INDOZONE.ID - Juan Fernando Hermosa, atau biasa dikenal sebagai "Anak Teror" ini lahir dan dibesarkan di Quito, Ekuador.
El Heraldo melaporkan bahwa dia dibesarkan oleh orang tua angkatnya Olivio Fonseca dan Zoila Suarez. Namun, anak laki-laki itu sering ditugaskan untuk merawat Zoila, yang tuli, sementara ayah angkatnya bekerja di luar kota.
Jejak kelam Juan Fernando Hermosa dimulai sejak remaja, ketika ia mulai akrab dengan dunia malam di berbagai bar dan klub dansa. Tak sekadar bergaul, ia juga dilaporkan mulai membangun kelompok geng.
Catatan kepolisian menunjukkan kejahatan pertamanya pecah pada November 1991 di usia 15 tahun.
Baca juga: Siapa Samuel Little, Mengapa Dianggap Pembunuh Berantai Paling Mematikan di AS?
Dalam peristiwa tragis yang dilaporkan El Heraldoitu, Hermosa dan kelompoknya menculik seorang pengemudi taksi.
Aksi tersebut berakhir fatal saat Hermosa menembak mati sang sopir, membuang jasadnya, lalu merampas kendaraan korban.
Satu minggu kemudian, Hermosa dan teman-temannya memikat seorang penata rambut transeksual ke rumahnya dengan dalih palsu. Kemudian malam itu, Hermosa dilaporkan mengeluarkan pistol dan menembak penata rambut itu lima kali.
Dalam rentang waktu singkat antara 1991 hingga 1992, Hermosa dan kelompoknya diduga telah menghabisi nyawa 22 orang.
Melansir IPS News, target utama mereka sebagian besar merupakan pengemudi taksi dan anggota komunitas LGBTQ.
Rantai kejahatan ini mulai terkuak pada Januari 1992 setelah lima anggota gengnya tertangkap dalam sebuah aksi perampokan.
Meski awalnya sempat lolos, posisi Hermosa akhirnya terungkap setelah salah satu rekannya memberikan informasi kepada polisi.
Menurut laporan Infobae, pihak berwenang kemudian menggerebek rumahnya dan menemukan remaja itu sedang berada di dalam kamar bersama ibu angkatnya.
Akhir Pelarian dan Jejak Terakhir Sang Pembunuh
Drama penangkapan Hermosa diwarnai dengan aksi saling tembak antara dirinya dan pihak kepolisian. Baku tembak yang berlangsung selama 15 menit tersebut memakan korban jiwa, yakni Zoila Suarez yang tewas di lokasi kejadian.
Setelah resmi ditahan, pengakuan mengejutkan keluar dari mulut Hermosa yang mengonfirmasi bahwa ia telah membunuh 22 orang.
Namun, karena aturan hukum Ekuador yang melindungi anak di bawah umur, ia tidak bisa dijatuhi hukuman berat selayaknya narapidana dewasa. Ia pun hanya divonis empat tahun pembinaan di reformatorium Virgilio Guerrero.
IPS News melaporkan bahwa Hermosa mencoba melarikan diri dari penjara berkali-kali, yang menunjukkan bahwa dia tidak menanggapi upaya rehabilitasi.
Setelah berhasil membunuh satu penjaga dan melukai dua lainnya, Hermosa kemudian melarikan diri dari penjara pada tahun 1993, namun segera ditangkap kembali dan dikembalikan.
Baca juga: Profil Aileen Wuornos, Ratunya Pembunuh Berantai Perempuan yang Diadaptasi Netflix
Pada tanggal 1 Maret 1996, hanya satu bulan setelah pembebasannya, Hermosa ditemukan tewas di sepanjang tepi Sungai Aguarico di Lago Agrio.
Pihak berwajib menyatakan bahwa pembunuh berantai termuda Ekuador jelas dibunuh, dan "tanda-tanda penyiksaan" di tubuhnya menunjukkan bahwa itu adalah pribadi.
Motif di balik pembunuhan Hermosa, menurut psikolog Marcelo Roman, berakar pada ketidakpuasan atas hukumannya yang dinilai terlalu pendek.
Melansir IPS News, Roman menyebut bahwa luka akibat kejahatan Hermosa belum sepenuhnya pulih di masyarakat. Kasus ini pun berakhir buntu tanpa penyelesaian hukum, polisi belum mengidentifikasi tersangka maupun menangkap pelaku di balik kematian Hermosa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Grunge.com