INDOZONE.ID - Marla Hanson merupakan seorang model terkenal pada saat itu. Namanya tengah bersinar di New York, tepatnya pada tahun 1986.
Wajahnya kerap menghiasi bidikan fotografer ternama. Kariernya sebagai model sedang menanjak, dan masa depan seolah terbuka lebar. Namun, dalam satu malam, hidup Marla Hanson terbelah menjadi dua.
Marla, saat itu berusia 24 tahun, tinggal di Manhattan dan tengah berselisih dengan pemilik apartemennya, Steve Roth.
Perselisihan itu bermula dari masalah uang jaminan sewa, tetapi situasinya menjadi lebih rumit ketika Roth menaruh ketertarikan pribadi yang tidak terbalas.
Penolakan tersebut berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap, obsesi yang berujung dendam.
Pada Juni 1986, Roth diduga menyusun rencana. Ia menyewa dua pria, Steven Bowman dan Darren Norman, untuk menyerang Marla.
Malam itu, ketika Marla keluar dari sebuah bar, dua pria mendekatinya dengan dalih perampokan. Namun, itu bukan perampokan biasa.
Baca juga: Kisah The Dating Game Killer Rodney Alcala: Pembunuh Pemikat Wanita yang Menang di Acara Kencan TV
Marla disayat menggunakan pisau cukur diwajahnya. Tiga luka dalam menganga. Lebih dari 100 jahitan diperlukan untuk menutup kembali sayatan tersebut.
Wajah Marla yang sebelumnya menjadi modal utama kariernya kini meninggalkan bekas permanen.
Serangan itu mengejutkan publik Amerika Serikat. Bukan hanya karena kekejamannya, tetapi karena motifnya yang bukan perampokan, bukan kebetulan, melainkan tindakan terencana akibat penolakan pribadi.
Dalam persidangan terpisah, ketiga pelaku dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman penjara antara lima hingga lima belas tahun.
Baca juga: Wanita Florida Ditangkap karena Perintahkan Bocah 10 Tahun untuk Sakiti Bayi Lewat Roblox
Namun cobaan Marla tidak berhenti di situ. Ruang sidang, yang seharusnya menjadi tempat mencari keadilan, justru menjadi arena penderitaan baru.
Dalam pemeriksaan silang, ia menghadapi pertanyaan dan tudingan yang merendahkan. Ia kemudian menggambarkan pengalaman di pengadilan itu sebagai sesuatu yang bahkan terasa lebih menyakitkan secara emosional daripada serangan fisik yang ia alami.
Meski demikian, Marla menolak bersembunyi. Ia menjalani berbagai prosedur rekonstruksi untuk memulihkan wajahnya, tetapi yang lebih penting, ia memilih untuk tetap tampil di depan publik tanpa menyembunyikan bekas lukanya.
Baginya, bekas luka tersebut bukan simbol kehancuran, melainkan bukti bahwa ia selamat.
Baca juga: Niat Baik Berujung Tragis: Wanita Ini Maafkan Pembunuh Ibunya, tapi Malah Dibunuh
Dukungan publik turut mengalir, termasuk bantuan dana dari filantropis Milton Petrie. Perlahan, Marla kembali ke dunia modeling dalam kapasitas terbatas dan kemudian merambah dunia penulisan skenario.
Ia juga aktif menyuarakan perlunya reformasi dalam sistem peradilan, khususnya terkait perlakuan terhadap korban kejahatan.
Kisah hidupnya bahkan diangkat ke layar kaca melalui film televisi The Marla Hanson Story (1991). Puluhan tahun kemudian, ia kembali muncul di serial Netflix Skin Decision: Before and After, berbicara tentang standar kecantikan dan proses rekonsiliasi dengan dirinya sendiri.
Marla Hanson menjadi simbol bahwa kecantikan memang bisa dirampas. Namun, yang tidak berhasil direnggut adalah keberaniannya untuk tetap berdiri teguh, tanpa perlu banyak kata
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Adelaidenow.com