INDOZONE.ID - Surat kabar kolonial pada Abad 19 mengalami perkembangan yang menarik jika kita cermati. Sebelumnya kemunculan media cetak semacam ini diawali dengan kedatangan mesin cetak yang dibawa oleh sekelompok misionaris Gereja pada tahun 1624.
Setelah bangkrutnya VOC, pemerintahan di Hindia Belanda diambil alih oleh sosok terkenal pencetus kerja rodi, Willem Daendels. Di masanya terbit surat kabar mingguan bernama Bataviasche Coloniale Courant yang memberikan berita dari pusat pemerintah koloni di Batavia serta banyak mengutip berita dari Eropa.
Perkembangan surat kabar sempat berubah arah pada tahun 1812 ketika Inggris berhasil menduduki Jawa, pada tahun 1816 koran Bataviasche Coloniale berubah nama menjadi Javasche Courant.
Baca Juga: Bongkar Fakta Gelap di Balik 5 Dongeng Anak, Jauh dari Happy Ending!
Dari koran Javasche inilah, pada 1845 sajak yang ditulis oleh tokoh politik etis, Douwes Dekker, tercantum dalam salah satu edisinya.Harga koran ini dipatok 0,25 gulden per eksemplarnya dan 25 gulden untuk berlangganan per tahun.
Setelah pengaruh–pengaruh liberal masuk, banyak pengusaha penerbitan yang berbondong – bondong mendirikan perusahaan pers mereka di Hindia Belanda.
Salah satunya ialah J.W. Bruining dengan koran Bataviasche Advertentieblad. Setahun kemudian namanya diganti menjadi Java Bode yang kelak menjadi koran paling berpengaruh hingga menjelang kemerdekaan Indonesia. Harga langganan per tahunnya berkisar antara 25 hingga 40 gulden.
Baca Juga: Kisah Mistis Prabu Siliwangi Melawan Macan Putih: Ujian Spiritual Sang Raja Sunda
Perkembangan surat kabar juga merambah di kota–kota pelabuhan Pantura. Di Semarang, ada seorang pengusaha bernama Herman de Groot yang mendirikan penerbitan de Groot, Kolff & Co.
Penerbitan tersebut mencetak koran yang dinamai De Locomotief, makna dari nama yang disematkan tersebut disinyalir sebagai bentuk perayaan pasca dibukanya jalur kereta Surakarta–Yogyakarta–Semarang, serta peringatan berdirinya Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij yang berkantor pusat di Lawang Sewu.
Koran De Locomotief mendapat ulasan baik oleh para pembaca, terutama pada masa pimpinan Brooshooft yang merupakan seorang pendukung politik etis hingga tahun 1896, sehingga berita yang mereka bawakan cenderung mendukung gerakan politik etis untuk kaum pribumi.
Sedangkan di Surabaya muncul surat kabar Soerabaiasch Handelsblad pada tahun 1865. Kemudian dilanjut Pembrita Bahroe pada 1881 yang membawakan warta ringan.
Baca Juga: Kisah Mistis Prabu Siliwangi Melawan Macan Putih: Ujian Spiritual Sang Raja Sunda
Bagaimana dengan nasib daerah luar Jawa yang lain? Menurut sumber yang didapat, surat kabar pertama kali terbit di Sumatera Barat dengan nama Soematra Courant pada 1859. Namun fokus pemberitaannya hanya seputar pengumuman pemerintah saja.
Surat kabar Soematra Courant ini nantinya akan merger dengan Nieuw Padangsch Handelsblad (sering memberitakan warta perdagangan dan iklan) dan berubah nama menjadi De Padanger yang terbit tepat pada tahun 1900.
De Padanger menjadi rival utama dengan surat kabar Soematra Bode, yang telah rilis sejak tahun 1892.
Sedangkan di Sumatera Utara, kita dapat menjumpai surat kabar Deli Courant yang terbit pertama kali pada 1885, dan Sumatra Post pada 1889.
Baca Juga: Kisah Mistis Prabu Siliwangi Melawan Macan Putih: Ujian Spiritual Sang Raja Sunda
Kedua koran ini berbeda jauh dari segi gaya pemberitaan, Deli Courant karena pemiliknya ialah pengusaha tembakau maka nyaris setiap edisinya terselip berita tentang budidaya perkebunan tembakau. Sedangkan Deli Courant cenderung lebih berani dalam mengkritik kebijakan pemerintah.
Dari nama–nama surat kabar diatas, mayoritas menggunakan bahasa Belanda jarang sekali yang menggunakan bahasa daerah. Namun terselip surat kabar berbahasa lokal.
Bromartani di bawah pimpinan C.F Winter terbit untuk pertama kali pada tahun 1855 di Surakarta dengan menggunakan bahasa Jawa kromo inggil.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber