INDOZONE.ID - Penaklukan Yogyakarta pada tahun 1812 menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah Jawa. Peristiwa ini menandai melemahnya dominasi kekuasaan lokal yang sebelumnya berada di bawah kendali Keraton Yogyakarta, sekaligus memperkuat pengaruh kolonial Inggris di wilayah tersebut.
Peristiwa ini tidak hanya dipicu oleh ambisi kolonial Inggris, tetapi juga dipengaruhi oleh konflik internal di lingkungan keraton. Ketegangan terjadi antara Hamengkubuwana II dengan putranya yang saat itu menjabat sebagai Raja Muda. Perselisihan ini memperlemah stabilitas politik di Yogyakarta dan membuka peluang bagi kekuatan asing untuk campur tangan.
Situasi semakin kompleks karena pada saat yang sama kekuasaan kolonial Perancis-Belanda di Hindia Belanda sedang mengalami kemunduran. Kondisi tersebut kemudian digantikan oleh masa pemerintahan Inggris yang dikenal sebagai periode interregnum Inggris di Jawa.
Invasi Inggris ke Jawa
Sebelum Inggris mengambil alih kekuasaan di Jawa, wilayah ini sempat berada di bawah pemerintahan kolonial Belanda yang dipimpin oleh Herman Willem Daendels. Setelah masa pemerintahannya berakhir, kekuasaan dilanjutkan oleh Jan Willem Janssens.
Namun pemerintahan Janssens tidak bertahan lama. Pada tahun 1811, Inggris melancarkan invasi besar-besaran ke Jawa dan berhasil mengalahkan pasukan Belanda. Kekalahan tersebut memaksa Janssens menyerah kepada Inggris dalam peristiwa yang dikenal sebagai Kapitulasi Tuntang.
Setelah kemenangan tersebut, Inggris secara resmi mengambil alih pemerintahan di Jawa. Tokoh penting yang memimpin administrasi kolonial Inggris saat itu adalah Thomas Stamford Raffles, yang kemudian menjabat sebagai Letnan Gubernur Jawa.
Serbuan Inggris ke Yogyakarta
Ketegangan politik di Keraton Yogyakarta dimanfaatkan oleh pemerintahan Inggris untuk memperkuat pengaruh mereka. Konflik antara Sultan dan Raja Muda dianggap sebagai peluang untuk menundukkan kekuasaan keraton yang selama ini relatif mandiri.
Pada 20 Juni 1812, pasukan Inggris yang sebagian besar berasal dari India di bawah pimpinan Robert Rollo Gillespiemelancarkan serangan langsung ke Keraton Yogyakarta.
Serangan tersebut berlangsung cepat dan terorganisasi. Pasukan Inggris berhasil menerobos pertahanan keraton dan menduduki pusat pemerintahan Yogyakarta. Peristiwa ini menjadi salah satu momen langka dalam sejarah Jawa karena Keraton Yogyakarta sebagai simbol kekuasaan politik dan budaya, berhasil diduduki oleh kekuatan asing.
Setelah penyerbuan tersebut, Sultan Hamengkubuwana II diturunkan dari takhta dan diasingkan. Inggris kemudian mengangkat putranya sebagai sultan baru, yaitu Hamengkubuwana III, dengan kekuasaan yang berada di bawah pengawasan langsung pemerintah kolonial Inggris.
Masa Kekuasaan Inggris di Jawa
Setelah berhasil menaklukkan Yogyakarta, Inggris melakukan konsolidasi kekuasaan di berbagai wilayah Jawa. Pemerintah kolonial di bawah Raffles menerapkan sejumlah kebijakan administratif untuk memperkuat kontrol mereka terhadap wilayah jajahan.
Salah satu kebijakan penting yang diperkenalkan adalah sistem sewa tanah atau land rent system, yaitu sistem pajak tanah yang mengharuskan para petani membayar sewa kepada pemerintah kolonial. Selain itu, Inggris juga melakukan reorganisasi birokrasi lokal dan memaksa keraton untuk menandatangani perjanjian baru yang membatasi kekuasaan tradisional para penguasa Jawa.
Langkah-langkah tersebut secara perlahan mengubah struktur politik dan ekonomi di Jawa, sekaligus memperkuat kontrol kolonial terhadap wilayah yang sebelumnya memiliki otonomi relatif.
Baca juga: Yogyakarta dan Republik yang Hampir Runtuh: Memori KLB di Stasiun Tugu 4 Januari 1946
Akhir Kekuasaan Inggris
Kekuasaan Inggris di Hindia Belanda tidak berlangsung lama. Melalui perjanjian internasional yang dikenal sebagai Perjanjian Inggris-Belanda 1814, Inggris sepakat untuk mengembalikan wilayah Hindia Belanda kepada Kerajaan Belanda.
Meskipun secara formal Inggris menyerahkan kembali kekuasaan pada 13 Agustus 1814, berbagai kebijakan dan perubahan yang mereka lakukan selama masa pemerintahan tersebut meninggalkan dampak yang cukup besar terhadap struktur politik, ekonomi, dan sosial di Jawa.
Pengalaman masa pemerintahan Inggris ini kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah kolonialisme di Indonesia, sekaligus memperlihatkan bagaimana konflik internal dan kepentingan global dapat memengaruhi dinamika kekuasaan di Nusantara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Researchgate