INDOZONE.ID - Tradisi Tingkeban merupakan upacara adat Jawa dalam rangka menyambut tujuh bulanan bayi yang ada di dalam kandungan, atau upacara tujuh bulanan kehamilan.
Tradisi ini adalah upacara terakhir yang dilaksanakan sebelum kelahiran, yang pada bertujuan untuk mendoakan ibu dan calon bayi agar selamat dan lahir normal.
Lantas, seperti apa asal-usul hingga jalannya upacara tingkeban? Simak selengkapnya di bawah ini.
Asal-usul Upacara Tingkeban (Syukuran 7 Bulan Kehamilan)
Upacara tingkeban atau biasa dikenal tujuh bulanan, merupakan upacara yang dilakukan ketika usia kandungan telah memasuki bulan ketujuh.
Kata tingkeban mempunyai kata dasar tingkeb yang artinya tutup, maksudnya adalah tidak boleh dibuka sebelum waktunya tiba.
Jadi, upacara tingkeban sama dengan pemberitahuan kepada perempuan yang sedang mengandung maupun suaminya, untuk tidak diperbolehkan bercampur (tidur bersama) sampai empat puluh hari setelah bayi lahir.
Kemudian, kata tingkeb memiliki imbuhan diakhir (-an) yang membuat kata tersebut berubah menjadi tingkeban seperti yang sering didengar dalam kehidupan keseharian oleh masyarakat luas.
Baca Juga: Asal-Usul Ngabuburit, Budaya Masyarakat Sunda Menunggu Waktu Berbuka Puasa
Biasanya, upacara tersebut digelar di dalam rumah dan juga luar rumah, yakni di halaman atau belakang rumah. Di dalam rumah tempat berkumpul tetangga dan kerabat yang datang.
Sedangkan perempuan yang sedang hamil tersebut dimandikan, lokasinya di halaman atau belakang rumah.
Setelah perempuan hamil tersebut dimandikan, kemudian diperkenankan untuk menjual atau memberikan rujak kanistren (rujak yang rasanya pahit, kesat, masam, dan sebagainya) kepada anak-anak.
9 Benda yang Disediakan dalam Tingkeban dan Maknanya
Dalam upacara tingkeban, ada sembilan benda yang harus disediakan dengan maknanya sendiri-sendiri, di antaranya adalah sebagai berikut.
Daun Hanjuang
Daun hanjuang berasal dari pohon yang biasa ditanam di kuburan. Memiliki makna seperti kita hidup di dunia ini tidaklah kekal, maka daun itu dianggap mewakili agar manusia mengingat kematian.
Kembang Mayang atau Pinang
Kembang mayang atau pinang artinya mau, yakni hayang hade yang berarti mau baik. Maksud disediakannya bunga mayang atau pinang dalam upacara ini adalah sebagai lambang agar orang tersebut senantiasa menjadi seseorang yang menerima untuk menjadi lebih baik dan mewangi seperti harumnya bunga tersebut.
Bunga Tujuh Warna
Bbunga tersebut melambangkan tujuh hal yakni hidup, kekuatan, penglihatan, pendengaran, perasaan, perkataan, dan kemauan yang semuanya ini saling berhubungan.
Saringan Bambu
Saringan bambu melambangkan makna bahwa ilmu yang kita pelajari harus disaring mana yang baik, mana yang bermanfaat bagi dunia akhirat, dan mana yang tidak baik.
Baca Juga: Membongkar Misteri Suku Jawa dan Suku Sunda, Mana yang Lebih Tua?
Kelapa Gading
Kelapa gading (kelapa muda kekuning-kuningan) yang disediakan dalam tradisi tingkeban digambari tokoh wayang Srikandi dan Arjuna, memiliki makna mudah-mudahan anaknya nurut buat, anak yang rupawan dan kulitnya seperti kelapa gading yang kekuning-kuningan (kuning langsat).
Belut
Dalam tradisi tingkeban, belut yang disediakan dimasukkan dari bagian atas ke dalam kain saat menjalankan upacara mandi kembang. Ini melambangkan agar nanti saat melahirkan dapat berlangsung lancar seperti belut yang keluar dari lubangnya.
Samak Walimi
Samak walimi adalah tikar pandan, yang disimpan di samping pintu depan dan dikebutkan oleh seorang (biasanya yang tertua) selepas membaca ayat-ayat Al Quran, melambangkan semoga bayi lahir dengan lancar.
Tujuh Buah Pelita
Pelita-pelita ini dinyalakan selama upacara mandi kembang, sebagai harapan agar bayi yang dilahirkan kelak menjadi anak yang terang pikirannya.
Rujak Kanistren
Ini adalah rujak yang dijual kepada anak-anak. Ini mengandung lambang bahwa sejak saat itu, perempuan yang sedang hamil itu sudah habis masa bermain sebagai anak-anak dan selanjutnya dia akan menjadi seorang ibu.
Rujak kanistren itu rasanya seperti apa sih? Rujak kanistren tersebut rasanya pahit, kesat, dan masam. Ini melambangkan supaya segala kesusahan dan pahitnya hidup diajarkan kepada anaknya kelak.
Kemudian, jika rujaknya terasa pedas, hal tersebut melambangkan bahwa nanti yang dilahirkan itu bayi berjenis kelamin laki-laki dan jika rasanya tidak pedas, maka bayi yang akan dilahirkan itu berjenis kelamin perempuan.
Perlu diingat, di antara upacara dalam masa kehamilan, upacara tingkeban adalah yang paling meriah dan paling banyak perlengkapan yang harus disediakan.
Karena upacara tingkeban ini adalah puncak dari upacara yang paling meriah, maka dalam upacara ini banyak tamu undangan yang turut menghadiri dan ikut memeriahkan.
Penulis: Nadya Mayangsari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal PPJB SIP