Selasa, 06 JANUARI 2026 • 11:33 WIB

Pernikahan Ditolak Ayah: Putra Mahkota Nepal Dipendra Habisi Keluarganya Sendiri

Author

Dipendra Bir Bikram Shah Dev Putra Mahkota Kerajaan Nepal menghabisi keluarganya karena pernikahannya ditolak sang ayah. (Wikimedia Commons.)

INDOZONE.ID - Tragedi berdarah mengguncang Nepal pada sebuah malam musim panas di tahun 2001. Di tengah jamuan makan malam keluarga di Istana Narayanhiti, Putra Mahkota Dipendra Bir Bikram melakukan aksi penembakan brutal yang merenggut sembilan nyawa anggota keluarganya. 

Di antara para korban tewas adalah Raja Birendra dan Ratu Aishwarya, sebelum akhirnya sang putra mahkota memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Hanya dalam hitungan jam, silsilah keluarga kerajaan Nepal nyaris terputus sepenuhnya. Meski dalam kondisi koma di rumah sakit, Dipendra tetap dinobatkan sebagai Raja untuk menggantikan ayahnya yang ia habisi sendiri. 

Tragedi ini diyakini berakar dari perselisihan tajam mengenai rencana pernikahan Dipendra dengan Devyani Rana, seorang bangsawan yang ditolak keras oleh orang tuanya hingga muncul ancaman penghapusan hak waris.

Baca juga: 5 Fakta Kelompok Teror Remaja 764: Jaringan Kriminal Global yang Targetkan Anak dan Remaja di AS

Ketidaksenangan terhadap kebijakan Raja Birendra yang membatasi kekuasaan monarki diyakini turut menjadi faktor pemicu kemarahan sang putra mahkota.

Setelah Dipendra dinyatakan meninggal dunia, suksesi kepemimpinan berpindah secara cepat kepada Gyanendra. 

Namun, pergantian takhta ini diwarnai kerusuhan massal; rakyat Nepal yang sangat mencintai sang pangeran merasa terpukul dan skeptis, menolak untuk percaya bahwa sosok idola mereka adalah dalang di balik pembantaian tersebut.

Bagi Nepal, malam itu menjadi titik awal gejolak yang berakhir dengan runtuhnya monarki tujuh tahun kemudian. Gelombang kebencian terhadap Raja Gyanendra membuka jalan bagi politisi Maois untuk menguasai majelis konstitusional.

Dipendra Bir Bikram Shah Dev Putra Mahkota Kerajaan Nepal menghabisi keluarganya karena pernikahannya ditolak sang ayah. (Wikimedia Commons.)

Sosok Dipendra di Kerajaan Nepal

Rakyat Nepal mengenal Putra Mahkota Dipendra dengan panggilan akrab 'Dippy', sosok pewaris takhta yang sangat diidolakan. Namun, testimoni berbeda datang dari Letnan Jenderal Vivek Kumar Shah. 

Veteran ajudan istana yang telah mengabdi selama hampir tiga dekade ini membeberkan bahwa sang pangeran memiliki kepribadian lain yang tersembunyi di balik kehidupan formal kerajaannya.

"Sejak awal, dia mungkin tidak mendapatkan kasih sayang yang seharusnya dia dapatkan saat kecil. Itulah keyakinan saya," ujarnya kepada The World.

Pangeran Dipendra menempuh pendidikan di Eton College, sebuah institusi elit di Inggris yang dikenal sebagai kawah candradimuka bagi para calon raja dan pemimpin dunia. 

Di lingkungan akademis yang terpandang inilah, ia dikabarkan pertama kali menjalin ikatan dengan Devyani Rana, sosok yang kelak disebut sebagai cinta sejatinya, yang saat itu juga sedang menempuh studi di Britania Raya.

Secara status, latar belakang Rana sebagai keturunan bangsawan India dan putri politisi terkemuka seharusnya menjadikannya pasangan yang serasi bagi Dipendra. 

Namun, penolakan keras datang dari Ratu Aishwarya yang lebih menginginkan putranya meminang anggota keluarga dari Dinasti Shah. 

Di sisi lain, pihak keluarga Rana juga menunjukkan sikap skeptis. Sang ibu bahkan memberikan peringatan kepada Rana bahwa menjadi ratu di Nepal berarti harus siap beradaptasi dengan gaya hidup yang lebih sederhana dan tidak semewah kehidupan mereka sebelumnya.

"Devyani tumbuh dengan terbiasa pada kenyamanan dan kekayaan yang luar biasa," demikian laporan Nepali Timessetelah pembantaian tersebut.

Hubungan rahasia yang dijalani Dipendra selama bertahun-tahun akhirnya memicu krisis besar di dalam istana, ditambah dengan tekanan dari surat kabar yang terus mendesak rencana pernikahannya. 

Pada awal Juni 2001, peristiwa mematikan mengguncang Istana Narayanhiti. Berdasarkan penyelidikan resmi, sang putra mahkota memasuki ruang makan dalam kondisi mabuk berat dan bersenjata lengkap. 

Mengenakan pakaian militer, ia menembaki kerabat dekatnya satu per satu di ruangan yang secara mengejutkan tidak dijaga oleh personel keamanan pada saat kejadian.

Ayah, ibu, adik, hingga kerabat lain sudah menjadi korbannya. Ketika paman mencoba menghentikannya, ia justru ditembak sebelum Dipendra mengarahkan pistol ke dirinya sendiri.

Baca juga: Profil Aileen Wuornos, Ratunya Pembunuh Berantai Perempuan yang Diadaptasi Netflix

Meskipun berkas resmi telah ditutup dengan menunjuk Dipendra sebagai dalang utama, narasi lain berkembang pesat di tengah masyarakat. 

Ketidakhadiran Gyanendra pada jamuan malam itu memicu kecurigaan adanya rencana tersembunyi untuk merebut kekuasaan. Berbagai spekulasi tentang intervensi asing dari negara-negara besar turut mewarnai misteri ini. 

Di tengah situasi yang kacau, Perdana Menteri Girija Prasad Koirala justru memberikan tanggapan yang ambigu dengan menyebut tragedi mematikan itu sebagai suatu 'kecelakaan' teknis.

Bagi sebagian orang Nepal, tragedi ini dianggap takdir. Sebuah legenda lama menyebut Dinasti Shah akan runtuh setelah 10 generasi, dan Raja Birendra adalah penguasa ke-11.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Abc.net.au

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU