Rabu, 01 OKTOBER 2025 • 14:15 WIB

Pesugihan Bererong di Bali: Kaya Sekejap, Tapi Diteror sampai ke Sanak Keluarga

Author

Ilustrasi Pesugihan Bererong di Bali. (Foto: Freepik @Freepik)

INDOZONE.ID - Wayan, seorang pemuda Denpasar, hidupnya berubah drastis dalam hitungan bulan.

Teman-temannya, Yan, Gede, dan Ketut, masih nggak habis pikir. Rumahnya kini lebih besar dari bendesa, pesta meriah, makanan lengkap, mobil berjajar di jalan. 

Semua orang heran, “Gimana bisa secepat ini?” Wayan tersenyum tipis, gelas araknya berputar pelan.

Rezeki itu datang kalau kita rajin cari kesempatan, katanya. Tapi sebenarnya, rahasia kekayaannya bukan cuma soal kerja keras tetapi juga pesugihan.

Yuk, simak kisah pesugihan barerong di Bali dilansir dari YouTube/OM BRIZZ OFFICIAL selengkapnya!

Baca juga: Kisah Mistis Jimat Sodo Lanang, Senjata Rahasia Penghancur Pesugihan

Malam Pesta yang Tak Biasa

Halaman rumah dipenuhi cahaya lampu warna-warni. Musik gamelan terdengar merdu, aroma sate dan lawar menggoda lidah. Tapi di tengah pesta, listrik tiba-tiba padam. 

Dentum gamelan terdengar dari arah yang aneh, bukan dari speaker. Tamu-tamu panik. Nah di pojok gelap, beberapa melihat sosok hitam besar dengan mata merah menyala. Wayan tahu siapa yang baru muncul, makhluk itu menagih janji.

Bayaran Pesugihan: Tumbal yang Menakutkan

Setelah pesta bubar, Wayan sendiri di rumah, bisikan makhluk itu terus menghantui. Ia harus memberikan tumbal, bukan sesajen biasa, tapi darah manusia. 

Mulai dari gelandangan di jembatan, sopir taksi, hingga teman dekatnya sendiri. Setiap tumbal mengalirkan kekayaan lebih cepat ke rekeningnya, tapi harga yang dibayar semakin berat mulai rasa takut, kesepian, dan trauma yang menempel setiap saat.

Kekayaan dan Kesepian

Bisnis Wayan meroket. Telepon tak berhenti berdering, pesanan dagang bertubi-tubi, mitra bisnis yang dulu menolak kini berebut kerjasama.

Tapi di balik semua itu, tubuhnya kurus, wajahnya pucat, mata merah karena kurang tidur. 

Sosok-sosok korban tumbalnya terus menghantui mulai muncul di jalan, di kaca spion mobil, bahkan di rumahnya sendiri. Kekayaan bertambah, tapi hidupnya hancur.

Baca juga: Pesugihan Tali Pocong: Teror Bau Darah dan Tangisan Arwah di Desa Karangom

Ilustrasi Pesugihan Bererong di Bali. (Foto: Freepik @Freepik)

Tekanan Maksimal: Keluarga Terlibat

Orang tua dan adik Wayan datang menginap, tapi rumah terasa dingin, suara tangisan muncul dari kamar kosong. Adiknya jatuh sakit, ibunya panik, ayahnya curiga. Wayan sadar, semua ini karena janji pesugihan yang ia buat. 

Dia harus melindungi keluarga, tapi makhluk Bererong menuntut lebih. Harga tumbal terakhir bukan orang lain, tapi dirinya sendiri, bahkan darah keluarga.

Titik Balik: Pilihan Hidup atau Mati

Wayan akhirnya mengambil keputusan ekstrem. Di malam purnama, ia membawa sesajen terakhir ke kuburan tempat ritual pertama dilakukan. Dengan tubuh gemetar dan air mata berlinang, Wayan menyerahkan dirinya. 

“Ambil aku saja, lepaskan keluargaku,” bisiknya di bawah cahaya bulan. Angin menderu, tanah bergetar, dan sosok hitam itu muncul, mata merah menyala.

Wayan terangkat ke udara, dikelilingi api biru. Semua warga desa yang lewat menjerit ketakutan.

Baca juga: Kisah Mistis Pesugihan Dawet Iblis: Ketika Manisnya Rezeki Berbalut Kutukan

Ilustrasi Pesugihan Bererong di Bali. (Foto: Freepik @Freepik)

Kekayaan instan memang menggoda, tapi harga yang harus dibayar bisa melebihi imajinasi.

Pesugihan Bererong bukan hanya soal materi, tapi juga kehancuran mental, fisik, dan hubungan dengan orang tercinta.

Wayan membuktikan, sekali melanggar batas alam, konsekuensinya bisa menjerat hidup sepenuhnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: YouTube

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU