Kamis, 25 JUNI 2026 • 14:05 WIB

Apa Mantra Ajian Jaran Goyang yang Asli? Mitos Pelet Warisan Budaya Banyuwangi

Author

Ilustrasi mantra pelet jaran goyang (Gemini AI)

INDOZONE.ID - Ketika mendengar nama Jaran Goyang, sebagian besar masyarakat Indonesia mungkin langsung mengaitkannya dengan ilmu pelet atau ajian pengasihan yang konon mampu membuat seseorang jatuh cinta. Popularitasnya semakin meluas setelah menjadi tema lagu, cerita rakyat, hingga perbincangan di media sosial. 

Namun, di balik citranya sebagai ilmu mistis, Jaran Goyang sesungguhnya memiliki akar budaya yang panjang dan kompleks dalam tradisi masyarakat Using di Banyuwangi, Jawa Timur.

Bagi kalangan akademisi dan budayawan, Jaran Goyang tidak hanya dipahami sebagai praktik supranatural. Ia merupakan bagian dari kekayaan sastra lisan Nusantara yang merekam cara masyarakat tradisional memahami cinta, hubungan sosial, spiritualitas, hingga harapan manusia terhadap sesuatu yang sulit mereka kendalikan.

Ajian Jaran Goyang

Beberapa sumber yang dikutip, salah satunya dari scribd.com, menyebutkan terkait mantra ajian Jaran Goyang tersebut. Begini bunyinya:

"Ingsun amatak aji, ajiku si jaran goyang, teteger tengahing pasar, gegamane cemeti sodo lanang saking suwargo, sun sabetake gunung jugrug, segoro asat, bumi bengkah."

Baca juga: Ajian Saipi Angin: Ketika Kecepatan Bukan Soal Lari, Tapi Menaklukkan Diri Sendiri

"Sun sabetake atine si jabang bayi..... (jenenge sing mbok tresnani). Teko welas, teko asih, andheleng badan sliraku, manut miturut sak karepku"

Berasal dari Tradisi Masyarakat Using

Jaran Goyang dikenal sebagai salah satu mantra pengasihan yang berkembang dalam budaya masyarakat Using, kelompok etnis yang mendiami wilayah Banyuwangi. Dalam berbagai penelitian budaya, mantra ini disebut sebagai bagian dari tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun.

Budayawan dan peneliti budaya Using, Heru S.P. Saputra dari Universitas Jember, dalam sejumlah kajiannya menjelaskan bahwa Jaran Goyang merupakan salah satu produk budaya yang hidup di tengah masyarakat dan mengalami transformasi dari generasi ke generasi.

Menurut Heru, Jaran Goyang tidak bisa dipisahkan dari konteks sosial masyarakat yang melahirkannya. Dalam masyarakat tradisional, mantra sering kali berfungsi sebagai media untuk mengekspresikan harapan, kecemasan, maupun keinginan yang sulit diwujudkan melalui cara-cara biasa.

Baca juga: Ajian Puter Giling: Mantra Pemanggil Cinta yang Kandas, Tapi Apa yang Datang?

Karena itu, memahami Jaran Goyang hanya sebagai "ilmu pelet" dianggap terlalu menyederhanakan makna budaya yang terkandung di dalamnya.

Mengapa Jaran Goyang Begitu Populer?

Popularitas Jaran Goyang tidak lepas dari tema universal yang dibawanya: cinta.

Sejak dahulu, kisah mengenai seseorang yang berusaha mendapatkan perhatian orang yang dicintainya selalu menarik perhatian masyarakat. Dalam berbagai budaya di dunia, terdapat cerita serupa yang menghubungkan cinta dengan ritual, mantra, atau simbol-simbol tertentu.

Di Indonesia, Jaran Goyang menjadi salah satu representasi paling terkenal dari fenomena tersebut.

Nama "Jaran Goyang" sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti "kuda bergoyang". Namun hingga kini belum ada kesepakatan tunggal mengenai asal-usul penamaan tersebut. Beberapa peneliti mengaitkannya dengan simbol gerak, energi, dan daya tarik yang dipercaya mampu "menggoyahkan" hati seseorang.

Seiring berjalannya waktu, kisah tentang Jaran Goyang menyebar melampaui Banyuwangi dan menjadi bagian dari budaya populer nasional.

Dari Mantra Menjadi Karya Seni

Menariknya, perkembangan Jaran Goyang tidak berhenti pada cerita mistis. Penelitian Heru S.P. Saputra menunjukkan bahwa Jaran Goyang mengalami alih wahana atau transformasi ke berbagai bentuk seni. Ia hadir dalam puisi modern, musik, pertunjukan tari, hingga berbagai produk budaya kreatif lainnya.

Baca juga: Ajian Dasa Aksara, Ilmu Kuno Jawa yang Mengajarkan Kesaktian Lewat Kesadaran Diri

Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak lagi melihat Jaran Goyang semata-mata sebagai ritual, tetapi juga sebagai simbol budaya yang dapat diinterpretasikan dalam berbagai bentuk ekspresi seni.

Salah satu contohnya adalah Tari Jaran Goyang yang berkembang di Banyuwangi. Dalam kajian seni pertunjukan, tarian tersebut menggambarkan simbol daya tarik, pesona, dan dinamika hubungan antarmanusia yang terinspirasi dari cerita rakyat setempat.

Ilustrasi ajian pelet Jaran Goyang (Foto: Gemini AI)

Di era digital, nama Jaran Goyang bahkan semakin dikenal luas setelah menjadi judul lagu populer yang didengar jutaan orang. Dari sesuatu yang awalnya hidup dalam tradisi lisan lokal, Jaran Goyang berhasil bertransformasi menjadi bagian dari budaya populer Indonesia.

Benarkah Jaran Goyang Memiliki Kekuatan Mistis?

Pertanyaan ini mungkin menjadi alasan utama mengapa banyak orang tertarik membahas Jaran Goyang.

Secara ilmiah, hingga saat ini tidak ada bukti yang dapat membuktikan bahwa mantra atau ajian tertentu mampu mengendalikan pikiran dan perasaan seseorang secara supernatural.

Namun, para ahli psikologi menjelaskan bahwa kepercayaan terhadap suatu praktik mistis dapat memunculkan efek sugesti yang sangat kuat.

Baca juga: Pembantaian Dukun Santet Banyuwangi Tahun 1998, Jadi Pelanggaran HAM Terberat dengan Puluhan Korban Tewas

Ketika seseorang percaya bahwa dirinya terkena pengaruh tertentu, keyakinan tersebut dapat memengaruhi cara berpikir, emosi, bahkan perilakunya. Dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai efek sugesti atau self-fulfilling prophecy, yaitu kondisi ketika keyakinan seseorang ikut membentuk pengalaman yang dirasakannya.

Karena itu, sejumlah kasus yang sering dikaitkan dengan pelet atau pengasihan tidak selalu dapat dipahami sebagai fenomena gaib. Faktor psikologis, sosial, dan emosional sering kali memiliki peran yang jauh lebih besar.

Cermin Cara Masyarakat Memahami Dunia

Bagi para peneliti budaya, nilai penting Jaran Goyang justru terletak pada kemampuannya merekam cara berpikir masyarakat pada zamannya.

Dalam masyarakat tradisional, batas antara dunia nyata dan dunia spiritual tidak selalu dipisahkan secara tegas. Berbagai peristiwa kehidupan, termasuk urusan cinta dan hubungan antarmanusia, sering dipahami melalui perpaduan logika, kepercayaan, dan simbol-simbol budaya.

Mantra seperti Jaran Goyang menjadi bagian dari sistem pengetahuan masyarakat yang membantu mereka menjelaskan berbagai pengalaman hidup.

Karena itu, teks-teks mantra bukan hanya sekadar rangkaian kata, tetapi juga dokumen budaya yang menyimpan jejak sejarah, nilai sosial, dan pandangan hidup suatu komunitas.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Scribd

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU