Senin, 12 JANUARI 2026 • 15:19 WIB

Misteri Hermann Goering: Bagaimana Pentolan Nazi Ini Lolos dari Hukuman Gantung dengan Cara Minum Sianida

Author

Hermann Goering di Pengadilan Milter Internasional lolos dari hukuman gantung karena minum sianida. (Dok. Harry S. Truman Library & Museum/Wikimedia Commons)

INDOZONE.ID - Hermann Goering, merupakan pentolan Nazi dan tangan kanan Hitler. Dia lolos dari hukuman gantung dengan cara bunuh diri memakai sianida.

Pertanyaannya, bagaimana racun itu bisa sampai ke selnya?

Ada sebuah pengakuan dari seorang sipir yang mengklaim dirinya terkena tipu daya oleh seorang perempuan, yang ternyata anak buah Goering. Ada pula teori lain, yang menyebut seorang penjaga sembrono hingga memberikan barang pribadi sang pentolan Nazi. 

Hermann Goering seharusnya mengakhiri hidupnya di tiang gantungan. Namun pada malam sebelum eksekusi, tokoh Nazi paling berpengaruh kedua setelah Hitler itu justru meninggal di selnya.

Ia bunuh diri dengan menggigit kapsul sianida.

Hermann Goering dijatuhi hukuman mati pada Oktober 1946 atas kejahatan perang. Di ruang sidang Nuremberg, ia tampil menantang, vokal, dan sangat percaya dirinya lolos dari tiang gantungan.

Sebagai mantan kepala Luftwaffe (Kepala Angkata Udara Nazi) dan pewaris politik Hitler, Goering menolak mati dengan cara digantung.

Pada 15 Oktober 1946, penjaga melihat Goering memasukkan sesuatu ke mulutnya. Tak lama kemudian, ia tersedak dan jatuh. Saat petugas medis datang, nyawanya sudah tak tertolong.

Pecahan kaca dan jejak sianida ditemukan di mulutnya.

Menolak Mati di Tiang Gantungan

Goering meninggalkan catatan yang ditujukan kepada otoritas Sekutu.

“Saya tidak akan mempermudah eksekusi Reichsmarschall Jerman dengan cara digantung! Demi Jerman, saya tidak dapat mengizinkan hal ini,” tulisnya dikutip dari The Guardian.

Ia juga menulis bahwa dirinya memilih mati “seperti Hannibal”, tokoh legendaris yang bunuh diri demi kehormatan.

Pengakuan Penjaga Penjara AS
Puluhan tahun kemudian, misteri ini sedikit terpecahkan.

Herbert Lee Stivers, mantan penjaga penjara AS di Nuremberg, mengaku tanpa sadar telah membantu Hermann Goering mendapatkan sianida.

Dalam wawancaranya dengan Los Angeles Times, Stivers mengatakan ia ditipu oleh seorang perempuan Jerman bernama Mona.

“Mereka bilang cairan itu obat. Saya tidak pernah berpikir soal bunuh diri,” kata Stivers.

Ia mengaku menyelundupkan botol kecil yang disembunyikan dalam pulpen dan memberikannya langsung ke sel Goering.

Siapa Mona?

Stivers menceritakan bagaimana ia bertemu Mona di luar klub perwira. Perempuan itu menggodanya dan meminta bukti bahwa Stivers benar-benar penjaga penjara.

Permintaannya hanya minta tanda tangan Hermann Goering.

Setelah itu, Stivers diperkenalkan pada dua pria bernama Erich dan Mathias. Mereka mengklaim Goering sakit dan membutuhkan obat yang tidak diberikan pihak penjara.

Beberapa hari kemudian, Mona menghilang. Stivers tak pernah melihatnya lagi.

Masuk Akal, Tapi Sulit Dibuktikan

Pengakuan ini membuat banyak sejarawan berhati-hati.

Michael Marrus, profesor sejarah dari Universitas Toronto, menyebut kisah tersebut masuk akal, tapi hampir mustahil diverifikasi.

“Apakah ceritanya mungkin? Ya. Apakah kita akan pernah tahu kebenarannya? Hampir pasti tidak,” ujarnya.

Apalagi, investigasi resmi pada 1946 dinilai longgar dan minim pendalaman.

Sianida dari Barang Pribadi

Selain versi Stivers, ada teori lain yang tak kalah kontroversial.

Goering sendiri mengklaim ia menyembunyikan sianida di dalam toples krim rambut sejak awal penahanan. Penyelidikan menemukan botol kecil lain di barang bawaannya.

Sejarawan Ben Swearingen dalam bukunya menduga seorang letnan Angkatan Darat AS, Jack Wheelis, memberi Goering akses ke ruang penyimpanan barang pribadi.

Namun teori ini dinilai sulit terjadi karena risiko pelanggaran keamanan besar.

Pada 2003, seorang veteran OSS bernama Ned Putzell juga mengklaim memberi pil sianida kepada Goering.

Masalahnya, bentuk pil yang ia deskripsikan tidak cocok dengan bukti ampul kaca yang digigit Goering.

Karena itu, versi Herbert Stivers dianggap lebih sesuai dengan temuan forensik di lokasi kejadian.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: The Guardian, United States Holocaust Memorial Museum

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU