Minggu, 28 SEPTEMBER 2025 • 19:07 WIB

Setelah 34 Tahun, Kasus 'Yougurt Shop Murders' di Texas Akhirnya Terungkap Berkat DNA: Pelakunya Pembunuh Berantai, Tapi...

Author

Kasus Pembunuhan Benrantai di Austin Texas akhirnya terungkap. (statesman.com)

INDOZONE.ID - Salah satu kasus lama dingin di Texas, Amerika Serikat akhirnya terungkap setelah 34 ahun membeku. Pembunuhan berantai yang disebut Pembunuhan Toko Yogurt atau Yoguts Shop Murders akhirnya terungkap siapa lakunya. 

Mengutip situs states.com, kasus yang erjadi ada 1991 tersebut terungkap berkat DNA. Pelakunya berhasil diungkap polisi, meski tak bisa melakukan penahanan terhadap pelaku.

Loh, kok bisa? Ini penjelasannya.

Kejadian dan korbannya.

Pada malam kelam 6 Desember 1991, sebuah toko yogurt di Austin, Texas, menjadi lokasi tragedi mengerikan yang membekas dalam sejarah kota itu.

Baca juga: Kisah Ed Gein, Sosok Perampok Makam yang Kuburannya Jadi Tempat Wisata: Insipirasi Pembunuh Berantai di Fiksi

Empat gadis remaja — Jennifer Harbison (17), adiknya Sarah Harbison (15), Eliza Thomas (17), dan Amy Ayers (13) — ditemukan dalam kondisi mengerikan: terikat, dibungkam, dibakar, dan ditembak di kepala.

Api yang melalap toko "I Can't Believe It's Yogurt" tidak hanya menghancurkan bangunan, tapi juga menghancurkan kepolosan sebuah kota.

Selama 34 tahun, kasus ini menjadi misteri. Investigasi demi investigasi dilakukan, namun semuanya berakhir buntu. Hingga kini.

DNA dari Kuburan

Pihak kepolisian Austin baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka telah memecahkan kasus ini, berkat teknologi genealogi genetik — metode yang menggabungkan data DNA dan silsilah keluarga. Pelakunya diidentifikasi sebagai Robert Eugene Brashers, seorang pembunuh berantai yang telah bunuh diri pada tahun 1999.

Pelaku kasus pembunuhan berantai Yogurt Shop Murders di Texas, AS pada 1991 lalu. (Istimewa)

Brashers tidak pernah tinggal di Austin. Ia tidak memiliki koneksi langsung dengan kota itu, dan namanya tak pernah muncul dalam daftar tersangka. Tapi pada 2018, jasadnya digali untuk pengujian DNA yang kemudian mencocokkan jejak biologisnya dengan bukti dari TKP.

Brashers sebelumnya telah dikaitkan dengan tiga pembunuhan dan satu pemerkosaan di negara bagian lain. Ciri khas kejahatannya? Korban yang diikat, diperkosa atau diserang, lalu ditembak di kepala. Pola yang nyaris identik dengan tragedi Yogurt Shop.

Baca juga: Kisah Hilangnya Suami dari Eva Arnaz Jelang Pemilu 97:  Misteri yang Tak Pernah Terpecahkan

Luka yang Belum Sembuh

Bagi keluarga korban dan warga Austin, kasus ini bukan hanya soal keadilan, tapi tentang duka yang tak kunjung pulih. Tugu peringatan sederhana di bekas lokasi toko kini hanya bertuliskan, "Forever in our hearts," dengan nama keempat korban. Setangkai mawar kuning sering diletakkan oleh orang-orang yang masih mengenang mereka.

Namun, pengungkapan kebenaran ini juga membuka kembali luka lama, terutama soal kesalahan fatal dalam penyelidikan awal. Empat pemuda pernah ditangkap sebagai tersangka — Maurice Pierce, Forrest Welborn, Michael Scott, dan Robert Springsteen IV. Nama-nama yang kini dikenang sebagai korban sistem peradilan yang terlalu terburu-buru.

Pengakuan Palsu dan Vonis Maut

Delapan hari setelah pembunuhan, polisi menangkap Maurice Pierce, 16 tahun, yang membawa pistol kaliber .22. Ia mengatakan bahwa pistol itu pernah dipinjam temannya, Forrest Welborn (15), yang mengaku telah membunuh para gadis. Namun, tak ada bukti kuat yang mengaitkan mereka langsung ke TKP.

Tahun demi tahun berlalu. Pada 1999, satuan tugas kasus dingin kembali membuka penyelidikan dan menyoroti empat remaja tersebut. Kali ini, dua dari mereka — Michael Scott dan Robert Springsteen — mengaku bersalah setelah interogasi panjang. Namun, mereka kemudian mencabut pengakuannya, mengklaim bahwa polisi memaksa mereka mengaku.

Kasus Pembunuhan Benrantai di Austin Texas akhirnya terungkap. (statesman.com)

Meski begitu, pengadilan tetap menjatuhkan vonis. Springsteen dijatuhi hukuman mati, dan Scott dipenjara seumur hidup. Kasus terhadap Welborn dihentikan karena kurang bukti, begitu pula dengan Pierce.

Putusan terhadap Springsteen akhirnya dibatalkan pada 2006, disusul oleh Scott setahun kemudian. Tes DNA terbaru kala itu menunjukkan bahwa DNA pelaku tidak cocok dengan siapa pun dari keempat tersangka. Pada 2009, semua dakwaan resmi dicabut.

Baca juga: Misteri di Pegunungan Ural Rusia: Insiden Dyatlov Pass yang Tak Terpecahkan

Akhir Tragis Seorang Tersangka

Maurice Pierce, yang menjadi pintu awal dari penyelidikan keliru itu, meninggal pada 2010 setelah insiden kekerasan dengan polisi.

 Ia menikam seorang petugas lalu ditembak mati dalam pemeriksaan lalu lintas. Bagi sebagian orang, kisah Pierce adalah babak tragis dari kesalahan besar yang tak pernah diperbaiki sepenuhnya.

Kebenaran dari Abu

Meski kasus ini sempat terlihat seperti kisah klasik kegagalan hukum, teknologi akhirnya bicara. Pada 2020, para ilmuwan berhasil mengekstrak DNA laki-laki dari jasad salah satu korban. DNA ini menjadi petunjuk penting yang membawa penyelidikan menuju Brashers.

Meskipun belum jelas apakah DNA itu adalah satu-satunya bukti penentu, hasil akhirnya tak terbantahkan: Robert Eugene Brashers adalah pelaku pembunuhan di toko yogurt itu.

Baca juga: 3 Prediksi Pelaku Pembunuhan Berantai di 'Queen Mantis', Siap-siap Bikin Kaget!

Kini, berkas tebal yang memenuhi laci Unit Kasus Dingin Kepolisian Austin selama lebih dari tiga dekade bisa disimpan kembali. Namun, pertanyaan tetap menggantung: bagaimana mungkin seorang pria yang tak pernah dicurigai, tak pernah disebut, dan telah mati sejak lama, bisa menyimpan jawaban dari tragedi yang merenggut empat nyawa tak berdosa?

Warisan Gelap

Kasus Yogurt Shop Murders telah menjadi sumber obsesi selama lebih dari 30 tahun. Papan reklame yang menawarkan hadiah $125.000, forum internet yang menduga-duga teori liar, hingga dokumenter HBO baru-baru ini — semua menandakan bahwa publik tak pernah benar-benar melupakan kasus ini.

Dan kini, dengan terungkapnya pelaku yang sesungguhnya, rasa kelegaan datang — meski terlambat.

Namun seperti yang sering terjadi dalam kisah kejahatan sejati, akhir cerita bukanlah penutupan sempurna. Luka tetap ada. Trauma masih terasa. Dan kota Austin tetap menyimpan kenangan kelam tentang empat gadis yang tak pernah pulang malam itu.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Statesman.com

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU