Senin, 23 DESEMBER 2024 • 12:05 WIB

Mengupas Sejarah Perang Emu di Australia, Burung vs Manusia: Siapa yang Menang?

Author

Ilustrasi burung emu

INDOZONE.ID - Perang Emu atau dikenal dengan The Great Emu War merupakan gerakan militer untuk mengatasi permasalahan burung emu.

Emu merupakan jenis burung besar yang tidak dapat terbang di dunia, selain burung unta. Burung emu merupakan spesies burung asal Australia asli.

Emu menjadi masalah besar karena merusak banyak panen di bagian barat Australia. Para peternak mengeluh tentang kerusakan tersebut.

Baca Juga: John Bowie Dihukum 24 Tahun Penjara atas Pembunuhan terhadap sang Istri Roxlyn: Mayat Korban Diduga Jadi Pakan Babi

Perang Emu ini berawal di November 1932 saat tiga anggota dari Royal Australian Artillery turun untuk menyisihkan sekira 20.000 emu menggunakan senapan mesin (machine gun).

Setelah dua bulan perang, kurang dari 1000 emu terbunuh sehingga ini menjadi bahan ejekan nasional dan internasional untuk Australia.

Burung Emu di Australia

Habitat burung emu berada di Australia. Mereka cenderung tinggal di negara bagian utara, tenggara, dan selatan. Pada umumnya, emu akan bermigrasi ratusan kilometer untuk mencari makanan dan minuman.

Namun, pada 1922, pemerintah Australia mengubah status burung emu dari spesies yang harus dilindungi menjadi “hama” selepas mereka melakukan banyak kerusakan terhadap tanaman penting, seperti gandum.

Kawanan burung ini melobangkan pagar sehingga hewan lain bisa ikut merusak hasil panen. Tidak hanya itu, saat burung emu makan, mereka cenderung menginjak-injak tanaman lain sehingga membuat seluruh daerah tersebut rusak.

Kekeringan yang membuat ratusan burung emu bermigrasi ke sisi barat Australia, terjadi pada 1932. Alhasil, mereka merusak hasil panen para peternak, termasuk daerah Campion District.

"Hama" Campion District

Campion District merupakan tempat para veteran dan purnawirawan Perang Dunia I yang telah menetap di Australia sebagai bagian dari program pemerintah.

Mereka bukan petani yang berpengalaman. Tetapi, mereka sudah berjuang sejak awal. Banyak petani yang meninggalkan tanah mereka, saat terjadinya perang Emu.

Kerusakan yang mereka dapatkan membuat ekonomi menjadi terancam di tengah-tengah depresi besar atau keadaan krisis ekonomi pada 1929 hingga 1930-an.

Baca Juga: Sejarah Hari Ibu 22 Desember: Perjuangan Perempuan Indonesia untuk Kesetaraan

Para petani diberi izin untuk menembak dan membunuh para emu. Tetapi, perlengkapan mereka terbatas sehingga mereka harus meminta pertolongan dari pemerintah.

George Pearce, Menteri Pertahanan, menyetujui bantuan dengan beberapa syarat, seperti transportasi yang dibiayai oleh pemerintah Australia Barat, serta petani membayar dan menyediakan penuh makanan, akomodasi beserta amunisi.

Menurut Pearce, para emu juga dapat menjadi latihan menembak yang baik. Selain itu, menurutnya, dengan mengirimkan tentara profesional untuk membantu para petani, akan menunjukan pemerintah menanggapi kekhawatiran para veteran dengan serius.

Awal Perang Emu di 1932

Tiga anggota Royal Australian Artillery atau kelompok Angkatan Darat Australia pergi ke Campion District untuk membunuh para burung emu.

Operasi ini dipimpin oleh Mayor Gwynedd Purves Wynne-Aubrey Meredith sebagai komandan, Sersan S. McMurray dan Penembak J. O’Halloran.

Mereka juga menggaet seorang sinematografer dari Fox Movietone. Terdapat dua dua senapan mesin Lewis otomatis serta 10.000 butir amunisi, yang dibawa sebagai perlengkapan utama mereka.

Pada 2 November 1932, ketiga anggota tersebut membuat formasi dan strategi untuk membunuh 50 emu. Tetapi, nyatanya tidak segampang itu.

Pada saat ditembak, para burung emu melarikan diri. Burung emu mampu berlari hingga 50 km/jam dan gerakan mereka yang tidak menentu, membuat tembakan besar tidak bekerja secara efektif.

Pada 4 November 1932, mereka berencana untuk menyerang sumber air yang dipenuhi oleh para emu.

Para anggota militer menunggu agar ribuan emu mengumpul, tetapi gagal setelah salah satu tembakan besar mereka macet. Ujungnya, burung-burung tersebut kabur.

Para petani juga berupaya untuk mengusir para emu dengan truk, tetapi tidak efektif.

Baca Juga: Fakta Menarik Ceratophora Aspera: Kadal Langka yang Berkamuflase Menyatu dengan Alam

Senapan mesin lewis sempat dibawa ke atas truk untuk mempermudah tembakan, tetapi gagal. Burung emu bergerak lebih lincah ketimbang truk di atas medan yang kasar.

Terdapat permasalahan serius lainnya, yakni emu mempunyai kulit yang keras. Alhasil, jarang tembakan peluru membuat mereka mati atau cedera parah.

Para burung ini mempunyai kaki yang panjang serta penglihatan yang baik, sehingga menjadi sasaran sulit untuk para senjata Lewis yang bergerak lambat.

Taktik menggunakan tembakan besar dinilai tidak efektif. Beberapa emu akan terus berlari menghindari tembakan dan akan mati karena luka-luka yang dialaminya.

Pada 8 November 1932, banyak media meliputi kegagalan manusia dalam perang ini. Hal ini menjadi bahan ejekan kepada pemerintah. Meski demikian, para petani masih menuntut agar permasalahan ini teratasi.

Sekitar 300 emu yang berhasil dibunuh, dengan usulan Pearce untuk menambahkan amunisi. Diantara 12 November dan 10 Desember, Meredith mengonfirmasi, bahwa 986 emu terbunuh, dan bertambah 2.500 ekor yang meninggal akibat luka-luka.

Angka ini diperdebatkan, tetapi rasio peluru yang dikeluarkan untuk para emu dianggap terlalu tinggi demi membenarkan tindakan tersebut. Pada akhirnya, emu dianggap sebagai “pemenang” perang

Pasca Perang Emu

Selang dua tahun setelah Perang Emu, pemerintah mulai menyediakan amunisi kepada para petani dan menghadiahkan para pemburu emu. Para petani masih bergelut dengan burung ini menggunakan senjata.

Hingga enam bulan kemudian, para petani tercatat telah membunuh 57.000 burung emu. Perang melawan “hama” ini masih berlanjut hingga 1960, mencetak angka yang menyentuh 200.000 burung.

Satu-satunya pertahanan permanen yang efektif terhadap emu, adalah penempatan pagar luas dan jauh dari tanaman.

Namun, hal tersebut menjadi kontroversial karena dianggap membahayakan kelangsungan hidup emu sebagai spesies dengan cara mencegah mereka bermigrasi.

Hingga 1999, burung emu dilindungi secara resmi oleh pemerintah Australia melalui Undang-Undang Perlindungan Lingkungan dan Konservasi Keanekaragaman Hayati.

Penulis: Gadis Kinamulan Esthiningtyas

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Britannica, The Hindu

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU