Kamis, 19 MARET 2026 • 17:20 WIB

Mengenal Bhuta Kala: Makhluk Gaib yang Dijadikan Patung Saat Ogoh-ogohJelang Nyepi

Author

Ilustrasi Bhuta Kala saat perayaan Ogoh-ogoh (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/foc.)

INDOZONE.ID - Biasanya sebelum Hari Raya Nyepi, umat Hindu kerap mengikuti tradisi perayaan Ogoh-ogoh, dimana ada patung raksasa yang diarak-arak. Nah,ternyata wujud dari patung itu adalah Bhuta Kala, makhluk mitologi yang menyeramkan.

Lalu, apa sebenarnya sosok Bhuta Kala itu? Berikut ini ada beberapa penjelasannya seperti yng dikutip dari situs Parisada Hindu Dharma Indonesia.

Apa itu Bhuta Kala?

Bhuta Kala dikenal sebagai sosok jahat dengan wajah menyeramkan dan perilaku mengganggu. Ia menghuni tempat angker seperti kuburan, jurang, pohon besar, atau bangunan lama yang ditinggalkan manusia. 

Dalam mitologi Bali, Bhuta Kala bukan hanya sekadar hantu, tapi juga bagian dari tatanan alam yang seimbang, menghadirkan kegelapan sebagai kontras dari cahaya dan kebaikan. 

Baca juga: Bukan Sekadar Hiasan, Ini Arti Ogoh-Ogoh saat Nyepi

Keberadaannya bahkan dihubungkan dengan cerita dewa-dewi, termasuk Bathara Siwa dan Bathari Uma Parwati, dan menjadi dasar tradisi seperti upacara potong gigi (Mepandes) yang diyakini menjaga keseimbangan spiritual manusia.

Putra Siwa dan Kehidupan Makhluk Halus

Bhatara Kala, putra Siwa, adalah sosok raksasa dengan kekuatan luar biasa. Bersama pengikutnya, ia menjadi simbol kekuatan kosmis yang menakutkan, tetapi juga sakral. Wajah menyeramkan Bhuta Kala dipandang bukan semata-mata sebagai kejahatan, melainkan sebagai bagian dari alam ciptaan Tuhan. 

Bhuta Kala (Wikipedia)

Dalam filsafat Hindu Bali, setiap manusia menghadapi campuran unsur Dewa (kebaikan) dan Bhuta (kegelapan), yang tercermin dalam diri dan lingkungan sekitarnya.

Bhuta Kala dan Peranannya dalam Upacara

Dalam ritual Hindu, Bhuta Kala diundang sebagai tamu dalam upacara yadnya. Mereka diberi sesajen berupa tuak, arak, air kelapa, nasi warna-warni, dan tulang-belulang hewan. 

Kehadiran mereka diyakini menyucikan kegelapan dalam diri manusia, mengubah sifat jahat menjadi kesadaran spiritual, sekaligus melindungi jalannya upacara dari gangguan. Filosofi ini menekankan bahwa kegelapan bukan musuh, tetapi bagian dari penciptaan yang seimbang.

Baca juga: Makna Ogoh-Ogoh dalam Tradisi Menjelang Nyepi

Ogoh-Ogoh: Wujud Nyata Bhuta Kala

Tradisi ogoh-ogoh menjelang Nyepi adalah manifestasi visual Bhuta Kala. Patung raksasa dengan wajah menyeramkan ini diarak keliling desa untuk mengusir roh jahat, sekaligus menjadi simbol introspeksi manusia atas sisi gelap dirinya. 

Melalui ogoh-ogoh, masyarakat Bali memadukan mitologi dengan praktik sosial dan spiritual, memperlihatkan Bhuta Kala sebagai teman sekaligus cermin bagi manusia, bukan sekadar makhluk yang menakutkan.

Bhuta Kala untuk Perayaan Ogoh ogoh (ANTARA/Bambang Dwi Marwoto.)

Bhuta Kala dalam Kehidupan Sehari-hari

Kehadiran Bhuta Kala juga tercermin dalam kehidupan sehari-hari: manusia lahir, tumbuh, dan mati ditemani unsur kegelapan ini. Proses internalisasi Bhuta Kala mengajarkan manusia tentang keseimbangan antara kebaikan dan keburukan, kesadaran dan kelupaan. 

Ungkapan “Manusa; Dewa ya, Bhuta ya” menegaskan bahwa setiap individu memiliki kedua sisi tersebut, dan melalui kesadaran spiritual, manusia dapat menyalurkan energi Bhuta Kala menuju kebaikan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Phdi.parisada.or.id

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU