Senin, 18 SEPTEMBER 2023 • 21:11 WIB

Mengenal Tsujigiri, Tradisi Samurai Jepang Bunuh Sembarang Orang Hanya untuk Menguji Pedangnya

Author

Ilustrasi sebagai ahli pedang dan samurai dengan pratik Tsujigiri. (Freepik)

INDOZONE.ID - Tsujigiri adalah istilah dalam budaya Jepang yang merujuk pada tindakan yang sangat tidak etis dan kejam di era samurai.

Istilah ini mengacu pada seorang samurai yang akan mencoba atau mencari kesempatan untuk menguji pedang atau kemampuannya dengan cara yang tidak etis atau kejam, seperti menyerang orang awam yang tidak bersenjata atau tidak berdaya. Tindakan semacam ini sangat dianggap sebagai tindakan yang kejam dan tidak bermoral dalam budaya samurai.

Perlu dicatat bahwa tindakan semacam ini sangat tidak etis dan tidak mewakili kode etik samurai yang sebenarnya, seperti Bushido, yang menekankan nilai-nilai seperti kejujuran, keberanian, dan keadilan. 

Namun, penting untuk diingat bahwa kuni tsujigiri adalah praktik yang sudah lama berlalu dan tidak relevan dalam masyarakat Jepang modern.

Baca Juga: Minamoto no Yoshitsune, Jendral Dan Samurai Terhebat zaman Heian

Fakta menarik tentang Tsujigiri

Tsujigiri adalah praktik yang sangat kontroversial dalam sejarah samurai Jepang, dan meskipun ini adalah tindakan yang tidak etis, ada beberapa fakta menarik yang terkait dengan praktik ini

Arti kata Tsujigiri

Ilustrasi sebagai ahli pedang dan samurai dengan pratik Tsujigiri. (Freepik)

Kata "tsujigiri" berasal dari bahasa Jepang yang berarti "mengiris persimpangan jalan."

Ini merujuk pada tindakan samurai yang mencari mangsa yang tidak berdaya di persimpangan jalan atau tempat-tempat yang sepi untuk menguji pedang mereka.

Mengincar orang yang lewat di jalan

Ilustrasi sebagai ahli pedang dan samurai dengan pratik Tsujigiri. (Freepik)

Tsujigiri seringkali melibatkan serangan tak terduga terhadap orang-orang yang tidak bersenjata atau tidak berdaya, seperti pejalan kaki yang lewat. Hal ini dianggap sebagai tindakan kejam dan tidak bermoral.

Baca Juga: Tomoe Gozen, Samurai Wanita Tangguh Yang Menggunakan Pedang Dan Panah

Meskipun demikian, ada juga beberapa kasus di mana seorang samurai melakukan tsujigiri untuk menyelamatkan nyawa.

Dalam beberapa situasi, samurai mungkin mencoba menguji pedang mereka dengan menyerang orang untuk memastikan bahwa pedang mereka benar-benar tajam dan dapat digunakan untuk melindungi diri atau melindungi orang lain.

Ahli pedang yang membasmi para Tsujigiri

Sosok ahli pedang Sasaki Kojiro yang membasmi para penganut Tsujigir. (Wikipedia)

Dalam sejarah Jepang, terdapat beberapa ahli pedang atau samurai yang mungkin telah berhadapan dengan orang yang menggunakan praktik tsujigiri.

Beberapa di antara mereka adalah tokoh yang terkenal dalam sejarah samurai dan memiliki reputasi sebagai ahli pedang yang sangat terampil.

Salah satunya adalah Sasaki Kojiro adalah seorang ahli pedang yang memiliki reputasi sebagai salah satu dari "Tiga Ahli Pedang Besar" pada zaman Edo.

Dia memiliki gaya pedang yang unik dan berbeda dari Miyamoto Musashi. Mungkin saja dia telah berhadapan dengan individu yang mencoba menggunakan tsujigiri, tetapi informasi sejarah tentang hal ini mungkin terbatas.

Baca Juga: Hijikata Toshizo, Samurai Yang Tegas Dimasa Bakumatsu

Selain itu ada Ito Ittosai Kagehisa adalah seorang samurai terkenal yang hidup pada awal abad ke-17.

Dia adalah seorang ahli pedang yang memiliki reputasi kuat dalam pertempuran dan mungkin telah menghadapi situasi di mana dia harus melawan tindakan yang tidak etis seperti tsujigiri.

Hukuman yang Tegas dan akhir tradisi Tsujigiri

Ilustrasi sebagai ahli pedang dan samurai dengan pratik Tsujigiri. (Freepik)

Pemerintah feodal Jepang pada zaman samurai menerapkan hukuman yang tegas terhadap praktik tsujigiri. Mereka yang terbukti bersalah dalam tindakan semacam itu dapat menghadapi hukuman berat, termasuk hukuman mati.

Praktik tsujigiri secara bertahap berakhir seiring dengan perubahan sosial dan politik di Jepang. Pada periode Edo (1603-1868), pemerintah pusat yang stabil dan ketegasan hukum mengurangi kemungkinan tindakan semacam itu terjadi.

Baca Juga: Minamoto no Yoshitsune, Jendral Dan Samurai Terhebat zaman Heian

Perubahan Nilai-nilai Budaya

Dalam budaya samurai, kode etik Bushido muncul dan menekankan nilai-nilai seperti kejujuran, keberanian, dan keadilan, yang sejalan dengan norma-norma etika yang lebih tinggi daripada praktik tsujigiri.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU