INDOZONE.ID - Kisah keluarga Whittaker menjadi salah satu yang paling terkenal di Amerika Serikat (AS), bahkan dunia di sejarah inbreeding (perkawinan sedarah).
Situasi ini menyebabkan kelainan genetik dan mental, hingga beberapa di antara anggota keluarga cuma bisa berkomunikasi melalui erangan atau suara seperti gonggongan.
Sebelumnya, keluarga ini sangat tertutup hingga diungkap oleh salah satu fotografer, Mark Laita, di dalam bukunya yang berjudul Created Equally pada 2004.
Baca juga: Misteri Dibalik Rindangnya Istana Batu Tulis Bogor
Asal Usul Keluarga Whittaker
Keluarga ini tinggal di Odd, West Virginia, Amerika Serikat. Perkawinan sedarah di keluarga ini berawal dari pasangan adik-kakak kembar identik, Henry dan John. Lalu pernikahan anak-anak mereka yang saling berkaitan.
John yang lahir pada 1882 menikahi sepupunya sendiri, yakni Ada Rigg, dan memiliki sembilan anak. Salah satu anak mereka, yaitu Gracie Irene Whittaker yang lahir tahun 1920.
Lalu, Gracie menikahi sepupunya juga, yaitu John Emory Whittaker pada 1935. Mereka memiliki 15 orang anak, tapi banyak dari mereka mengalami gangguan fisik dan mental karena pernikahan sedarah tersebut.
Baca juga: Aroma Mistis Kenanga: Dari Penangkal Gaib hingga Rahasia Kecantikan Keraton
Mark Laita yang pertama kali datang ke keluarga ini pada 2004, mengungkapkan bagaimana sulitnya proses untuk mengakses keluarga Whittaker. Bahkan, ia sempat diancam oleh tetangga karena banyak orang datang hanya untuk mengejek.
Para tetangga sangat protektif kepada orang asing untuk memastikan keamanan keluarga tersebut. Tapi setelahnya, ia diterima dengan hangat dan berteman dekat dengan keluarga tersebut.
Laita pun bisa mendapatkan izin untuk mengambil foto keluarga tersebut. Pada 2020, ia juga merilis sebuah dokumenter tentang keluarga Whittaker.
Baca juga: Barbie: Boneka Legendaris yang Terus Berevolusi Sejak 1959
Risiko Perkawinan Sedarah
Anak pertama Gracie dan John Whittaker, Eileen, meninggal dunia karena serangan jantung. Putra mereka Emery juga meninggal setelah satu bulan lahir karena pneumonia pada 1938.
Risiko perkawinan sedarah lintas generasi bisa menyebabkan disabilitas. Hal ini tercermin dari keluarga Whittaker yang memperlihatkan beberapa anggota keluarga memiliki kelainan wajah, gerakan mata tidak sinkron, hingga kemampuan kognitif rendah.
Dari anggota keluarga yang tinggal bareng, hanya cucu Gracie dari Lorene, yaitu Timmy yang menamatkan pendidikan hingga SMA.
Baca juga: Apa yang Terjadi Jika Gajah Punah? Dampaknya Besar bagi Bumi
Risiko lain yang dihadapi akibat kondisi ini, yaitu ketidakmampuan berkomunikasi secara lancar. Beberapa anggota keluarga hanya bisa komunikasi lewatan erangan atau suara layaknya gonggongan.
Pada dasarnya, mereka bisa berbahasa Inggris, tapi tidak mampu untuk mengucapkan kata-kata tersebut atau membalas percakapan lawan bicara.
Dalam Journal of Public Health and Epidemiology, menyebut bahwa kondisi ini bisa berkaitan dengan autisme. Akan tetapi, kondisi semakin parah karena adanya masalah genetik karena perkawinan sedarah.
Baca juga: Bikin Merinding, Beberapa Tempat Di Universitas Indonesia Konon Menyimpan Kisah Horor
Lebih Berisiko dari Perkiraan
Perkawinan sesama sepupu tidak semua wilayah menganggapnya sebagai hal tabu. Di banyak daerah, seperti di Afrika dan Asia, praktik ini masih sering terjadi. Bahkan, Charles Darwin pun menikahi sepupunya sendiri. Tapi ternyata, penelitian terbaru menunjukkan bahwa risiko karena pernikahan sedarah ini ternyata lebih besar dari perkiraan.
Studi yang dipublikasi di Wellcome Open Research tersebut menunjukkan, bahwa anak dari pasangan sepupu terdapat peningkatan kecil tapi signifikan dalam masalah perkembangan. Mereka juga cenderung akan sulit berbicara dengan bahasa, serta mengalami perkembangan yang terlambat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: News.com.au, Grunge.com