Kamis, 14 MEI 2026 • 19:01 WIB

5 Pembunuh Berantai Paling Kejam dalam Sejarah London

Author

Ilustrasi pembunuh berantai di London (Gemini AI)

INDOZONE.ID - London dikenal sebagai kota dengan berbagai landmark ikonik, destinasi wisata terkenal, dan kehidupan metropolitan yang gemerlap. Namun di balik citra tersebut, ibu kota Inggris itu juga menyimpan sejarah kriminal kelam yang selama bertahun-tahun menarik perhatian publik dan peneliti kriminal.

Dari kasus legendaris Jack the Ripper pada abad ke-19 hingga pembunuh modern seperti Stephen Port dan Dennis Nilsen, London pernah menjadi lokasi sejumlah pembunuhan berantai paling mengerikan dalam sejarah kriminal dunia.

Berikut lima pembunuh berantai paling terkenal dan mematikan dalam sejarah London.

1. Gordon Cummins

Gordon Cummins (Istimewa)

Banyak pembunuh berantai memanfaatkan situasi kacau untuk menyembunyikan kejahatan mereka, dan Gordon Cummins menjadi salah satu contohnya.

Pria yang dikenal dengan julukan “Blackout Killer” atau “Wartime Ripper” itu meneror London pada puncak Perang Dunia II. Dalam waktu hanya lima hari, Cummins membunuh empat perempuan.

Baca juga: 5 Pembunuh Berantai yang Berakhir Tragis Akibat Perbuatannya Sendiri

Ia mengincar korban saat kota berada dalam kondisi pemadaman listrik (blackout), ketika warga merasa rentan dan ketakutan akibat perang.

Modus operasinya terbilang sederhana namun mengerikan. Cummins biasanya mendekati perempuan, sering kali pekerja seks, di kawasan West End. Setelah itu ia mengikuti korban pulang, mencekik mereka, lalu memutilasi tubuhnya.

Cummins akhirnya tertangkap setelah meninggalkan masker gas di lokasi kejahatan. Polisi melacak masker tersebut melalui catatan RAF (Royal Air Force) hingga mengarah kepadanya.

Meski terus mengaku tidak bersalah, Gordon Cummins dinyatakan bersalah dan dihukum gantung pada Juni 1942.

2. Stephen Port

Stephen Port dikenal sebagai “Grindr Killer”, pembunuh berantai yang menggunakan aplikasi kencan untuk mencari korban.

Baca juga: Kisah 'Spring-Heeled Jack': Teror Misterius di London Sebelum Era Jack the Ripper

Ia tumbuh di Dagenham, London Timur, dan dikenal sebagai sosok penyendiri. Teman-temannya menggambarkan Port sebagai pribadi kekanak-kanakan, pendiam, dan tidak dewasa.

Port bertemu para korbannya melalui aplikasi kencan sesama jenis. Untuk memikat korban, ia kerap menciptakan identitas palsu yang rumit. Dalam satu cerita, ia mengaku lulusan Universitas Oxford. Dalam cerita lain, ia mengklaim pernah bertugas di Angkatan Laut Kerajaan Inggris.

Setelah berhasil membawa korban ke apartemennya, Port akan membius, memperkosa, lalu membunuh mereka.

Awalnya, polisi menganggap kematian para korban sebagai overdosis narkoba biasa, meski terdapat banyak kesamaan pola kasus.

Namun setelah korban keempat ditemukan, Stephen Port akhirnya ditangkap pada 2015 dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

Penyelidikan lanjutan kemudian mengungkap adanya kegagalan investigasi serius serta dugaan homofobia dalam penanganan kasus oleh Kepolisian Metropolitan London.

Baca juga: Deretan Pembunuh Berantai yang Paling Banyak Disorot di Era-1970-an

3. John Christie

John Christie merupakan salah satu pembunuh berantai paling mengerikan dalam sejarah London.

Pada 1940-an hingga awal 1950-an, ia membunuh sedikitnya delapan perempuan di rumahnya di kawasan Notting Hill. Christie biasanya memancing korban dengan iming-iming bantuan uang atau layanan medis.

Kasus paling terkenal adalah pembunuhan terhadap Beryl Evans dan bayi perempuannya, Geraldine, yang baru berusia 13 bulan.

Setelah mencekik keduanya, Christie membuang jasad mereka di ruang cuci luar rumah.

Meski banyak bukti mengarah kepadanya, Christie justru berhasil menuduh suami Beryl, Timothy Evans, sebagai pelaku pembunuhan.

Baca juga: 10 Pembunuh Berantai dengan Zodiak Pisces, Ada yang Dijadikan Film!

Timothy Evans akhirnya dihukum mati secara keliru dalam salah satu kegagalan sistem hukum terbesar di Inggris. Kasus tersebut kemudian menjadi salah satu faktor yang mendorong penghapusan hukuman mati di Inggris.

Christie akhirnya ditangkap setelah penghuni baru rumahnya menemukan beberapa jasad tersembunyi di dalam dinding bangunan.

Pada 1966, Timothy Evans diberikan pengampunan anumerta.

4. Dennis Nilsen

Dennis Nilsen adalah pembunuh berantai asal Skotlandia sekaligus pelaku nekrofilia yang membunuh sedikitnya 12 pria muda dan anak laki-laki antara 1978 hingga 1983.

Ia melakukan kejahatannya di dua apartemen di London Utara, tepatnya di Cricklewood dan Muswell Hill.

Nilsen biasanya mencari korban di pub, mengajak mereka pulang, lalu mencekik dan melakukan pelecehan seksual terhadap jasad korban.

Berbeda dari banyak pembunuh berantai lain yang dipicu kemarahan atau sadisme, Nilsen disebut terdorong oleh rasa kesepian ekstrem.

Ia bahkan menyimpan jasad korbannya selama berhari-hari atau berminggu-minggu, berbicara kepada mereka seolah masih hidup. Ketika tubuh mulai membusuk, ia membakar sisa-sisa jasad tersebut.

Karena sebagian besar korbannya hidup berpindah-pindah dan situasi homofobia pada masa itu, kejahatan Nilsen lama tidak terdeteksi.

Baca juga: Pakar Forensik Masih Meragukan Keakuratan Tes DNA Identitas Jack The Ripper, Benarkah Aaron Kosminski?

Kasusnya akhirnya terbongkar setelah saluran pembuangan di apartemennya tersumbat oleh potongan tubuh manusia.

Dennis Nilsen ditangkap pada 1983 dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

5. Jack the Ripper

ilustrasi Jack The Ripper (Viator)

Jack the Ripper merupakan pembunuh berantai paling terkenal dalam sejarah London dan salah satu misteri kriminal terbesar dunia.

Ia meneror kawasan Whitechapel dan East End pada 1888 dengan membunuh sedikitnya lima perempuan, meski jumlah korban sebenarnya diyakini lebih banyak.

Seperti Gordon Cummins, Jack the Ripper memanfaatkan kondisi sosial Inggris era Victoria yang dipenuhi kemiskinan ekstrem, kepadatan penduduk, dan lemahnya sistem kepolisian.

Banyaknya kasus kekerasan terhadap perempuan saat itu membuat polisi kesulitan menghubungkan satu pembunuhan dengan lainnya.

Namun ada satu hal yang menonjol dari kasus Jack the Ripper: tingkat kebrutalan yang luar biasa.

Korban ditemukan dengan luka sayatan dalam di leher dan beberapa organ tubuh hilang. Meski tidak ditemukan bukti pemerkosaan, area perut dan genital korban sering dimutilasi secara brutal.

Hingga kini, identitas asli Jack the Ripper belum pernah terungkap. Misteri tersebut masih terus menghantui sejarah London lebih dari satu abad kemudian.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Crimeinvestigation.co.uk

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU