Kisah Dibalik Penusukan Massal di Akihabara oleh Tomohiro yang Dituntut Orang Tua Jadi Sempurna
INDOZONE.ID - Pada 8 Juni 2008 di Akihabara, Tokyo, Jepang, terjadi sebuah kasus penusukan massal oleh seorang pria bernama Tomohiro Kato.
Pada awalnya, Tomohiro membawa sebuah mobil truk ke pusat perbelanjaan di Akihabara, sembari menerobos kerumunan pejalan kaki yang sedang menyebrang. Akibatnya, Ia menabrak 5 orang pejalan kaki.
Warga setempat yang melihat kejadian itu menghampiri para korban untuk menolong mereka, membuat kerumunan warga kembali berkumpul di satu titik. Saat itulah Tomohiro mulai melakukan aksi penusukan kepada para korbannya.
Sebanyak 17 mobil ambulans dikerahkan ke lokasi untuk menolong para korban. Dari peristiwa tersebut, sebanyak 7 orang meninggal dunia dan 10 orang lainnya mengalami luka parah.
Beruntung, Tomohiro berhasil ditangkap usai kejadian. Ia sempat dibawa ke kantor Kejaksaan Tokyo selang 2 hari setelah kejadian.
Tetapi, 10 hari setelah dibawa ke kantor kejaksaan, Tomohiro kembali berulah dengan melakukan penusukan terhadap 7 orang warga.
Tak butuh waktu lama bagi kepolisian untuk meringkus Tomohiro pasca kejadian tersebut. Butuh waktu sekitar 3 tahun bagi Tomohiro untuk mendapatkan vonis resmi dari hakim.
Berdasarkan hasil persidangan yang digelar pada 24 Maret 2011, Tomohiro resmi dijatuhi hukuman mati. Tomohiro menjalani proses eksekusi mati pada 26 Juli 2022 dengan cara digantung.
Tentang Tomohiro Kato
Tomohiro Kato, seorang pria asal Aomori, Tohoku, Jepang kelahiran 28 September 1982. Tomohiro berasal dari keluarga berada, yang Ayahnya adalah seorang manajer di sebuah institusi finansial.
Pendidikan Tomohiro juga terbilang cukup baik, setidaknya sampai Ia duduk di bangku SMP. Ketika memasuki SMA Aomori, nilai Tomohiro mulai anjlok hingga membuatnya gagal dalam seleksi masuk ke Universitas Hokkaido.
Meski begitu, Tomohiro tetap melanjutkan studinya di Universitas Otomotif Nakanihon. Setelah lulus kuliah, Tomohiro sempat bekerja sebagai pegawai sementara di sebuah pabrik otomotif di prefektur Shizuoka.
Baca Juga: Kisah Mamoru Takuma, Korban Penyiksaan Sang Ayah yang Bantai Sekolah Dasar Osaka
Tomohiro diketahui tidak memiliki hubungan yang harmonis dengan orang tuanya, karena mereka terlalu menuntut Tomohiro dan Adiknya untuk "sempurna". Alhasil, Tomohiro pun jarang pulang ke rumah.
Satu waktu di tahun 2006, Tomohiro pernah melakukan upaya bunuh diri karena terlilit utang. Tak hanya itu, alasan lain mengapa Tomohiro melakukan itu adalah karena merasa kalau Ia sudah "dilupakan" oleh orang tuanya.
Selang 3 hari sebelum kejadian penusukan di Akihabara, Tomohiro sempat "mencari gara-gara" di tempat kerjanya dengan alasan pakaian kerjanya disembunyikan oleh rekannya.
Ia melakukan itu supaya Ia bisa dipecat dan bebas untuk melakukan tindakan kejahatannya. Tapi kenyataannya, itu hanyalah upaya Tomohiro untuk sekedar mencari perhatian saja.
Setelah uring-uringan di tempat kerja, Tomohiro pun pergi di saat jam kerja masih berlangsung.
Keesokan harinya, Tomohiro mulai membeli berbagai macam persenjataan yang akan Dia gunakan saat di Akihabara. Beberapa di antaranya ada pentungan, sarung tangan kulit, dan juga pisau.
Sehari sebelum kejadian, Tomohiro menjual komputer miliknya untuk menyewa truk.
Dari hasil penyelidikan, sekitar 20 menit sebelum kejadian, Polisi berhasil menemukan situs pribadi Tomohiro yang isinya hanya pesan-pesan pribadi.
Di antara pesan-pesan tersebut, Polisi berhasil menemukan sebuah pesan yang bertuliskan, "Aku akan membunuh orang di Akihabara".
Fakta Menarik Pasca Kejadian
Di hari yang sama saat kejadian, warga setempat langsung membuat tempat penghormatan kepada para korban.
Kejadian ini membuat masyarakat Jepang takut dan terkejut, karena mereka tak menyangka kalau kejadian seperti ini akan terjadi di Akihabara.
Akibat kejadian ini, Konami selaku publisher dan developer game "Metal Gear Solid 4: Guns of the Patriots", membatalkan 3 acara peluncuran game keempat dari waralaba Metal Gear Solid yang rencananya akan digelar di Akihabara.
Bukan cuma itu, Bandai dan Toei selaku perusahaan ternama di industri hiburan Jepang, sempat melakukan perubahan pada mainan "Engine Sentai Go-onger".
Baca Juga: Mirip Kasus Vina Cirebon, Inilah 3 Kasus Kriminal Luar Negeri yang Diungkap Arwah Korbannya
Perubahan ini dilakukan untuk menghindari sekaligus mengedukasi anak-anak tentang bahaya dari penyalahgunaan benda tajam.
Perubahan yang dimaksud adalah mengubah model senjata mainan "Engine Sentai Go-onger" yang semula menyerupai pisau, menjadi sebuah senapan roket.
Fakta menarik lainnya datang dari keluarganya Tomohiro. Akibat perbuatan Tomohiro, kini orang tuanya mulai tersadar dari perbuatan mereka yang selalu menuntut anak-anaknya agar menjadi seorang yang "sempurna".
Mereka menyampaikan permohonan maaf mereka secara langsung, lewat tayangan Televisi kepada keluarga para korban.
Nasib terakhir kedua orang tuanya Tomohiro hanya terlacak sampai di tahun 2010 saja. Ayah Tomohiro memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai manajer.
Sementara Ibunya mengalami sakit berat karena tekanan mental yang dialaminya.
Di sisi lain pada April 2014, kabar mengejutkan datang dari Adiknya Tomohiro, dimana Ia mengakhiri hidupnya sendiri karena malu dengan perbuatan Kakaknya.
Konten ini adalah kiriman dari Z Creators Indozone. Yuk bikin cerita dan konten serumu serta dapatkan berbagai reward menarik! Let's join Z Creators dengan klik di sini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wikipedia, Murderpedia.org