung di atas perancah itu.

Dalam analisanya, kondisi Sungai Thames yang mengalir di bawah jembatan sedang dalam kondisi surut, memungkinkan seseorang yang naik perahu melalui sungai tersebut untuk menjangkau bagian ujung atas perancah itu.

Baca Juga: Kisah Eugen Weidmann, Sang Napi Terakhir di Perancis yang Dihukum Pancung depan Publik

Kemungkinannya adalah Roberto sempat dihabisi nyawanya terlebih dahulu di suatu tempat.

Si pelaku kemudian membawa mayat Roberto menggunakan perahu ke bawah jembatan untuk menggantung mayatnya di atas perancah, layaknya menjemur pakaian.

Jembatan Blackfriars

Di tahun 2003, Kepolisian London kembali membuka kasus ini. Beruntung, mereka berhasil menemukan sejumlah temuan baru.

Secara mengejutkan, Roberto diketahui sebagai salah satu anggota kelompok Freemason asal Italia yang dipimpin oleh Licio Gelli.

Hal tersebut didasarkan pada temuan mayat Sergio Vaccari, seorang pengedar narkoba yang turut mengantongi batu bata di dalam saku pakaiannya.

Dengan adanya persamaan pada mayatnya Roberto dan Sergio, Polisi berkesimpulan kalau mereka berdua merupakan anggota kelompok Freemason yang sama.

Jauh sebelum penemuan fakta soal hubungan Roberto dan kelompok Freemason, di bulan Juli 1991, seorang mantan anggota kelompok Mafia Sisilia yang bernama Francesco Marino Mannoia, sempat menyebut nama Roberto Calvi.

Menurutnya, Roberto sudah menjadi incaran kelompok mafianya karena sudah menghilangkan uang milik bos Mafia Sisilia yang disimpan di Banco Ambrosiano, bank milik Roberto semasa hidupnya.

Uang tersebut hilang bersamaan dengan ditutupnya bank akibat skandal perbankan yang terjadi beberapa tahun sebelumnya.

Francesco juga menyebutkan 2 nama anggota Mafia Sisilia yang diduga sebagai pembunuh Roberto, yakni Francesco Di Carlo dan Giuseppe Calo.

Tak lama setelahnya, Di Carlo datang menghadap kepolisian untuk memberikan keterangan. Ia dinilai kooperatif oleh pihak kepolisian.

Bukan cuma itu, Di Carlo juga berhasil meyakinkan Polisi kalau Ia bukan pelakunya.

Kemudian, Di Carlo memberi 2 nama kepada kepolisian sebagai terduga pelaku dalam kasus Roberto, yaitu Vincenzo Casillo dan Sergio Vaccari, si pengedar narkoba.

Dalam penuturan Di Carlo, Vincenzo dan Sergio adalah anggota mafia dari kelompok Camorra yang beroperasi di wilayah Napoli.

Lanjut ke tahun 1997, Francesco Di Carlo dan Giuseppe Calo kembali dipanggil oleh kepolisian sebagai terduga pelaku pembunuhan Roberto Calvi.

Bersama mereka ada juga Flavio Carboni dan Ernesto Diotallevi, 2 orang kriminal yang paling dicari di Italia saat itu.

Baca Juga: Kisah Marianne Bachmeier, Ibu di Jerman yang Tembak Pembunuh Anaknya hingga Tewas di Hadapan Hakim

Dalam persidangan yang digelar pada bulan Juli 2003, Mafia Sisilia diketahui hanya sebatas mengincar Roberto saja, mereka sama sekali tidak terbukti terlibat dengan upaya pembunuhan terhadap Roberto.

Selang 2 tahun kemudian, Licio Gelli akhirnya dipanggil oleh kepolisian atas bukti keterlibatannya dalam kasus kematian Roberto.

Licio Gelli

Bersamaan dengan dipanggilnya Licio, daftar terduga pelakunya berubah. Mereka adalah Licio, Giuseppe, Ernesto, Flavio dan pacarnya yang bernama Manuela Kleinszig.

Karena sebelumnya Di Carlo sudah dinilai kooperatif oleh kepolisian, maka Ia pun dibebaskan dari segala tuduhan yang dijatuhkan kepadanya.

Dalam pengakuan Licio, Ia sempat memberikan sebuah "peringatan" kepada Roberto untuk tidak melakukan penyalahgunaan pada kekuasaan dan keuangan yang dimilikinya. Ini dilakukan dengan menyewa jasa mafia untuk menghabisi nyawanya Roberto.

Bahkan, dalam pengakuan Di Carlo, Ia menyebut kalau Giuseppe lah yang dipilih sebagai orang kepercayaan Licio untuk menghabisi nyawanya Roberto.

Disinilah hal yang tak terduga terjadi lagi. Lewat persidangan yang digelar pada 6 Juni 2007, Licio, Ernesto, Flavio, dan Manuela, dinyatakan tidak bersalah karena kurangnya bukti keterlibatan mereka terkait kasus kematian Roberto.

Di sisi lain, Giuseppe sempat dinyatakan tidak bersalah oleh hakim. Tapi sampai saat ini, Giuseppe masih mendekam di penjara dengan vonis seumur hidup karena aksi kriminalnya sebagai anggota mafia.

Namun hukuman ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan kasus kematian Roberto.

Giuseppe sudah ditahan sejak tahun 1985. Saat kasus Roberto naik ke publik, Ia kembali menjalani persidangan karena dugaan keterlibatannya terkait kasus tersebut.

Giuseppe Calo

Tentang Roberto Calvi

Roberto Calvi adalah seorang bankir asal kota Milan, Italia kelahiran 13 April 1920.

Ia dijuluki "Bankir Tuhan" oleh media karena kedekatannya dengan sebuah kelompok agama Katolik Roma dari Vatikan bernama Holy See.

Roberto Calvi

Ayah Roberto adalah manajer dari Bank Komersial Italia. Ia sempat ikut bekerja di Bank milik sang Ayah pasca Perang Dunia ke-2, sebelum akhirnya pindah ke Banco Ambrosiano pada tahun 1947.

Roberto menikah pada tahun 1952 dan memiliki 2 orang anak dari pernikahannya ini.

Pada awalnya, Roberto bertugas sebagai asisten pribadi dari Carlo Alessandro Canesi, manajer Banco Ambrosiano pada saat itu.

Karier Roberto terus mengalami kemajuan hingga akhirnya menjadi penerus dari Carlo Canesi sebagai manajer Banco Ambrosiano pada tahun 1975.

Gedung Banco Ambrosiano

Skandal Banco Ambrosiano

Di tahun 1978, Banco Ambrosiano dilaporkan oleh Bank Italia karena adanya bukti transaksi ilegal yang nilainya sekitar 93,3 juta US Dolar.

Atas bukti laporan tersebut, Roberto selaku manajer bank diadili pada tahun 1981.

Ia mendapat hukuman penangguhan jabatan selama 4 tahun dan denda sebesar 68,4 juta US Dolar.

Tak butuh waktu lama bagi Roberto untuk menjalani masa hukumannya, karena bisa bebas usai membayar uang jaminan agar Ia tidak kehilangan jabatannya.

Tapi, Roberto rupanya sempat mendekam di penjara dalam waktu yang singkat. Selama di penjara, Roberto sempat mencoba untuk menghabisi nyawanya sendiri karena stres akibat tuduhan yang ditimpakan kepadanya.

Menurut keluarga Roberto, Ia adalah korban penipuan dari sejumlah oknum yang meminta agar Roberto menyetujui aliran dana ilegal itu.

Di sisi lain, transaksi ilegal yang dilakukan Banco Ambrosiano diduga ada kaitannya dengan skandal Bank Nasional Franklin, Long Island, New York, AS pada tahun 1974 silam.

Baca Juga: Kisah Tragis Reporter Koran yang Tewas di Tangan Al Capone, Sang Ketua Gangster Legendaris AS Hanya Gara-gara Ini

Bersamaan dengan ditutupnya bank tersebut, kelompok agama Holy See juga mengalami kerugian sebesar 191,1 juta US Dolar.

Bank tersebut ditutup karena banyaknya kredit macet dan transaksi dana ke luar negeri yang tidak terkontrol.

Bahkan, ditutupnya bank ini sampai membuat sang manajer bank yang bernama Michele Sindona, mati bunuh diri dengan cara meminum kopi sianida.

Sampai di bulan Juni 1982, Banco Ambrosiano resmi ditutup usai memiliki tunggakan utang sebesar 2,3-4,9 miliar US Dolar.

Setelah diteliti lebih lanjut, barulah diketahui kalau Bank Vatikan juga terlibat dengan semua transaksi ilegal yang dilakukan oleh Banco Ambrosiano.

Sekitar 2 minggu sebelum ditutup, Roberto sempat mengirim surat kepada Paus John Paul II yang isinya berupa peringatan, bahwa skandal perbankan yang terjadi antara Italia dan Vatikan ini akan memicu kerugian besar bagi kegiatan jemaat Gereja Katolik di sana.

Selang 2 tahun pasca kematian Roberto, pihak Bank Vatikan mengembalikan uang sebesar 677,1 juta US Dolar kepada sejumlah kreditur Banco Ambrosiano, sebagai bentuk "pengakuan atas dukungan moral" yang mereka berikan pasca ditutupnya bank.

Diduga kalau tindakan pihak Bank Vatikan tersebut adalah upaya "cuci tangan" dari skandal yang selama ini terjadi.

Namun, tidak ada satupun bukti keterlibatan Bank Vatikan terkait skandal tersebut.

Soal transaksi yang dilakukan oleh Banco Ambrosiano dan Bank Vatikan, semua itu murni ditujukan untuk kegiatan ibadah saja.

Tidak seperti yang dikatakan oleh kelompok Freemason milik Licio Gelli dan kelompok Mafia Sisilia yang menuduh adanya praktik pencucian uang yang dilakukan oleh Banco Ambrosiano.


Konten ini adalah kiriman dari Z Creators Indozone. Yuk bikin cerita dan konten serumu serta dapatkan berbagai reward menarik! Let's join Z Creators dengan klik di sini.

Banner Z Creators.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wikipedia

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU