Sabtu, 19 APRIL 2025 • 17:15 WIB

Seppuku, Ritual Bunuh Diri Samurai untuk Mati Terhormat di Jepang

Author

Ilustrasi samurai Jepang.

INDOZONE.ID - Para Samurai Jepang memiliki prinsip lebih baik mati terhormat dibanding menanggung aib seumur hidupnya. Ini adalah representasi klasik dari tingginya budaya malu di Negeri Matahari Terbit tersebut.

Secara harfiah, seppuku diterjemahkan sebagai "potong perut", sesuai dengan praktik menyayat perut seseorang. Ini adalah cara mati yang menyakitkan dan mengerikan demi memulihkan nama baik dari seorang samurai.

Seppuku dan harakiri sebenarnya memiliki makna yang sama dalam bahasa Jepang. Hanya saja, orang Jepang lebih sering menggunakan istilah seppuku dibanding harakiri.

Harakiri merujuk pada tindakan memotong perut, sedangkan seppuku adalah ritual dan prosedur pemotongan perut.

Baca Juga: Ryo Tatsuki Bikin Ramalan Mengerikan di Tahun 2025: Tsunami Dahsyat Ancam Jepang hingga Indonesia

Sejarah

Tradisi ini sudah ada sejak abad ke-12 sebagai cara bagi masyarakat kelas atas dan golongan samurai untuk menebus kesalahan demi mendapatkan kembali kehormatan mereka.

Menurut beberapa sumber, orang pertama yang melakukan harakiri adalah Minamoto no Yorimasa dalam pertempuran Uji tahun 1180.

Kata seppuku sendiri baru muncul pada akhir abad ke-15, setelah ritual bunuh diri pertama tersebut. Kemudian, pada abad ke-17 Ritual ini mulai sering dijadikan sebagai hukuman mati bagi para samurai.

Proses Ritual

Ritual ini memiliki banyak detail yang berbeda, tetapi ada beberapa hal yang umum dilakukan dalam prosedurnya.

Seorang samurai yang melakukan pelanggaran, tertangkap musuh, atau memiliki aib tertentu, akan dihukum atau secara sadar ingin mengakhiri hidup demi menebus kesalahannya.

Ia akan melakukan persiapan seperti memilih waktu dan menentukan hal-hal yang dibutuhkan dalam proses seppuku.

Samurai akan mengenakan kimono kematian berwarna putih dan diizinkan makan untuk terakhir kalinya. Ia juga diperkenankan untuk menulis puisi kematian yang akan diabadikan untuk generasi selanjutnya.

Adapun alat-alat ritual adalah pisau eksekusi yang disebut tanto dan sehelai kain sutra berbentuk persegi yang ditaruh di tanah sebagai tempat samurai berlutut dalam posisi seiza.

Seorang samurai akan membuka kerah kimononya untuk memperlihatkan perutnya, memegang tanto lalu menusukkan belati tersebut ke perutnya dengan bagian tepi menghadap ke atas.

Bagaimana ritual ini berlanjut tergantung pada samurai yang bersangkutan, ia harus menahan penderitaan selama mungkin tanpa kehilangan ketenangannya.

Saat penderitaan dirasa sudah sampai pada puncaknya, seorang kaishakunin akan menyayat leher si samurai supaya kepalanya jatuh tepat di hadapannya.

Baca Juga: Fakta Menarik yang Banyak Orang Ga Tahu Tentang Air Panas Alami di Jepang

Jaman Modern

Di era modern, praktik semacam ini sudah dianggap tidak relevan dengan perkembangan jaman. Budaya malu telah direpresentasikan dengan cara yang lebih manusiawi, tidak lagi dengan seppuku.

Tercatat seppuku terakhir dilakukan oleh Yukio Mishima seorang tokoh ideologi sayap kanan di Jepang. Ia memilih melakukan seppuku pada tanggal 25 November 1970 setelah tertangkap dalam upayanya melakukan kudeta terhadap pemerintah.

 


Banner Z Creators Undip.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Thecollector.com, Mai-ko.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU