Senin, 17 JUNI 2024 • 19:20 WIB

Tsutomu Miyazaki, Si Otaku Sadis yang Bunuh Bocah-bocah 4 Tahun dan Makan Jasadnya

Author

Ilustrasi

INDOZONE.ID - Wibu dan Otaku, 2 istilah yang merujuk kepada seseorang yang memiliki kesukaan pada budaya pop Jepang.

Bedanya, Wibu adalah sebutan bagi orang yang menyukai semua budaya pop Jepang, mulai dari anime, manga, musik, kebudayaan dan sebagainya.

Sementara Otaku adalah sebutan bagi orang yang hanya menyukai satu budaya pop Jepang secara spesifik, entah itu hanya menyukai anime dan manga saja, musik J-Pop saja, kebudayaan Jepang saja, dan sebagainya.

Istilah ini mulai menyebar secara global seiring dengan berkembangnya kebudayaan Jepang di seluruh dunia.

Salah satunya adalah Indonesia. Di negara kita, istilah Wibu ini lebih sering digunakan ketimbang istilah Otaku.

Bahkan, istilah ini sampai digeneralisasi oleh para netizen Indonesia sebagai salah satu bahan "olokan" kepada orang lain.

Sedikit informasi, pada awal era 1990-an, masyarakat Jepang sempat mengecam keras para Otaku karena 1 kasus yang disebabkan oleh seorang pria di Tokyo dan Saitama.

Bagaimana bisa itu terjadi? Berikut adalah pembahasannya.

Tsutomu Miyazaki, Si Otaku Sadis

Tsutomu Miyazaki adalah seorang pria asal Itsukaichi, Tokyo, kelahiran 21 Agustus 1962. Miyazaki berasal dari keluarga berada, orang tuanya adalah pemilik dari perusahaan media cetak ternama di Itsukaichi.

Ciri khas dari Miyazaki ini adalah tangannya yang cacat, mengakibatkan dia tidak dapat menggerakkan tangan dari bagian pergelangan ke atasnya.

Ini semua diakibatkan oleh kelahiran Miyazaki yang prematur. Karena ciri khasnya inilah Ia dikenal sebagai "Manusia Tikus".

Masa Kecil yang Penuh dengan Kesendirian

Di masa kecilnya, Miyazaki tinggal di rumah Kakeknya. Tidak hanya diasuh oleh Kakeknya, Ia juga diasuh oleh pengasuh keluarga yang kebetulan adalah seorang difabel.

Saat menginjak bangku SD, Miyazaki selalu dikucilkan oleh teman-temannya karena kecacatan di tangannya.

Meski begitu, Ia berhasil melanjutkan pendidikannya dan bisa lulus dari Universitas Meiji. Setelah lulus kuliah, Miyazaki mulai bekerja sebagai fotografer.

Baca Juga: 3 Kisah Nyata Kasus Psikopat Sadis yang Meneror Rumah dan Membunuh Korban dengan Kejam

Di pertengahan era 1980-an, Miyazaki memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya. Namun, mereka seakan tidak menganggap keberadaan Miyazaki di antara mereka.

Sampai di bulan Mei 1988, Miyazaki harus kehilangan sang Kakek untuk selamanya. Dan dari sini, kondisi mental Miyazaki semakin memburuk.

Miyazaki mulai sering mengurung diri di dalam kamarnya, ditemani dengan koleksi anime dan film horor yang Ia simpan di dalam kamarnya. Nampaknya, kebiasaan Miyazaki ini malah membuatnya "berubah menjadi sesosok Monster".

Memulai Aksi Sadisnya

Semuanya dimulai beberapa minggu usai kematian Kakeknya, dimana Ia ketahuan mengintip Adik Perempuannya yang sedang mandi.

Saat terciduk oleh Adiknya, Miyazaki malah menyerang Adiknya. Sang Ibu memergoki mereka berdua dan langsung mengusir Miyazaki untuk angkat kaki dari rumah.

Memasuki bulan Agustus 1988, Miyazaki memulai aksi sadisnya. Ia mulai menculik anak-anak di bawah umur untuk Ia habisi nyawanya.

Tak hanya itu, Miyazaki juga akan menyantap jenazah dari korbannya. Kejadian ini berlangsung sejak 22 Agustus 1988 sampai 6 Juni 1989 dengan total 4 orang korban jiwa.

Semua korbannya Miyazaki ini adalah anak perempuan dengan rentang usia 4-7 tahun.

Akhir Perjalanan Si Otaku Sadis

Nasib sial harus diterima oleh Miyazaki pada 23 Juli 1989. Saat itu, Ia akan menambah daftar korbannya saat berkunjung di taman Hachioji. Ia melihat sepasang anak perempuan Kakak beradik sedang bermain di taman.

Ia berusaha memancing si Adik untuk berjalan ke arahnya, tapi sialnya, Miyazaki berhasil terciduk oleh Ayah dari 2 anak perempuan itu dan langsung mendapat bogem mentah dari sang Ayah. Miyazaki pun lari meninggalkan mobilnya yang masih terparkir di taman.

Miyazaki sempat bersembunyi sembari menunggu saat yang tepat untuk kabur dengan mobilnya. Setelah dirasa aman, Ia kembali ke taman untuk mengambil mobilnya.

Lagi-lagi, Miyazaki kembali mengalami kesialan karena Ia masuk ke dalam jebakan Polisi. Saat itulah Ia langsung dibawa ke kantor Polisi.

Persidangan Miyazaki dimulai di tanggal 30 Maret 1990. Usai menjalani proses persidangan yang panjang, Miyazaki pun divonis hukuman mati.

Baca Juga: Misteri Kasus Yuba County Five, Ketika 5 Mahasiswa Difabel Menghilang Secara Misterius

Terkait penetapan hari eksekusinya, sempat terjadi beberapa kali perubahan tanggal, yang semula akan dilaksanakan di tanggal 14 April 1997, lalu 28 Juni 2001, kemudian 17 Januari 2006, dan akhirnya Miyazaki resmi dieksekusi mati pada 17 Juni 2008 dengan cara digantung.

Dibalik Aksi Kecaman Warga Jepang terhadap Otaku di Tahun 90-an

Foto kamar Miyazaki

Terkait alasan mengapa masyarakat Jepang mengecam para Otaku di tahun 1990-an, semua itu karena Miyazaki.

Sebelumnya sudah sempat disebut kalau Miyazaki memiliki berbagai macam koleksi anime dan film horor.

Ditambah kondisi psikisnya yang depresi akibat ditinggal sang Kakek dan dikucilkan orang tuanya sendiri, membuat Miyazaki tidak bisa membedakan mana dunia nyata dan dunia fantasi.

Saat masih ditahan di penjara, Miyazaki sempat menjalani pemeriksaan kondisi psikis. Hasilnya, Miyazaki didiagnosa mengidap schizophrenia dan gangguan kepribadian ganda.

Ia pernah mengaku kalau merasa seperti "dirasuki" oleh sesosok monster saat Ia melakukan aksi sadisnya.

Dalam pandangan seorang psikoanalis Universitas Internasional Tokyo yang bernama Keigo Okonogi, kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua pada anaknya, ditambah dengan hobi si anak yang sering menyaksikan karya fiksi seperti anime, manga dan film, tentunya akan mempengaruhi kondisi psikis si anak.

Pernyataan tersebut sejalan dengan apa yang Miyazaki alami, sampai Ia tega melakukan hal itu kepada 4 orang anak perempuan di bawah umur.

Fun fact, sekitar 10 hari sebelum hari eksekusi matinya Miyazaki, di Akihabara, terjadi sebuah aksi pembunuhan massal yang menelan korban jiwa sebanyak 7 orang dan korban luka-luka sebanyak 11 orang.


Konten ini adalah kiriman dari Z Creators Indozone. Yuk bikin cerita dan konten serumu serta dapatkan berbagai reward menarik! Let's join Z Creators dengan klik di sini.

Banner Z Creators.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wikipedia, Murderpedia.org

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU