Kamis, 26 FEBRUARI 2026 • 11:00 WIB

Sejarah dan Makna Sakral Tembok Ratapan di Yerusalem yang Dikaitkan dengan Tembok Ratapan Solo

Author

Ilustrasi Tembok Ratapan di Yerusalem. (Freepik)

INDOZONE.ID - Baru-baru ini, jagat maya dihebohkan dengan istilah 'Tembok Ratapan Solo' yang merujuk pada pagar kediaman Presiden ke-7 RI, Joko Widodo. 

Julukan ini mencuat setelah sebuah video viral memperlihatkan seorang pemuda yang beraksi layaknya sedang meratap di depan gerbang tersebut, memicu diskusi luas tentang batas antara humor dan penggunaan simbol religi. 

Meski populer sebagai konten media sosial, penting untuk dipahami bahwa istilah ini berakar dari situs suci nan sakral di Yerusalem yang menjadi kiblat spiritual umat Yahudi. Mari kita telusuri lebih jauh sejarah mendalam di balik Tembok Ratapan yang asli.

Baca juga: Asal-Usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia, Ini 4 Teori yang Perlu Diketahui

Sejarah Awal Tembok Ratapan di Yerusalem

Dikenal sebagai Western Wall atau Tembok Ratapan, situs ikonik di Kota Tua Yerusalem ini merupakan pusat spiritualitas terdalam bagi umat Yahudi. 

Secara arsitektural, tembok ini bukanlah struktur utama dari Bait Suci, melainkan sisa-sisa dinding penahan yang dahulu mengelilingi Bukit Bait Suci (Temple Mount). 

Dari kemegahan kompleks masa lalu yang kini telah tiada, bagian dinding inilah yang secara ajaib tetap kokoh berdiri melintasi zaman.

Secara historis, Tembok Barat merupakan bagian dari infrastruktur pendukung yang dibangun untuk memperluas area pelataran Bait Suci pada masa pemerintahan Herodes Agung. 

Keberadaannya saat ini menjadi sangat krusial karena merupakan sisa arsitektur yang selamat dari kehancuran Yerusalem oleh Jenderal Titus selama Perang Yahudi-Romawi Pertama. 

Nilai spiritualnya yang tinggi menjadikan situs ini magnet ziarah internasional. Selain menjadi lokasi upacara militer dan tradisi Bar Mitzvah, fenomena menyelipkan doa kertas di dinding tersebut telah menjadi simbol universal dari komunikasi spiritual manusia dengan Sang Pencipta.

Alasan Kenapa Disebut Tembok Ratapan

Istilah “Tembok Ratapan” berasal dari sebutan para pelancong Eropa abad ke-19 yang melihat umat Yahudi berdoa sambil meratapi kehancuran Bait Suci. 

Dalam bahasa Prancis disebut le mur des lamentations dan dalam bahasa Arab dikenal sebagai el-Mabka yang berarti “tempat menangis,” sehingga istilah tersebut populer di dunia Barat.

Namun, dalam bahasa Ibrani, nama aslinya adalah Kotel Ma’aravi, yang berarti “Tembok Barat,” merujuk pada letaknya di sisi barat kompleks Bukit Bait Suci. Sebutan inilah yang digunakan umat Yahudi hingga kini.

Kata “ratapan” sendiri menggambarkan tradisi berkabung atas kehancuran Bait Suci sekaligus menjadi simbol kerinduan spiritual dan harapan akan pemulihan Yerusalem serta pembangunan kembali Bait Suci.

Hubungan Tembok Ratapan dengan Bait Suci Yahudi

Untuk memahami arti penting Tembok Ratapan, perlu menelusuri sejarah Bait Suci dalam tradisi Yahudi. Bait Suci Pertama yang didirikan Raja Salomo menjadi pusat peribadatan hingga dihancurkan oleh Babilonia pada 587–586 SM. 

Beberapa puluh tahun kemudian, Bait Suci Kedua dibangun kembali dan rampung sekitar 516 SM, menandai bangkitnya kembali kehidupan keagamaan Yahudi di Yerusalem.

Berabad-abad setelah itu, pada masa Raja Herodes, Bait Suci Kedua diperluas secara besar-besaran menjadi kompleks yang megah. Dalam proses perluasan tersebut dibangun dinding-dinding penopang raksasa di area Bukit Bait Suci. 

Tembok Ratapan merupakan bagian dari dinding penahan itu. Walaupun bukan bagian dari ruang utama ibadah, tembok ini menjadi sisa fisik terdekat dari pusat spiritual yang pernah berdiri di tempat tersebut.

Tembok Ratapan terletak di sisi barat Bukit Bait Suci yang kini juga mencakup kawasan Masjid Al Aqsa. Karena posisinya paling dekat dengan lokasi Bait Suci kuno, tempat ini diyakini memiliki tingkat kesucian yang tinggi. 

Dalam tradisi rabinik, bahkan disebutkan bahwa kehadiran ilahi tidak pernah meninggalkan Tembok Barat.

Baca juga: Sejarah Pembelahan Sunni dan Syiah: Akar Perpecahan yang Membentuk Dunia Islam Sekarang

Lebih dari sekadar bangunan batu berusia ribuan tahun, Tembok Ratapan menjadi simbol keteguhan iman, identitas, dan harapan umat Yahudi sepanjang sejarah. 

Ia mengingatkan pada kehancuran masa lalu sekaligus mencerminkan keyakinan spiritual yang terus bertahan hingga kini.

Itulah kisah panjang di balik Tembok Ratapan di Yerusalem, dari awal mula berdiri hingga menjadi pusat doa bagi banyak orang. 

Ternyata, maknanya jauh lebih kaya dan sakral dibanding apa yang mungkin kita lihat di konten media sosial belakangan ini. Semoga artikel ini bisa menambah pengetahuan kamu tentang sejarah dunia, ya!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Britannica.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU