Kamis, 05 MARET 2026 • 16:18 WIB

Sejarah Kodifikasi Alquran: Dari Tulang hingga Mushaf Resmi

Author

Sejarah kodifikasi Alquran. (Dok. Freepik)

INDOZONE.ID - Alquran tidak turun sekaligus sebagai kitab jadi.

Proses pengumpulannya berlangsung lebih dari dua dekade dengan melibatkan 43 juru tulis, media seadanya seperti tulang dan pelepah kurma.

Alquran akhirnya menjadi mushaf standar yang dikirim ke seluruh penjuru dunia.

Alquran Tidak Langsung Jadi Sebuah Buku

Banyak yang tahu Alquran diturunkan bertahap. Tapi kenapa harus bertahap? Dan bagaimana prosesnya?

Dalam buku Ushul Fikih: Kajian Tentang Sumber Hukum Islam (2022), Syamsul Anwar menekankan bahwa Alquran tidak diturunkan sebagai sebuah kitab yang langsung jadi, melainkan turun secara berangsur-angsur selama kurang lebih 23 tahun.

Proses panjang itu bukan kelemahan, justru itu strateginya.

Wahyu yang turun perlahan memberi ruang bagi masyarakat Arab abad ke-7 untuk menyerap hukum dan nilai moral secara organik, bukan sekaligus seperti undang-undang yang dipaksakan.

Baca juga: Misteri di Balik Arti Mimpi dan Macam-macamnya dalam Alquran hingga Psikologi Modern

Baca juga: Sejarah Turunnya Alquran yang disebut Nuzulul Quran, Terjadi pada 17 Ramadhan

Dua Fase Besar, Mekkah dan Madinah

Secara periodisasi, wahyu terbagi dalam dua fase. 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah. Perbedaannya bukan cuma soal lokasi.

Ayat-ayat Makkiyah dominan berbicara soal fondasi kepercayaan, siapa Tuhan, apa itu iman, bagaimana manusia harus bersikap.

Sementara ayat-ayat Madaniyah mulai masuk ke wilayah yang lebih teknis.

Regulasi sosial, hukum perdata, hingga tata kelola komunitas.

Pola ini menarik jika dibaca dari perspektif hukum modern.

Alquran sejak awal tidak bicara di ruang hampa. Ia merespons kebutuhan nyata manusia pada zamannya.

Lima ayat pertama Surat Al-Alaq yang turun di Gua Hira menjadi titik awal segalanya. Perintah iqra, yang berarti baca, bukan kebetulan menjadi wahyu pertama.

43 Juru Tulis, Media Seadanya

Di masa Nabi Muhammad SAW,, dokumentasi Alquran sudah berjalan, meski kondisinya jauh dari ideal.

Rasulullah menunjuk sekitar 43 juru tulis wahyu.

Di antaranya nama-nama besar. Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, dan Zaid bin Sabit.

Mereka menulis di atas apa saja yang tersedia.

Pelepah kurma yang dikeringkan, potongan tulang pipih, batu ceper, kulit binatang. Kertas belum tersedia secara luas di Jazirah Arab kala itu.

Catatan-catatan itu masih tersebar. Tapi akurasinya terjaga lewat sistem lain yang sama kuatnya, yakni hafalan massal para sahabat.

Krisis Pasca Wafatnya Nabi Muhammad

Saat Nabi Muhammad wafat, situasi berubah cepat.

Dalam perang melawan pemberontakan pasca-wafat Nabi, banyak penghafal Alquran gugur di medan perang.

Umar bin Khattab mulai khawatir. Bagaimana jika sumber hukum utama Islam ini hilang bersama para penghafalnya?

Atas desakan Umar, Khalifah Abu Bakar menugaskan Zaid bin Sabit untuk mengumpulkan seluruh catatan yang berserakan.

Zaid tidak main-main dalam tugasnya. Dia menerapkan standar pembuktian ketat, setiap ayat harus didukung bukti fisik tertulis yang dibuat langsung di hadapan Nabi, bukan sekadar ingatan seseorang.

Ini yang membuat proses kodifikasi awal ini berbeda dari sekadar kompilasi biasa.

Mushaf Usmani Jadi Standarisasi untuk Dunia Islam

Masalah baru muncul di era Khalifah Usman bin Affan. Islam berkembang ke luar Jazirah Arab, dan perbedaan dialek mulai memicu perdebatan soal cara baca Alquran yang benar.

Usman membentuk tim. Lagi-lagi dipimpin Zaid bin Sabit untuk menyalin ulang naskah dari masa Abu Bakar menjadi beberapa salinan standar.

Salinan itu dikirim ke kota-kota besar Kufah, Basrah, Syam, dan Mekkah. Satu salinan ditinggal di Madinah.

Mushaf Usmani iniliah yang kini menjadi versi standar yang menjadi acuan hingga hari ini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Muhammadiyah

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU