Selasa, 23 DESEMBER 2025 • 12:01 WIB

Sengkolo, Mitos Jawa yang Kembali Bergema Jadi Perbincangan Warganet

Author

Ilustrasi mitos sengkolo budaya dari Jawa (Gemini AI)

INDOZONE.ID - Perbincangan mengenai sengkolo kembali menguat di ruang digital dalam beberapa waktu terakhir. Mitos Jawa yang lekat dengan gambaran kesialan ini ramai diperbincangkan warganet, terutama di platform X, seiring meningkatnya minat publik terhadap isu budaya dan tradisi lokal yang diangkat ke ranah populer. 

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan lama masih memiliki tempat dalam kesadaran masyarakat modern.

Dalam khazanah budaya Jawa, sengkolo dipahami sebagai rangkaian petaka atau kesialan yang diyakini muncul akibat pelanggaran etika, janji, maupun pantangan tertentu. Kepercayaan ini tidak sekadar dianggap sebagai cerita turun-temurun, melainkan simbol peringatan tentang konsekuensi moral dalam kehidupan. 

Baca juga: Malam 1 Suro 2025: Malam Sakral Sarat Mitos, Ini Tradisi dan Maknanya bagi Masyarakat Jawa

Karena itu, sengkolo kerap dimaknai sebagai refleksi hubungan manusia dengan sesama, alam, dan nilai-nilai yang dijunjung.

Kepercayaan terhadap sengkolo masih terasa kuat, terutama ketika masyarakat memasuki bulan Suro dalam penanggalan Jawa. Bulan ini dikenal sakral dan penuh pantangan, sehingga berbagai ritual tradisional kembali dilakukan. 

Salah satunya adalah ruwatan, yang dipercaya sebagai upaya membersihkan diri dari nasib buruk. Di sejumlah daerah Jawa, ruwatan bukan hanya ritual spiritual, tetapi juga ruang kontemplasi untuk memperbaiki laku hidup.

Menariknya, dalam tradisi Jawa dikenal beragam jenis sengkolo dengan makna yang berbeda-beda. Ada sengkolo growong yang dianggap paling berat dan dikaitkan dengan pelanggaran moral besar, hingga khantong lawe yang diyakini menyebabkan kesialan finansial. 

Baca juga: Angkat Mitos Lokal, MVP Pictures Perkenalkan 'Sengkolo: Petaka Satu Suro' Lewat Trailer yang Viral

Jenis lain seperti kebo kemale, sambit kebul, cekal kendir, dan gandring bumi sering dikaitkan dengan masalah jodoh, usaha, karier, hingga tempat tinggal. Satu orang bahkan dipercaya bisa mengalami lebih dari satu sengkolo sekaligus.

Cara mengatasi sengkolo pun tidak diseragamkan. Ruwatan dilakukan sesuai jenis kesialan yang diyakini melekat, dengan tujuan pembersihan lahir dan batin. 

Namun, banyak tokoh budaya menegaskan bahwa esensi ruwatan bukan sekadar prosesi seremonial, melainkan simbol perubahan perilaku dan permohonan maaf kepada alam serta sesama manusia.

Nah, cerita ini kemudian diangkat dalam kisah film horor berjudul Sengkolo: Petaka Satu Suro.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Press Release

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU