Meninggal di Hari Selasa Kliwon: Antara Mitos Pesugihan, Tradisi Jaga Makam, dan Pandangan Islam
INDOZONE.ID - Kematian adalah takdir mutlak yang waktunya menjadi rahasia Sang Pencipta. Namun, dalam kekayaan budaya dan kosmologi masyarakat Jawa, hari dan pasaran saat seseorang mengembuskan napas terakhir kerap kali membawa makna, bahkan memicu kepanikan tersendiri. Salah satu yang paling diselimuti aura mistis yang pekat adalah fenomena meninggal di hari Selasa Kliwon.
Bagi sebagian masyarakat, mendengar kabar duka yang bertepatan dengan Selasa Kliwon bukan sekadar kesedihan biasa, melainkan awal dari serangkaian kewaspadaan ekstra. Hari tersebut dianggap memiliki energi magis yang terlalu kuat, hingga memunculkan berbagai mitos menyeramkan mulai dari arwah yang tidak tenang hingga incaran para penganut ilmu hitam.
Lalu, apa sebenarnya yang membuat Selasa Kliwon begitu dikeramatkan? Benarkah mitos tersebut, atau adakah penjelasan rasional dan spiritual di baliknya? Mari kita bedah lebih dalam.
Baca juga: Cara Menghitung 1000 Hari Orang Meninggal, Begini 'Nyewu' Menurut Penanggalan Jawa
Mengapa Selasa Kliwon Dianggap Sangat Sakral?
Untuk memahami akar mitos ini, kita harus merujuk pada sistem penanggalan atau Primbon Jawa. Dalam siklus kalender Jawa, bertemunya siklus 7 hari (Senin-Minggu) dengan siklus 5 hari pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon) menghasilkan nilai numerologi atau neptu.
Selasa memiliki nilai 3, sedangkan Kliwon bernilai 8. Gabungan keduanya menghasilkan neptu 11. Dalam tradisi Kejawen, hari pasaran Kliwon (terutama Selasa dan Jumat) dipercaya sebagai momen di mana batas antara dunia manusia dan dimensi gaib menipis. Selasa Kliwon kerap disebut sebagai hari Anggoro Kasih, waktu yang dianggap paling mustajab untuk melakukan laku spiritual, tirakat, memandikan pusaka, hingga aktivitas mistis lainnya. Oleh karena itu, segala peristiwa besar termasuk kematian yang terjadi pada hari ini dianggap membawa energi supranatural yang tidak biasa.
Deretan Mitos Kematian di Hari Selasa Kliwon
Tingginya energi mistis pada hari ini melahirkan sejumlah mitos turun-temurun di tengah masyarakat yang memicu ketakutan psikologis bagi keluarga yang ditinggalkan:
1. Incaran Pelaku Ilmu Hitam (Pesugihan)
Mitos paling menakutkan adalah keyakinan bahwa jenazah orang yang meninggal pada Selasa Kliwon sangat diburu oleh dukun penganut ilmu hitam. Bagian tubuh tertentu, tanah kuburan, hingga tali pocong jenazah diyakini memiliki tuah magis tingkat tinggi untuk dijadikan syarat pesugihan, jimat kebal, atau pelaris dagangan.
2. Arwah Gentayangan
Ada kepercayaan bahwa arwah mereka yang wafat di hari ini kesulitan mencari jalan menuju alam baka. Energi hari yang terlalu kuat dipercaya membuat arwah tersebut tertahan dan cenderung gentayangan di sekitar rumah.
5. Mitos "Mengajak" Anggota Keluarga
Kepercayaan mengerikan lainnya adalah anggapan bahwa orang yang meninggal di Selasa Kliwon bisa menjadi semacam "tumbal" yang akan mengajak anggota keluarga lain untuk menyusul ke alam maut dalam waktu dekat.
6. Pembawa Kesialan
Kematian di hari ini sering dikaitkan dengan pertanda buruk, sehingga beberapa keluarga kerabat biasanya akan menunda acara besar (seperti pernikahan atau khitanan) untuk menghindari kesialan.
Tradisi Netepi: Mengapa Makam Harus Dijaga 40 Hari?
Sebagai respons langsung terhadap ketakutan akan pencurian jenazah oleh penganut ilmu hitam, lahirlah tradisi Netepi atau Ngelakoni.
Keluarga, dibantu oleh pemuda dan warga desa setempat, akan membangun tenda kecil di area pemakaman. Mereka bergantian berjaga siang dan malam di atas makam yang masih basah selama 7 hingga 40 hari berturut-turut. Secara rasional, tradisi ronda makam ini sebenarnya sangat masuk akal di masa lalu. Praktik pencurian makam oleh oknum yang tersesat dalam takhayul ilmu hitam memang pernah terjadi. Penjagaan ini adalah upaya fisik untuk mengamankan jenazah agar tidak dinodai.
Selain menjaga makam, tradisi ini biasanya diiringi dengan pembacaan Tahlil, doa, Yasinan secara intensif, dan pemberian sesajen (bunga setaman) di sekitar rumah untuk menenangkan arwah dan menolak bala.
Baca juga: 5 Arti Mimpi Melihat Diri Sendiri Meninggal Menurut Islam, Pertanda Apa?
Menjawab Mitos: Tinjauan Psikologi dan Agama Islam
Jika mitos ini ditelan mentah-mentah, dampaknya bisa sangat merusak secara psikologis. Keluarga yang sedang berduka justru ditambah bebannya dengan rasa cemas, ketakutan, dan bahkan merasa bersalah seolah mereka "membawa sial". Oleh karena itu, penting untuk melihat fenomena ini dari kacamata yang lebih luas.
Tinjauan Psikologis dan Sosiologis
Dari sudut pandang psikologi, mitos ini adalah bentuk coping mechanism cara manusia tradisional untuk menjelaskan dan mengendalikan rasa takut akan kematian yang penuh misteri. Sementara secara sosiologis, tradisi jaga makam 40 hari sebenarnya memiliki nilai positif: memperkuat solidaritas dan gotong royong antarwarga untuk menemani keluarga yang sedang berada di titik terendah kesedihannya.
Pandangan Agama Islam
Dalam ajaran Islam, segala bentuk takhayul yang meyakini bahwa hari tertentu membawa kesialan (syirik/tathayyur) sangat dilarang. Kematian dipandang murni sebagai takdir (Qada dan Qadar) Allah SWT yang sudah tertulis di Lauhul Mahfudz.
Tidak ada hari yang buruk untuk meninggal. Semua hari adalah milik Allah. Seseorang yang meninggal pada hari Selasa Kliwon tidak akan menjadi arwah gentayangan atau menanggung dosa karena hari kematiannya. Nasib seseorang di alam barzakh ditentukan oleh keimanan dan amal ibadahnya semasa hidup, bukan oleh hitungan kalender Jawa.
Oleh karena itu, tradisi menjaga makam boleh saja dilakukan jika niatnya murni untuk alasan keamanan fisik dan diisi dengan doa-doa kebaikan, bukan karena dorongan rasa takut terhadap hal gaib.
Mitos mengenai orang yang meninggal di hari Selasa Kliwon adalah warisan folklor Nusantara yang mencerminkan betapa kompleksnya sistem kepercayaan masyarakat Jawa dalam menghargai alam semesta dan dunia spiritual. Ketakutan akan pencurian tali pocong hingga tradisi jaga makam 40 hari adalah bukti sejarah dinamika sosial di masa lalu.
Namun, di era modern ini, sudah selayaknya kita menempatkan tradisi secara proporsional. Menghormati budaya leluhur adalah sebuah keharusan, namun membiarkan diri terbelenggu dalam ketakutan tak beralasan adalah sebuah kemunduran. Pada akhirnya, sekuat apa pun mitos sebuah hari, “Kematian bukanlah tentang di hari apa kita pergi meninggalkan dunia, melainkan tentang warisan amal kebaikan apa yang kita tinggalkan untuk dikenang selamanya.”
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan