Rabu, 09 APRIL 2025 • 16:40 WIB

Mengenal Ritual Manten Tebu: Tradisi Upacara di Pabrik Gula Sebelum Masa Giling Tiba

Author

Mengenal tradisi manten tebu yang ada di film 'Pabrik Gula'. (Instagram/@pabrikgulafilm)

INDOZONE.ID - Dengan dirilisnya film horor Pabrik Gula di bioskop pada saat Lebaran 2025, penonton tidak hanya disuguhkan dengan cerita menegangkan tentang teror supranatural, tetapi juga diperkenalkan pada tradisi unik yang jarang diangkat ke layar lebar, yaitu manten tebu.

Tradisi ini memiliki akar budaya yang kaya dan makna filosofis yang mendalam, membuatnya menarik perhatian penonton dalam nuansa horor.

Apa Itu Manten Tebu?

Ritual Manten Tebu adalah sebuah tradisi yang dilaksanakan oleh pemilik pabrik gula dan petani tebu sebagai bentuk persiapan sebelum musim giling tebu dimulai.

Baca Juga: Deretan Kisah Mistis Pabrik Gula di Indonesia: Ritual, Tumbal, dan Mitos yang Bikin Merinding!

Dalam ritual ini, sepasang boneka tebu yang melambangkan pengantin laki-laki dan perempuan diarak sepanjang jalan, sebagai simbolisasi kesuburan dan kemakmuran.

Menurut catatan sejarah, tradisi Ritual Giling Manten di Pabrik Gula Ngadirejo Desa Ngadirejo Kecamatan Kras Kabupaten Kediri ini diyakini sebagai bentuk penghormatan kepada roh penunggu pabrik gula. Hal itu diyakini dapat membawa keberkahan dan kesuksesan dalam proses produksi gula.

Manten sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti "pengantin". Dalam ritual ini berarti mengawinkan sepasang pengantin tebu yang diambil dari kebun tebu pemilik pabrik gula dan kebun tebu milik petani.

Kisah Dewi Sri dan Dewa Wisnu

Legenda pengantin tebu seringkali dikaitkan dengan kisah Dewi Sri, dewi kesuburan yang menjaga tanaman di bumi, dan Dewa Wisnu.

Menurut cerita, Dewi Sri menjadi target lamaran Kala Benggolo, raksasa dan Raja Hama, yang ingin menjadikan dirinya sebagai istri.

Namun, ketika lamarannya ditolak, Kala Benggolo marah dan memerintahkan pasukannya untuk menghancurkan semua tanaman yang dijaga oleh Dewi Sri, sehingga menimbulkan kerusakan besar di bumi.

Kemarahan Kala Benggolo memuncak ketika lamarannya ditolak, sehingga ia memerintahkan pasukannya untuk menghancurkan tanaman yang dijaga oleh Dewi Sri.

Dewa Wisnu, yang menyadari kejadian ini, segera turun ke bumi untuk membantu Dewi Sri mengatasi hama yang dikirimkan oleh Kala Benggolo.

Dalam bentuk petani, Dewa Wisnu bekerja sama dengan para petani untuk melindungi tanaman mereka dari serangan hama.

Setelah misi mereka selesai, Dewa Wisnu dan Dewi Sri kembali ke wujud aslinya sebagai dewa dan dewi.

Berkat Dewa Wisnu dan Dewi Sri, tanaman para petani kembali menjadi subur. Hal itu membuat para petani merasa tersentuh dan mengadakan ritual manten (pengantin) sebagai bentuk cinta kepada Dewa Wisnu dan Dewi Sri, untuk menyimbolkan Dewa Wisnu dan Dewi Sri dari tanaman.

Manten tersebut nantinya akan digiling sebagai simbol kembalinya roh Dewa Wisnu dan Dewi Sri ke khayangan.

Baca Juga: Manten Sapi: Tradisi Unik Menyambut Idul Adha di Pasuruan

Latar Belakang dan Makna Upacara Manten Tebu

Setelah pemerintah menerapkan Agrarische Wet (Undang-undang Agraria) dan Suiker Wet (Undang-undang Gula), para pemodal swasta mulai menanamkan investasi mereka di wilayah Hindia Belanda.

Kebijakan ini mendorong pertumbuhan industri gula, sehingga banyak pabrik gula milik swasta mulai bermunculan, terutama di wilayah Jawa.

Selain itu, masyarakat Jawa dikenal sangat menjunjung tinggi adat dan tradisi leluhur, yang biasanya diwujudkan dalam bentuk acara selamatan sebagai bentuk rasa syukur.

Tradisi manten tebu pun menjadi salah satu bentuk perwujudan rasa syukur tersebut, yang dilakukan oleh para petani tebu serta pemilik pabrik gula sebagai ungkapan terima kasih atas hasil panen yang berlimpah.

Pada bulan April hingga Mei, sebelum musim giling tebu dimulai, pabrik-pabrik gula di Jawa mengadakan ritual manten tebu sebagai ungkapan rasa syukur.

Ritual ini tidak hanya sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah, tetapi juga sebagai doa agar proses giling tebu berjalan dengan lancar dan sukses.

Selain itu, ritual manten tebu juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk merayakan dan bersuka ria, karena pelaksanaannya seringkali diiringi dengan pesta rakyat yang meriah.

Pelaksanaan upacara manten tebu juga kerap kali dikaitkan dengan Dewi Sri yang dianggap sebagai lambang kesuburan bagi masyarakat Jawa.

Properti Tradisi Manten Tebu

Setiap pabrik gula memiliki keunikan tersendiri dalam melaksanakan tradisi manten tebu. Contohnya, di Pabrik Gula Ngadirejo Kediri, tradisi ini menggunakan properti tebu yang dibentuk menjadi boneka pengantin, dipilih dari tebu yang berkualitas terbaik.

Boneka pengantin ini kemudian dimasukkan ke dalam gilingan tebu sebagai simbol dimulainya proses penggilingan.

Sementara itu, Pabrik Gula Semboro di Jember memiliki pendekatan yang berbeda, yaitu dengan menggunakan peraga pengantin manusia dalam upacara manten tebu, menunjukkan variasi dan kekayaan tradisi ini di berbagai daerah.

Pengantin ini akan dirias memakai busana pengantin tradisional Jawa yang kemudian juga akan diarak.

Melansir dari jurnal berjudul Makna Simbolis dalam Ritual Tradisi Manten Tebu di Pabrik Gula Semboro Kabupaten Jember bahwa selain peraga manusia, penganten tebu juga disimbolkan dengan tebu itu sendiri.

Tebu yang dipilih sebagai simbol manten juga dipilih dari tebu yang paling bagus. Biasanya, pengantin tebu wanita akan diambil dari tebu pemilik pabrik, sementara tebu penganten pria diperoleh dari kebun petani tebu.

Pelaksanaan Manten Tebu

Pelaksanaan tradisi manten tebu umumnya ditentukan berdasarkan weton atau perhitungan hari baik menurut kepercayaan Jawa.

Tradisi ini tidak hanya melibatkan prosesi arak-arakan boneka manten tebu, tetapi juga disertai dengan acara selamatan.

Baca Juga: Cerita Horor Pabrik Gula di Berbagai Lokasi yang Bikin Merinding: Dari Penampakan Arwah hingga Jin Lidah Menjulur

Dalam rangkaian upacara tersebut, biasanya juga dilakukan penyembelihan kerbau, di mana kepala kerbau dijadikan sebagai sesajen utama yang dipadukan dengan berbagai persembahan lainnya.

Umumnya, dua kepala kerbau disiapkan, satu ditempatkan di area mesin penggiling tebu, sementara yang lain diletakkan di dekat mesin pemasakan.

Adapun daging kerbau yang telah disembelih kemudian dibagikan kepada masyarakat sekitar sebagai bagian dari tradisi berbagi.

Sedangkan prosesi lain dari upacara manten tebu ini adalah penebangan tebu yang dilakukan dengan memilih pohon tebu yang berkualitas tinggi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Ejournal.unesa.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU