INDOZONE.ID - Pada 25 Februari 2022, sebuah latihan pemeliharaan pipa minyak bawah air Pointe-a-Pierre berubah menjadi bencana yang merenggut empat nyawa penyelam.
Insiden ini melibatkan Paria Fuel Trading Company, yang memunculkan pertanyaan mengenai protokol keselamatan dan respon darurat. Pemeliharaan ini melibatkan lima orang penyelam, terjebak saat menjalankan operasi secara rutin.
Salah satu penyelam yaitu Christopher Boodram berhasil melarikan diri, sedangkan empat lainnya, Kazim Ali Jr, Yusuf Henry, Fyzal Kurban, dan Rishi Nagassar tewas menjadi korban.
Keempat penyelam tersebut tewas tersedot ke dalam pipa di pelabuhan Pointe-a-Pierre. Upaya penyelamatan yang tersedot harus menghadapi tantangan besar, karena ruang sempit dan kondisi berbahaya.
Penyelam penyelamat dikerahkan untuk membantu proses evakuasi, tapi hasilnya hanya Boodram yang berhasil selamat. Sementara yang lainnya tidak bisa diselamatkan dan berakhir dengan kematian.
Tuntutan Tanggung Jawab
Dampak dari tragedi ini, keluarga korban menuntut pertanggungjawaban dari pihak Paria Fuel Trading Company. Banyak orang juga menyoroti atas lemahnya sistem untuk prosedur keselamatan dan kesiapsiagaan darurat.
Selain itu, tragedi ini membuat dampak mental dan fisik yang dialami oleh Boodram, penyelam yang selamat.
a menceritakan pengalaman traumatis tersebut, bahkan sebenarnya peluang dirinya selamat pun sangat tipis. Boodram juga sering mengalami mimpi buruk akibat insiden yang menimpanya tersebut.
Baca juga: Kisah Pilu George Stinney Jr: Bocah 14 Tahun yang Kena Vonis Rasial di AS
Laporan Penyelidikan
Sebuah penyelidikan atas tewasnya empat penyelam tersebut menyimpulkan, bahwa Paria Fuel Trading Company melakukan kelalaian, sehingga harus diadili atas tragedi tersebut.
Dari laporan Komisi Penyelidikan (CoE), Paria dinilai gagal untuk menjalankan kewajiban menjaga keselamatan para penyelam. Laporan tersebut bahkan berisi adanya penolakan perusahaan untuk mengizinkan misi penyelamatan bagi para penyelam.
Di dalam persidangan, Manajer Operasi Terminal Paria, Collin Piper menyebut bahwa keputusan untuk mencegah jatuhnya korban lainnya. Namun, dari laporan tersebut menyimpulkan tindakan tersebut tidak masuk akal.
Baca juga: 5 Zodiak Cowok Paling Humoris yang Bikin Kamu Ketawa Tiap Hari
Hal ini karena ia membuang waktu buat menunggu drone untuk menampilkan gambar dari dalam pipa. Ia juga gagal dalam menghitung kebutuhan banyak oksigen untuk masing-masing penyelam supaya tetap hidup.
Perusahaan tempat bekerja para penyelam, Land and Marine Construction Services (LMCS) sama-sama bersalah terhadap bencana tersebut.
Laporan CoE menyebut bahwa metodologi yang digunakan untuk mengeluarkan isi pipa membahayakan Latent Differential Pressure (Delta P). Ini merupakan vakum di dalam pipa, sehingga bisa membuat yang disekitarnya tersedot karena tekanan besar.
Penyelam yang selamat, Boodram, hingga saat ini belum mampu untuk bekerja pasca tragedi dan kehilangan teman-temannya tersebut.
Baca juga: 5 Arti Mimpi Dikejar Biawak Menurut Primbon Jawa, Hati-hati Kamu Bakal Hadapi Masalah Besar!
Langkah Pencegahan
Sebagai respon atas tragedi ini, industri minyak dan gas menerapkan banyak langkah keselamatan yang lebih ketat. Ini bertujuan untuk melindungi keselamatan latihan pemeliharaan di bawah air.
Program pelatihan dibuat lebih komprehensif untuk para penyelam dan tim penyelamat, serta menekankan pada respons darurat untuk penanganan. Selain itu, insiden ini mendorong kolaborasi lebih besar di spesialis subsea, khususnya prosedur penyelamatan ruang terbatas.
Ketersediaan dan penggunaan ruang perawatan hiperbarik juga ditingkatkan, guna intervensi medis bisa dilakukan secara cepat jika dibutuhkan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Divemagazine.com, History.howstuffworks.com