INDOZONE.ID - Richard Ramirez dikenal sebagai sosok di balik julukan “Night Stalker”, seorang pembunuh berantai yang meneror wilayah Los Angeles pada pertengahan 1980-an.
Namanya menjadi salah satu simbol kelam dalam sejarah kriminalitas 80-an di Amerika Serikat, terutama karena pola kejahatannya yang acak, kejam, dan sulit diprediksi.
Rentetan aksi Richard Ramirez dimulai pada 28 Juni 1984 dengan pembunuhan seorang wanita lanjut usia.
Seiring waktu, kejahatannya berkembang menjadi serangkaian pembunuhan, kekerasan seksual, penculikan, dan penyerangan terhadap korban-korban yang sebagian besar merupakan perempuan dan individu rentan.
Baca juga: Kisah Tsui Po-ko: Perampok dan Pembunuh Berantai dri Hong Kong yang Ternyata Polisi
Pola serangan yang dilakukan secara tiba-tiba, sering kali di malam hari, membuat masyarakat hidup dalam ketakutan yang luar biasa.
Di wilayah Los Angeles, kepanikan meluas dengan cepat. Pada saat itu media terus memberitakan kasus ini, memperkuat citra menyeramkan Night Stalker di mata publik.
Ramirez dikenal meninggalkan jejak khas di lokasi kejadian, seperti simbol pentagram, yang semakin menambah aura misterius sekaligus menakutkan di balik aksinya.
Modus operandi yang digunakan tergolong ekstrem. Ia kerap membunuh korban laki-laki dengan cepat, lalu menghabiskan waktu lebih lama untuk menyiksa perempuan.
Dalam beberapa kasus, ia melakukan kekerasan seksual terhadap korban, termasuk anak-anak. Tingkat kekejaman ini membuat aparat kesulitan melacak pola yang jelas, sementara teknologi forensik saat itu masih dalam tahap perkembangan.
Namun, titik terang muncul pada Agustus 1985 ketika bukti sidik jari berhasil dicocokkan melalui sistem komputerisasi yang baru digunakan.
Identitas Ramirez akhirnya terungkap, dan fotonya disebarluaskan ke publik. Upaya pelariannya berakhir ketika warga mengenalinya dan berhasil menangkapnya sebelum polisi datang.
Meski telah ditangkap, sikap Ramirez di pengadilan justru semakin mengejutkan. Ia tidak menunjukkan penyesalan, bahkan kerap mengejek korban dan menampilkan simbol-simbol yang sebelumnya ia tinggalkan di lokasi kejahatan.
Akibat perbuatannya, ia dinyatakan bersalah atas puluhan kasus, termasuk 14 pembunuhan, dan dijatuhi hukuman mati.
Baca juga: Jon Venables dan Robert Thompson Dua Anak Berusia 10 Tahun Jadi Pelaku Pembunuhan di Inggris
Menariknya, di balik kekejaman tersebut, muncul fenomena psikologis yang dikenal sebagai Hybristophilia.
Beberapa orang justru merasa tertarik pada sosok Ramirez, mengagumi bahkan menjalin hubungan emosional dengannya. Fenomena ini memperlihatkan sisi lain yang kompleks dari bagaimana publik merespons figur kriminal ekstrem.
Kasus Night Stalker tidak hanya meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat, akan tetapi turut mengubah cara pandang terhadap keamanan publik dan penegakan hukum.
Hingga kini, kisah Richard Ramirez tetap menjadi pengingat akan salah satu periode paling menegangkan dalam sejarah kriminalitas modern.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ebsco-com