INDOZONE.ID - Pada abad ke-19, Batavia menjadi pusat administrasi kolonial Belanda di Hindia Belanda.
Banyak anak pribumi dipaksa untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga atau pedagang kecil.
Anak-anak ini kehilangan kesempatan untuk bersekolah atau menikmati masa kecil mereka, karena mereka terjebak dalam sistem sosial dan ekonomi yang menindas.
Dalam sistem ini, anak-anak sering bekerja keras untuk bertahan hidup, sedangkan orang-orang Belanda menikmati kehidupan yang lebih makmur.
Siapa yang Terlibat dalam Praktik Ini?
Anak-anak pribumi, terutama yang berasal dari keluarga miskin, menjadi bagian dari sistem eksploitasi tenaga kerja kolonial.
Mereka bekerja di rumah tangga Belanda sebagai pembantu, merawat anak-anak, hingga membantu dalam pekerjaan rumah lainnya.
Selain itu, anak-anak ini juga bekerja di pasar-pasar sebagai pedagang kecil, yang menawarkan barang dagangan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga mereka.
Praktik eksploitasi terhadap anak-anak ini berlangsung sepanjang abad ke-19, ketika Batavia berfungsi sebagai ibu kota koloni Belanda.
Selama periode ini, banyak anak pribumi yang bekerja sejak usia dini tanpa kesempatan untuk mendapatkan pendidikan. Ketidaksetaraan sosial dan ekonomi ini, bertahan hingga awal abad ke-20.
Bekerja sebagai Pembantu hingga Pedagang
Sebagian besar anak-anak pribumi bekerja di rumah keluarga Belanda sebagai pembantu rumah tangga atau pengasuh anak-anak.
Selain itu, mereka juga bekerja di Pasar Batavia, yang merupakan pusat perdagangan utama pada masa itu. Di sana, mereka berjualan barang-barang yang diproduksi oleh keluarga Belanda atau berdagang barang dagangan mereka sendiri.
Keadaan ini menciptakan ketergantungan ekonomi pada tenaga kerja anak-anak.
Bekerja karena Terpaksa
Anak-anak pribumi terpaksa bekerja karena kebutuhan ekonomi yang mendesak. Banyak keluarga pribumi yang hidup dalam kemiskinan, sehingga tidak punya pilihan selain mengirim anak-anak mereka untuk bekerja.
Sementara itu, sistem kolonial Belanda memanfaatkan tenaga kerja anak-anak yang murah dan mudah dimanfaatkan.
Kolonialisme Belanda menciptakan ketimpangan sosial yang sangat besar. Alhasil, anak-anak pribumi sering terjebak dalam kondisi kerja tanpa banyak pilihan.
Sulit Dapat Pendidikan Layak di Masa Kolonial Belanda
Keadaan ini berdampak besar pada masa depan anak-anak pribumi. Mereka kehilangan kesempatan untuk mengakses pendidikan yang baik.
Banyak di antara mereka yang terpaksa mengadopsi budaya Belanda, terutama bahasa dan kebiasaan. Sebab, mereka bekerja dalam lingkungan orang-orang Belanda.
Sistem ini memperburuk ketidaksetaraan sosial dan memperpanjang kemiskinan di kalangan pribumi.
Untungnya, semua telah berubah setelah masa kemerdekaan. Anak-anak Indonesia kini punya kesempatan besar untuk mengakses pendidikan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal Sejarah Indonesia, Jurnal Sejarah Sosial