Para pembunuh berantai era 1970-an dan 1980-an di Amerika Serikat, (Istimewa)
INDOZONE.ID - Sebuah teori kontroversial tentang keterakiatan antara pelaku kejahatan, khususnya pembunuh berantai ternyata tidak hanya dari sisi psikologi dan sosiologi saja, tapi juga dari ekologi, dalam artian rusaknya lingkungan yang menimbulkan zat kimia berbahaya yang dihirup.
Saat diwawancara oleh Time, penulis buku pemenang Pulitzer Prize, Caroline Fraser mengungkap teori yang ia ungkap dalam buku bertama true crime terbarunya berjudul 'Murderland: Crime and Bloodlust in the Time of Serial Killers'.
Dalam buku itu, Fraser mencoba menyinggung alasan mengapa banyak pembunuh berantai muncul di Amerika serikat pada dekade 1970-an hingga akhir 80, khususnya di wilayah Pacifict Northwest.
Menurutnya ini buka sekedar kekejaman masa kecil para pelaku kriminal yang biasa diungkapkan FBI atau ahli forensik psikologi saja. Nyatanya, masalah ekologi, dampak zat kimia di udara dapat mempengaruhi lahirnya sosok pembunuh berantai.
Berikut ini beberapa faktanya yang Indozone rangkum dalam wawancaranya bersama Time.
Caroline Fraser dan bukunya Murderland: Crime and Bloodlust in the Time of Serial Killers. (Youtube)
Fraser tumbuh besar di Seattle, hanya beberapa mil dari lokasi pembunuhan yang dilakukan oleh Ted Bundy pada tahun 1974. Meski tak terdampak langsung, ia merasakan atmosfer ketakutan dan kekacauan yang ditimbulkan oleh kehadiran seorang pembunuh berantai di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.
Pengalaman masa kecil ini menanamkan kesan mendalam, yang kemudian menjadi fondasi bagi obsesinya terhadap fenomena pembunuh berantai—sebuah obsesi yang akhirnya membawanya pada teori yang tidak biasa: bahwa bahan kimia beracun di udara bisa saja menjadi pemicu utama lonjakan kekerasan ekstrem di era tersebut.
Teori yang Fraser bahas dikenal sebagai lead-crime hypothesis, atau hipotesis kejahatan akibat timbal. Menurutnya, paparan timbal dari dua sumber utama—bensin bertimbal dan peleburan industri—secara signifikan memengaruhi perkembangan otak anak-anak, terutama anak laki-laki.
Fraser menyebutkan bahwa timbal diketahui merusak korteks frontal, bagian otak yang mengatur impuls, agresi, dan moralitas. Kerusakan di bagian ini berhubungan dengan peningkatan perilaku agresif dan kecenderungan psikopat.
Baca juga: Kisah Pasutri Pembunuh Berantai Fred dan Rose West: Incar Gadis Muda, Termasuk Anak Mereka Sendiri
Ia mengutip data yang menunjukkan bahwa antara 20 hingga 50 persen kenaikan tingkat kejahatan di Amerika pada 1980-an dan 1990-an bisa dikaitkan dengan paparan timbal. Penurunan drastis angka kriminalitas setelah penghapusan bensin bertimbal pada awal 1990-an semakin memperkuat dugaan ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: TIME