Ilustrasi ogoh-ogoh. (Freepik)
INDOZONE.ID - Hari Raya Nyepi Saka 1948 yang jatuh pada 19 Maret 2026 merupakan waktu penyucian spiritual bagi masyarakat Hindu Bali terhadap diri manusia dan lingkungan sekitarnya.
Sebagai bagian dari rangkaian upacara, ritual Pengerupukan akan diselenggarakan pada 18 Maret dengan atraksi utama berupa pawai Ogoh-Ogoh.
Boneka raksasa ini diarak melalui jalanan desa diiringi tabuhan gamelan Bleganjur yang penuh semangat.
Visualisasi Ogoh-Ogoh yang cenderung mengerikan ini tentu mengundang pertanyaan mengenai makna filosofis di baliknya.
Baca juga: Pesona Ogoh-Ogoh: Perpaduan Seni, Budaya, dan Spiritualitas di Bali
Mengutip laman resmi Pemerintah Kabupaten Buleleng, Ogoh-Ogoh merupakan karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam ajaran Hindu Dharma, Bhuta Kala melambangkan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan.
Perayaan Ogoh-Ogoh merefleksikan pemahaman mendalam tentang hubungan antara manusia dan alam.
Para ahli Hindu Dharma memaparkan bahwa prosesi ini melambangkan pengakuan atas eksistensi Bhuana Agung (alam semesta) dan Bhuana Alit (diri manusia).
Harmonisasi kedua kekuatan ini sangat krusial, karena baik energi alam maupun potensi internal manusia sama-sama memiliki kemampuan untuk merusak atau sebaliknya, menciptakan keindahan di muka bumi.
Ogoh-Ogoh adalah representasi Bhuta Kala yang sering kali berwujud raksasa, makhluk mitis, hingga tokoh manusia yang kontroversial.
Desainnya dibuat menyeramkan untuk menyimbolkan keberadaan roh jahat dan energi negatif di sekitar kita.
Setelah diarak untuk mengumpulkan energi buruk tersebut, Ogoh-Ogoh akan dibakar sampai musnah. Tindakan ini merupakan simbol pembersihan diri dan alam semesta dari segala gangguan makhluk jahat agar kedamaian kembali tercipta.
Meski secara historis tidak memiliki keterikatan langsung dengan ritual utama Nyepi, kehadiran Ogoh-Ogoh telah menjadi elemen pelengkap yang menambah semarak perayaan.
Tradisi ini biasanya dipadukan dengan ritual Ngerupuk, di mana warga berkeliling desa membawa obor untuk mengusir energi negatif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pemerintah Kabupaten Buleleng