INDOZONE.ID - Serial Peaky Blinders, termasuk filmnya Peaky Blinders: The Immortal yang tayang Maret 2026 di Netflix memang mengangkat kisah kriminal yang dramatis. Tetapi keberadaan geng bernama sama di dunia nyata bukanlah fiksi.
Di kota Birmingham pada akhir abad ke-19, benar-benar ada kelompok kriminal yang dikenal sebagai Peaky Blinders, meski kehidupan mereka tidak sepenuhnya seperti yang digambarkan dalam televisi.
Mengutip situs Historic UK, asal-usul nama “Peaky Blinders” sendiri masih belum pasti. Ada cerita populer yang menyebut mereka menjahit pisau cukur di topi mereka untuk melukai musuh, namun banyak sejarawan meragukan hal ini karena pisau cukur saat itu masih tergolong barang mahal.
Penjelasan yang lebih masuk akal adalah bahwa istilah “blinder” dalam bahasa gaul setempat merujuk pada seseorang yang tampil mencolok, sementara “peaky” kemungkinan berasal dari topi datar bertepi yang mereka kenakan. Nama ini kemudian melekat dan bahkan digunakan secara umum untuk menggambarkan geng jalanan di masa itu.
Kemunculan geng seperti Peaky Blinders tidak bisa dilepaskan dari kondisi sosial ekonomi Inggris pada masa Revolusi Industri. Kawasan-kawasan kumuh di sekitar Birmingham dipenuhi kemiskinan, pengangguran, dan minimnya kesempatan hidup yang layak.
Baca juga: Raymond Washington, Pendiri The Crips, Salah Satu Gangster Brutal di Amerika
Dalam situasi seperti ini, banyak anak laki-laki dan pemuda beralih ke kejahatan kecil seperti pencopetan sebagai cara bertahan hidup. Seiring waktu, kelompok-kelompok kecil ini berkembang menjadi geng yang lebih terorganisir dan semakin brutal.
Di jalanan Birmingham, kekerasan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Para anggota geng tidak hanya mencuri, tetapi juga melakukan perampokan, penyerangan, bahkan penusukan.
Mereka membentuk budaya tersendiri yang keras dan penuh persaingan. Peaky Blinders sendiri diketahui berasal dari kawasan Small Heath, dan pertama kali disebut dalam laporan surat kabar sekitar tahun 1890 terkait serangan brutal terhadap seorang warga.
Seiring berkembangnya waktu, geng ini memiliki struktur yang lebih jelas meski tidak formal. Anggotanya berasal dari berbagai usia, mulai dari remaja hingga pria dewasa.
Salah satu tokoh yang sering disebut sebagai figur penting adalah Thomas Gilbert, yang juga dikenal sebagai Kevin Mooney. Ia dianggap sebagai salah satu pemimpin yang membantu memperkuat pengaruh geng ini di wilayah Birmingham.
Persaingan antar geng menjadi hal biasa, terutama dalam perebutan wilayah. Daerah seperti Small Heath dan Cheapside menjadi pusat konflik dengan kelompok lain seperti “Cheapside Sloggers”.
Pertarungan antar geng ini sering disebut sebagai “perang wilayah”, di mana masing-masing kelompok berusaha mempertahankan kontrol atas area tertentu untuk menjalankan aktivitas kriminal mereka.
Kekuatan Peaky Blinders juga didukung oleh praktik korupsi. Mereka diduga menyuap berbagai pihak agar aktivitas mereka tidak diganggu.
Upaya penegakan hukum pun sering kali tidak efektif, bahkan ketika aparat mencoba memperkuat kontrol di kota tersebut. Kondisi ini membuat geng-geng seperti Peaky Blinders mampu beroperasi cukup lama tanpa hambatan berarti.
Selain dikenal karena kekerasan, Peaky Blinders juga menonjol dalam gaya berpakaian. Mereka mengenakan pakaian yang rapi dan mencolok seperti jas pas badan, rompi, sepatu bot kulit, serta topi datar khas.
Gaya ini bukan hanya soal penampilan, tetapi juga simbol status dan kekuasaan. Di tengah kemiskinan yang meluas, penampilan mewah menjadi cara untuk menunjukkan dominasi dan identitas mereka.
Dalam aktivitasnya, mereka tidak hanya terlibat dalam kejahatan jalanan seperti pencurian dan penyerangan, tetapi juga merambah ke praktik seperti pemerasan, penipuan, hingga penyelundupan. Meski begitu, kejahatan berbasis jalanan tetap menjadi ciri utama mereka.
Baca juga: Bloods, Gangster Unik Dengan Tampilan Serba Merah
Beberapa anggota geng sempat tertangkap oleh polisi, seperti Harry Fowles yang dikenal dengan julukan “Baby-faced Harry”. Namun, hukuman yang dijatuhkan sering kali ringan, sehingga banyak dari mereka kembali ke dunia kriminal setelah dibebaskan. Hal ini menunjukkan betapa sulitnya aparat mengendalikan aktivitas geng pada masa itu.
Memasuki awal abad ke-20, dominasi Peaky Blinders mulai melemah. Mereka mendapat tantangan dari geng lain yang lebih terorganisir, seperti kelompok yang dipimpin oleh Billy Kimber.
Kelompok ini kemudian mengambil alih sebagian besar kekuasaan di dunia kriminal Birmingham, sebelum akhirnya juga digantikan oleh geng lain di tahun-tahun berikutnya.
Meskipun kekuasaan Peaky Blinders tidak bertahan selamanya, pengaruh mereka dalam sejarah kriminal Inggris tetap besar. Gaya hidup, reputasi, dan kisah mereka terus dikenang, bahkan menjadi inspirasi bagi budaya populer hingga saat ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: HIstoric UK