Jumat, 13 MARET 2026 • 14:17 WIB

Asal-usul Gunung Lewotobi Laki-laki dan Perempuan: Diyakini sebagai Pasangan Suami Istri

Author

Visual Gunung Lewotobi Laki-laki (kanan) dan Lewotobi Perempuan (kiri) di Flores Timur, NTT. ((ANTARA/Fransiska Mariana Nuka))

INDOZONE.IDAsal-usul Gunung Lewotobi laki-laki dan perempuan tidak hanya berkaitan dengan fenomena alam, tetapi erat kaitannya dengan cerita rakyat yang berkembang di masyarakat Flores Timur.

Bagi masyarakat setempat, dua gunung yang berdiri berdampingan ini diyakini sebagai simbol pasangan suami istri yang memiliki hubungan tak terpisahkan.

Gunung kembar ini berada di wilayah Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Secara geografis, keduanya dikenal sebagai Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Lewotobi Perempuan.

Baca juga: Menguak Sesar Cisadane, Patahan Tektonik yang Membelah Dua Gunung

Masyarakat setempat menyebut keduanya sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, baik dari sisi alam maupun cerita adat yang diwariskan secara turun-temurun.

Nama Asli Ile Bele dan Dua Gunung Kembar

Mengutip laman NTT Bicara, Jumat (13/03/2026) menurut cerita yang disampaikan oleh Tobias Lewotobi Puka, tokoh adat setempat, nama asli kawasan gunung tersebut adalah Ile Bele, yang berarti “gunung besar”.

Dalam penyebutannya, Ile Bele terdiri dari dua bagian, yaitu Ile Lake yang merujuk pada Gunung Lewotobi Laki-laki, serta Ile Wae yang dikenal sebagai Gunung Lewotobi Perempuan.

Kedua gunung ini memiliki ketinggian yang berbeda. Gunung Lewotobi Laki-laki memiliki ketinggian sekitar 1.548 meter di atas permukaan laut, sedangkan Gunung Lewotobi Perempuan mencapai sekitar 1.703 meter.

Baca juga: Cerita Horor di Gunung Slamet: Banyak Orang Hilang dan Tersesat, Termasuk Mahasiswa Asal Magelang

Meski berbeda tinggi, keduanya dianggap sebagai pasangan yang saling melengkapi dalam kepercayaan masyarakat lokal.

Legenda Puka dan Tobi yang Menjadi Gunung

Di balik keberadaan dua gunung tersebut, masyarakat menyimpan legenda tentang dua tokoh bernama Puka dan Tobi yang hidup berdampingan seperti keluarga. Kisah ini menceritakan tentang hubungan erat antara dua keluarga yang sama-sama menantikan kelahiran anak.

Dalam cerita tersebut, kedua keluarga sepakat bahwa hubungan mereka akan terus terjalin melalui status kekerabatan anak yang lahir.

Jika yang lahir perempuan maka akan dipandang sebagai Mame (paman), sedangkan jika laki-laki maka disebut Opu (ipar).

Baca juga: Kisah Mistis Pager Wetan di Lereng Gunung Semeru: Perjanjian Kelam Sang Kuncen Cari Tumbal

Legenda ini kemudian berkembang menjadi cerita asal-usul dua gunung kembar tersebut. Dalam kisahnya, Puka digambarkan berusaha membentuk gunung dari material batu dan pasir, tetapi hasilnya selalu runtuh.

Kemudian suku Tobi datang membantu dengan menutup bagian puncak gunung menggunakan tempurung. Tempat yang ditutup itu diyakini berada di area yang kini menjadi kawah tempat munculnya asap erupsi.

Karena peran suku Tobi dalam membantu proses tersebut, nama Tobi kemudian melekat dalam penamaan gunung yang kini dikenal sebagai Lewotobi.

Makna Filosofis dalam Budaya Lokal

Bagi masyarakat setempat, cerita tentang Gunung Lewotobi Laki-laki dan Perempuan bukan sekadar legenda, melainkan memiliki makna filosofis.

Baca juga: Cerita Lengkap Konspirasi Gunung Padang: Isu Piramida Tertua dalam Sejarah yang Gak Dipercaya Peneliti Dunia

Kisah ini melambangkan hubungan keseimbangan antara dua unsur yang saling melengkapi, seperti halnya pasangan suami dan istri.

Nilai kebersamaan dan kerja sama yang muncul dalam cerita Puka dan Tobi juga menjadi simbol penting dalam kehidupan masyarakat adat.

Cerita tersebut mengajarkan bahwa hubungan antarkelompok harus dijaga agar tetap harmonis.

Kaitan Tradisi Adat dengan Aktivitas Gunung

Kepercayaan masyarakat terhadap Gunung Lewotobi turut tercermin dalam berbagai ritual adat yang masih dilakukan hingga sekarang.

Ketika Gunung Lewotobi Laki-laki menunjukkan aktivitas, masyarakat adat biasanya menggelar ritual yang dikenal sebagai Tuba Ile.

Ritual ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan alam. Dalam prosesi tersebut, beberapa suku seperti Puka, Tobi, Kwuta, Wolo, Noba, dan Tapun ikut terlibat dengan membawa sesajen, termasuk hewan kurban.

Baca juga: Asal Usul Gunung Tangkuban Perahu, dari Cinta yang Salah Jalur

Tradisi ini menunjukkan bagaimana masyarakat lokal memandang gunung bukan hanya sebagai fenomena geologi, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang harus dihormati.

Gunung Lewotobi sebagai Simbol Alam dan Budaya

Keberadaan Gunung Lewotobi Laki-laki dan Perempuan tidak hanya menarik dari sisi geografi, tetapi dari cerita budaya yang menyertainya.

Legenda tentang pasangan yang menjelma menjadi gunung menggambarkan cara masyarakat setempat memahami hubungan manusia dengan alam.

Hingga kini, kisah tersebut terus diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Flores Timur.

Perpaduan antara fakta alam dan cerita rakyat membuat Gunung Lewotobi menjadi salah satu simbol penting dalam tradisi lokal di Nusa Tenggara Timur.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: NTT Bicara

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU